Rainy Couple

Rainy Couple
Selamat Tinggal, Matias - 4


__ADS_3

Nabilah tengah memandangi foto Matias yang tersimpan di dalam ponselnya. Itu saat Nabilah tengah menonton film bareng Matias di sebuah bioskop. Film yang mereka tonton juga cukup bagus. Saking bagusnya, Nabilah beberapa kali loncat ke dada Matias--atau setidaknya, bahu Matias.


Foto itu juga bermasalah sebetulnya. Sebab, di dalam studio tersebut, ada Kezia pula. Sayangnya, baik Matias maupun Nabilah, keduanya sama-sama tidak menyadari. Padahal Kezia duduk di belakang persis Nabilah. Ah, kenapa Kezia tak melabrak Nabilah saja, terutama saat Nabilah membersihkan pipi Matias dari muncratan kola. Di mata Kezia, mungkin itu terlihat seperti... Nabilah dan Matias berciuman bibir.


Driiin!!!


Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Kenapa tiap memikirkan seseorang, mendadak orang yang dipikirkan muncul? Itu aneh sekali. Tak heran Nabilah terkaget-kaget.


""Yah, Yas..." sapa Nabilah yang membuka obrolan yang dipaksakan tersenyum. Sebetulnya Nabilah masih jengah dengan teman SMP-nya tersebut.


"Nab,... gimana kabar?"


Nabilah terbahak. "Kenapa lu? Jam sepuluh maleman gini, lu nelepon gue."


"Y-y-ya, kan kamu sama aku itu sahabat, Nab. Nggak boleh nanyain kabar sahabat sendiri?"


Hati Nabilah mencelos. Ya Tuhan, yang seperti inilah yang membuat sudah menghilangkan rasa di dalam diri.


"Yas..." Nabilah menelan air liur. "Pake lu-gue aja mulai sekarang. Awal kita ketemuan kan juga ber-'lu-gue'. Gue takut keterusan. Masih sakit juga nih tinjuan cewek lu. ***** tuh cewek!"


Hening.


Nabilah menarik dan menghembuskan napas. Jantungnya berdebar-debar. Oh tidak, Nabilah tak mau mengulangi kesalahan yang sama. Insiden itu tak mau diulangi lagi. Ingat Nabilah, lelaki yang menghubungi kamu itu sudah memiliki pacar.


"Nab..."


"Hmmm..."

__ADS_1


"Eee..."


Hening.


"Yas, kalo mau ngomong, buruan. Jadi cowok tuh yang tegas. Ya-ya, tidak-tidak. Dan, waktu gue terbatas, Matias. Besok gue harus ke Imigrasi. Gue mau ngurus persiapan gue berangkat ke Jepang."


"Kamu... eh, maksudnya lu--"


"--buat lu, spesial, lu bebas deh mau pake kata sapaan mana. Lu-gue, aku-kamu, bahkan I and You, terserah. Whatever. Kurang baik apa coba gue?!"


"Hehe... You are such my besties, Nabilah!"


Andai lu bisa anggap gue lebih dari sahabat, Yas, rintih Nabilah.


Hening lagi. Nabilah mengetuk-ngetukan jemarinya ke atas meja belajar.


"Haha... lu siapa gue, sih? Ntar ceweknya ninju gue lagi. Gue kasih tahu lu, untung di gue apa? Apa urusan lu?"


"Mikirnya gitu amat. Dasar Besi Tua Keranda!"


"Dih, masih cakepan juga gue daripada si Veranda itu!"


Matias terbahak. "Itu yang gue suka dari lu, Nab."


Kalo lu suka sama gue, tinggalin aja Kezia itu, gerutu Nabilah dalam hati.


"Haha... bisa aja lu, Tukang Gali Kubur!"

__ADS_1


Matias tertawa.


Nabilah tertawa pula.


"Be-te-we, ngapain lu telepon gue? Emang Kezia nyuekin lu mulu?"


"Udah nggak boleh nelepon sahabat sendiri?"


"Yah, boleh, sih,..."


"Soal kejadian waktu itu, anggap aja gue mewakili Kezia buat minta maaf."


"Kenapa gak dia aja yang minta maaf sendiri? Sakit nih perut akibat ditinju!"


Hening untuk kali ke sekian.


"Eeee..."


"Apa?"


"Gapapa."


"Kalo udah gak ada yang mau diomongin, gue matiin nih. Besok gue mau pagi-pagi ke Imigrasi."


"...besok hati-hati, Nab,"


"Makasih, Sayang,... hiyaaaak, najis banget lu. Woy, inget Kezia, woy!"

__ADS_1


Dan, di akhir obrolan, Matias hanya ber-hehe saja. Untuk seorang Nabilah, mungkin Matias tak akan pernah mengetahui, betapa sakit sebetulnya hati Nabilah. Kenapa pula Matias mendadak harus menelepon Nabilah di jam-jam selarut ini?


__ADS_2