Rainy Couple

Rainy Couple
PIL / WIL


__ADS_3

Di depan pintu masuk Rainbow Caffee, Matias dan Nabilah saling berpandangan. Matias jadi terbatuk-batuk. Sementara Nabilah menundukan kepalanya.


"Nab," ujar Matias sedikit berdeham. "Makasih yah udah ngebayarin gue barusan. Harusnya pihak cowok yang ngebayarin ceweknya."


Nabilah terkekeh-kekeh. "Cara lu ngomong itu bikin gue ngerasa lu itu cowok gue."


Matias ikut tertawa. "Masa sih?"


"Iya, Yas. Dan, lu tetap sama aja kayak Matias yang gue kenal dulu." kata Nabilah, yang sekonyong-konyong mengedipkan sebelah mata.


"Lu juga, Nab. Lu masih sama kayak dulu. Cuman lu--gue rasa--cewek yang gue bisa nyaman ngobrolnya."


"Haha..... emang Kezia gak bisa bikin lu nyaman?"


Matias sedikit menundukan kepalanya. Dia menggigit bibir bawahnya. Tak berani dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Kezia. Sampai kapan Thalia terus menerus memusuhi dirinya?


Nabilah menepuk bahu Matias. "Gue tahu. Tadi lu juga udah cerita kan. Lagi ada masalah kan. Kalau lu mau, gue bisa stand by dengerin curhatan lu. Siapa tahu kalau dengar dari cewek, lu pelan-pelan bisa makin ngertiin Kezia."


Astaga! Nabilah salah duga. Matias sama sekali tak memiliki masalah serius dengan Kezia. Matias memiliki masalah dengan kakaknya Kezia yang bernama Thalia. Haruskah Matias menceritakan detailnya?


"Sabar, Yas. Cewek gitu biasanya. Kayak judul lagu ADA Band itu, yang 'manjakan dia dengan kasih sayang'." ucap Nabilah yang di bagian 'manjakan...' tersebut, perempuan itu memilih untuk bernyanyi. Beberapa pengunjung jadi memperhatikan.


Matias terbahak. Laki-laki itu memutar bola matanya. Pandangannya sedikit teralihkan ke arah lain. Kedua matanya mengawang-awang. Matias tersenyum getir.


"Yas,... hey, jangan ngelamun lu, awas kesambet," celetuk Nabilah.


Matias kembali tertawa. Tertawa yang sangat lepas, yang kalau dirinya pikir-pikir lagi, semenjak ayah Kezia meninggal, sudah lama Matias tak tertawa selepas itu. Bukan Kezia penyebabnya, namun cinta masa lalunya (yang dulu berstatus HTS).


Teruntuk Nabilah

__ADS_1


Nabilah,.....


Andai kamu tidak pergi begitu saja dari hidupku


Andai kamu memberiku sebuah kepastian


Andai aku juga lebih berani dan jujur terhadap perasaanku sendiri


Nabilah,.....


Aku begitu tersiksa saat kamu pergi tanpa kabar


Aku sangat terganggu dengan rasa tertinggal yang tanpa kepastian ini


Aku marah kepada diriku sendiri


Nabilah Angela Siregar,


ingin 'ku kembali ke masa tersebut


tak akan kubiarkan kamu hilang dari pandanganku


walau itu untuk sekejap saja


❤❤❤❤❤


Di apartemen Cindy,


"Gimana jalan-jalannya?" tanya Cindy ke adiknya dan perempuan yang hendak dijodohkan.

__ADS_1


Kezia hanya tersenyum.


"So far, so good," Tobias memutar bola mata, lalu mengedipkan mata ke arah Kezia. "Ya kan Kezia?"


Kezia tertawa terbahak-bahak. Sok sekali Kezia yang mengikat rambutnya dengan ikat rambut--yang merupakan pemberian Matias.


"Wah, wah, makin akrab nih kalian berdua," ujar Cindy nyengir. "Terus temani Kezia yah, Toby. Sebelum berangkat, kamu dengar sendiri pengakuan kakaknya, Kezia baru putus. Bantu dia move on."


Move on apanya Kak, mereka berdua emang nggak pernah putus kok, batin Tobias yang sedikit kecewa. Bagi Tobias, Kezia itu sosok perempuan yang luar biasa. Baru kali pertama ini Tobias juga menemukan perempuan yang memahami dunia fotografi.


"Iya, Kak." Lain di hati, lain di bibir, begitulah manusia. Itulah yang dialami oleh Tobias. "Oh iya, Kezia, kamu mending mandi dulu. Bau banget kamu."


"Iya, makasih udah diingatkan." balas Kezia tersenyum.


Tak hanya Cindy dan suaminya, Lucy dan Thalia yang memperhatikan pun juga terbengong-bengong. Mereka semua bertanya-tanya apa saja yang baru saja dialami oleh Tobias dan Kezia.


Desahan Tobias


Aku tahu


Dirimu sudah dimiliki


Aku hanya bingung


Mengapa perasaan ini datang padaku


Mengapa juga harus dia


Dia sahabatku

__ADS_1


Dan, aku jatuh cinta dengan pacar sahabat sendiri


Mengapa ini harus terjadi padaku


__ADS_2