
Di Rainbow Caffee,
"Gokil lo, Key!" sembur Beby, yang terkekeh-kekeh. "Ada angin apaan sih? Kezia yang gue kenal, eh mendadak sesangar itu. Lu kemasukan apaan?"
Ivy ikut tertawa pula sampai perempuan bermata sipit dan kulit yang begitu putih nan mulus itu tersedak. Kezia langsung memukul-mukul pundak Ivy.
"Hati-hati, Vy," Kezia nyengir. "Kayak gak pernah minum Dalgona Coffee aja. Kita kan udah lumayan sering minum Dalgona Coffee."
Ivy tarik-embus napas. Pernapasan Ivy mulai membaik. "Lu juga sih, Key!"
"Nih anak kenapa sih? Lu kenapa sih, Vy?" ujar Kezia tertawa, bingung pula.
"Kezia, Kezia," Beby menggeleng-gelengkan kepala. Perempuan yang berambut sebahu tersebut begitu gemas dengan apa yang baru saja dialami oleh Kezia.
__ADS_1
Ketiga perempuan itu kini terdiam. Mereka bertiga hanyut dalam lamunan. Namun, dalam sebuah keheningan, sepertinya mereka kompak sekali. Mereka bertiga sehati dan sepikir sepertinya--yang sama-sama memikirkan kejadian tersebut.
Harusnya jika sesuai dengan kesepakatan, Kezia tak harus memukul keras perut Nabilah hingga teman masa kecil Matias itu kesakitan. Seharusnya Kezia cukup menghampiri Nabilah dan melabraknya yang tengah bermesra-mesraan dengan pacarnya, Matias. Kalau Kezia rada segan, Beby siap membantu. Beby Vanesha memang terkenal dengan kemampuannya menghardik. Mulut pedasnya sangat terkenal hingga ke mana-mana. Yang bakal ditambah oleh kemampuan Selviana Kencana (alias Ivy) yang sangat piawai dalam mengompori. Namun di luar dugaan, Kezia malah mempercepat langkah, berdeham untuk memberikan semacam peringatan, blablabla sedikit, dan tinju langsung melayang ke perut Nabilah. Itu di luar skenario awal mereka bertiga.
"Lu gak tahu, Key?" ujar Ivy yang sibuk membersihkan mulutnya dari bekas krim Dalgona Coffee. "Yang namanya Nabilah itu sampai masuk rumah sakit? Hayo loh..."
Kezia sedikit merinding. "Seriusan? Masa sampe segitunya tinjuan gue ke perutnya?"
Beby mengangguk-angguk. "Iya, Key, yang gue denger gitu. Katanya sih, sakit usus buntu."
"Ivy!" sembur Beby. "Lu itu yah, jangan bikin runyam suasana!"
"Sori, maksud gue kan baik, Beb. Setidaknya nunjukin kalau lu waktu itu khilaf dan nunjukin lu beneren nyesel udah ninju dia." ucap Ivy membeberkan alasannya.
__ADS_1
"Yah, tapi gak sekarang juga kali. Nanti kalau Kezia ketemu sama orangtuanya Nabilah gimana? Bisa berantem yang ada dan masalahnya jadi tambah rumit. Kacau lu ah, Vy, mikirnya." tangkis Beby.
Sementara, si pusat perhatian malah melamun tak jelas. Sesekali Kezia menyesap Dalgona Coffee kepunyaannya. Sesekali Kezia mengangguk-anggukan kepalanya--sebagai tanda dirinya mendengarkan obrolan Beby dan Ivy. Kezia lalu memandangi kipas angin yang putarannya itu sangat berisik.
Pihak pengelola kafe mendadak mengganti lagu. Dari lagu klasik berjudul "Nothing's Gonna Change My Love for You" (yang dipopulerkan oleh George Benson) menjadi Rapsodi. Ah, mungkin karena kebanyakan pengunjungnya merupakan remaja, tak ada salahnya memasang lagu yang cukup populer di kalangan mereka. Lagu itu cukup sering diputar di televisi awal tahun lalu, kan.
"Key," kata Ivy yang berhenti berdebat dengan Beby. "Lu kenapa nangis, sih? Itu kan cuma lagu dari girlband, Key. Ah elah, mellow banget, sih. Cuman lagu, lagu."
Beby tergelak lepas yang akhirnya malah mengundang perhatian sekelompok remaja berkaus merah yang satu-dua di antaranya asyik memainkan lightstick. Mungkin para remaja laki-laki tersebut belum pernah melihat perempuan cantik yang tertawa lepas seperti itu.
Sontak Beby melotot. Para remaja lelaki itu langsung bergidik. Walau memiliki mantan yang lumayan banyak, jangan salah, Beby juga terkenal galak. Kalau judesnya sudah keluar, mulut bawelnya beraksi, tamatlah riwayat kalian. Kalau tak mampu, berani sumpah badan kalian akan menciut seketika.
"Lu kenapa sih, Key?" desis Beby yang masih menanggung malu akibat kebiasaan buruknya tersebut. "Benar yang dibilang Ivy. Kok lu malah nangis? Emang sih lagunya enak banget iramanya. Walau lagunya rada lebay. Masa ampe bikin bumi berputar? Apa ada bahagia yang kayak gitu?"
__ADS_1
Kezia tak bisa mengutarakan isi hatinya kepada dua sahabatnya tersebut. Dan, apa yang tak bisa diutarakan itu, Kezia merasa terkhianati. Perempuan itu merasa Matias sudah melanggar janji dan kepercayaannya.