Rainy Couple

Rainy Couple
Penantian Nabilah - 4


__ADS_3

Di Bandara Soekarno-Hatta,


Nabilah berhenti sejenak. Dirinya menoleh ke belakang. Sepertinya ia tengah melupakan sesuatu (atau seseorang?). Ia menebar senyum ke arah..--yang entah ke siapa. Kedua matanya menitikan air mata.


"Nab," tegur Nabit. "Ada apa? Kok lu malah ngelamun?"


Nabilah spontan menggeleng, tersenyun. "Gapapa, Bit. Gue gapapa."


"Seriusan? Lu beneren gapapa?" Tergesa-gesa Nabit mengambil tisu dari dalam tas selempangnya. Abangnya itu memang hobi sekali mengenakan tas selempang.


"Nih, hapus dulu tuh air mata lu," saran Nabit. "Lu kenapa sih? Ada yang mengganjal? Perasaan lu fine-fine aja kemarin-kemarin. Eh, sekarang malah melankolis gini. Oh gue tahu, lu baru keinget lu ada cowok? Kok gak pernah bilang-bilang lu udah punya cowok? Gue kira lu jomlo."


Nabilah langsung menyambit abangnya itu dengan majalah Gadis terbaru yang kavernya itu adalah wajahnya. Akhirnya, wajah Nabilah berhasil terpampang di kaver majalah Gadis bulan November yang lalu. Saking senangnya, majalah itu sampai lecek, yang saking seringnya dibolak-balik.


"Auw!" Nabit mengerang kesakitan. "Sakit, Nab! Garang amat sih jadi cewek! Padahal bulan lalu udah jadi model majalah Gadis!"

__ADS_1


Nabilah hanya memonyongkan bibir. Keduanya matanya melotot. Abangnya main ditinggalkan begitu saja. Jalannya dipercepat untuk menyusul kedua orangtuanya. Kebetulan ibunya memang memanggilnya.


"Nabilah! Nabit! Buru-lah kalian ke mari! Cepat sikit jalan kalian! Ketinggalan pesawat kita nanti!"


"Iya, Mak. Bang Nabit nih, jail mulu!" seru balik Nabilah dengan suara yang tak kalah nyaring.


"Apa pula kalian ini? Ribut melulu kalian! Hoy, Nabit, jangan kau jahili terus adik kau. Akur sikit kenapa. Pusing kepala Mamak ini!"


Sementara ayah Nabit dan Nabilah hanya menggeleng-gelengkan kepala, nyengir sebentar, lalu kepalanya kembali terarah ke ponsel.


Melihat abangnya yang kerepotan berlari, Nabilah sontak tersadar siapa yang dirinya lupakan. Itu adalah laki-laki Batak bermarga Sinaga yang jago menggambar sambil makan bakso. Siapa lagi kalau bukan Matias Immanuel Sinaga, temannya yang hobi main game dan menonton animasi.


Aduh, Nabilah merasa sangat berdosa sekali. Dia baru sadar dirinya belum pamit ke sahabatnya tersebut. Bahkan, Nabilah mendadak teringat sesuatu. Tapi, Nabilah ragu apakah yang seperti itu bisa disebut sebagai sebuah confession. Ditembak itu seperti apa rasanya? Apakah yang terjadi saat itu sudah bisa dibilang 'ditembak'? Yang Nabilah tahu, semenjak kejadian saat jam Matematika tersebut, dirinya jadi makin dekat dengan Matias. Teman-temannya sering menjodoh-jodohkan dirinya dengan Matias.


Nabilah menerawang ke atap bandara. Dia menggumamkan sesuatu dalam hati. Gumamnya, Matias, gue kayaknya naksir sedikit sama lu. Eh, waktu itu, lu lagi nembak gue yah? Sori, gue belum ngasih jawabannya. Bukannya gantungin lu, tapi gue beneren bingung dan gak tahu.

__ADS_1


"Aduh!" Nabilah tersadar dari lamunannya. Ternyata Nabit iseng menarik kuncir rambutnya.


"Rasain tuh!" seru Nabit. "Pembalasan dari gue, Nab. Jangan pernah kurang ajar sama Abang sendiri."


"Yeeee!!!" balas Nabilah sengit.


"Nabilah, Nabit,..." kata ayah mereka berdua dengan senyum paling hangat. "Sudah, kalian jangan berantam melulu. Mamak kalian saja pusing, apalagi Bapak."


💜💜💜💜💜


Nabilah cengar-cengir sendiri mengingat kejadiannya saat itu. Dia kembali ke perasaan bersalahnya saat itu. Ah, andai dirinya lebih peka lagi. Andai dirinya sudah lumayan paham mengenai cinta (padahal hobi membaca majalah remaja). Dan, sederetan pengandaian lainnya muncul di pikirannya.


Namun, sudahlah. Sekarang, dengan rencana pacar pura-puranya tersebut, Nabilah merasa tengah berada di atas angin. Harapannya langsung membumbung tinggi. Mungkinkah ini jalan Tuhan atas persoalan asmaranya yang terdahulu?


Dia langsung mengambil ponsel. Ia pasang lagu "Jodoh Pasti Bertemu" yang dipopulerkan oleh Afgan Syahreza. Dia menyanyikan lirik awalnya.

__ADS_1


"...andai engkau tahu betapa 'ku mencinta. Selalu menjadikanmu isi dalam doaku. 'Ku tahu tak mudah menjadi yang kau minta. 'Ku pasrahkan hatiku, takdir kan menjawabnya..."


__ADS_2