Rainy Couple

Rainy Couple
[SEASON 2, EPS 7] Curahan Hati Seorang Nabilah


__ADS_3

"Oh, jadi, kamu sebetulnya udah bisa move-on dari yang namanya Matias atau belum, nih?" tanya Eko yang mengisap rokoknya kuat-kuat, lalu mengembuskan asapnya, yang tanpa sengaja asapnya malah lari ke arah Nabilah.


Nabilah terbatuk-batuk. "Uhuk, uhuk, uhuk,... Ko, asepnya jangan diarahin ke arah sini, bisa nggak?"


Eko nyengir. "Maaf, Jeng, maaf. Eh, jadi gimana? Pertanyaan aku tadi gimana? Kamu udah bisa move-on atau belum?"


Nabilah menghela napas, sewot. Kepalanya lalu ditengadahkan ke arah atas. Nabilah menatap satu-dua lampu jalanan yang ternyata cukup harmonis dengan langit malam hari ini. Kota Jakarta memang agak semrawut, namun bisa terlihat indah di beberapa kesempatan.


Eko mematikan rokoknya dan membakar sebatang rokok lagi. "Tapi, yang aku lihat, kamu belum bisa move-on, yah. Eh, maksud aku, yang aku simak, kamu belum bisa move-on dari si Matias itu. Buktinya kamu masih suka nemuin Matias. Kamu udah tahu dia masih ada hubungan dengan cewek namanya Kezia itu, dan kamu malah curi-curi kesempatan ngehubungin dia."


Kedua mata Nabilah langsung melotot.


"Ya, maaf, Jeng," ujar Eko nyengir. "Aku cuma menyampaikan kesan-kesan aku aja secara apa adanya. Aku nggak ada maksud menghakimi kamu, loh, Jeng."

__ADS_1


"Ko, lu paling bisa, yah, kalau ngomong," Nabilah nyengir dan mendesah lagi.


Eko menahan diri untuk tidak mengisap rokoknya lagi. Ia tersenyum ke arah Nabilah, lalu merangkul bahu Nabilah. "Yah, semangat aja, Jeng. Mohon maaf juga, aku nggak bisa bantu banyak selain jadi tembok curhat kamu. Yang aku rasa, sih, jawabannya itu berada di dalam diri kamu. Kamu lebih tahu. Aku nggak berani ngomong panjang lebar, takut salah ngomong."


"Nggak nganggep gue pelakor juga, kan?" terka Nabilah getir. Nabilah sepertinya tahu isi hati Eko. Ingin marah, namun Eko ini teman yang cukup baik. Nabilah seharusnya bersyukur Eko sudah memberikan kesempatan kepada Nabilah untuk melampiaskan seluruh kegundahan hatinya.


Eko mengangkat bahu. "Kamu sendiri yang lebih tahu. Aku takut buat ngomonginnya. Lagian..."


"Thank's, Ko," ucap Nabilah yang mendadak sorot matanya menjadi sendu. Tanpa sadar Nabilah malah menyenderkan kepalanya ke bahu Eko.


"Ya, ampyun, dia malah nyender ke aku," Eko tertawa dan membelai-belai rambut Nabilah yang sudah memendek. "Udah gini, aku kok jadi pengen insyaf, yah. Jadi pengen rasain pacaran sama cewek tuh gimana. Apa kamu pacaran sama aku aja, kali, daripada sama Matias itu?"


Nabilah sontak melepaskan tubuhnya dari bahu Eko. Ia memukul punggung Eko. "Ngaco aja, deh, kalo ngomong. Trus, cita-citanya buat operasi kelamin di Bangkok gimana?"

__ADS_1


"Aduh, untung diingetin," Eko menepuk dahinya. "Eh tapi, Jeng, kalau boleh kasih saran, ya udah, lah, yah, laki tuh banyak. Nggak harus Matias juga, kan. Apalagi kamu masih tinggal bareng mama kamu, kan. Mending ngejauh aja dulu dari Matias. Batasi komunikasi sama dia."


Entah kenapa kali ini Nabilah malah tertawa. Dan, menghela napas lagi. Langit malam menjadi fokus kedua mata Nabilah selanjutnya.


Eko merangkul bahu Nabilah lagi, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Nabilah. "Dilihat dari sisi manapun, mungkin orang lain juga berpandangan yang sama, posisi kamu agak mirip pelakor, loh. Udah tahu Matias punya Kezia, kamu malah suka hubungin Matias di balik layar. Dan, hidup seorang pelakor itu sebetulnya nggak enak. Terus menerus ngerasa dikejar-kejar."


"Gitu, yah, Ko,"


Eko hanya tersenyum dan mengangguk.


Nabilah menghela napas dan tersenyum.


"Demi kebaikan kamu juga, Jeng,"

__ADS_1


__ADS_2