Rainy Couple

Rainy Couple
Masa Lalu Nabilah - 3


__ADS_3

"Huwaaaah..." Nabilah malah melotot ke arah ibunya. Dia lalu menarik selimut tebal hingga wajahnya tertutupi oleh selimut.


"Hei, hei,..." balas ibunya Nabilah melotot juga. "Ayolah, kau bangun, Nabilah. Hari ini jadwalnya syuting kan? Ini episode terakhir, Nab."


Yang dimaksud dengan episode terakhir itu maksudnya adalah kemunculan terakhir Nabilah di sinetron berjudul "Mahkota Hati". Di situ Nabilah berperan sebagai seorang murid TK yang berteman akrab dengan sang tokoh utama, Ayunda. Lucu juga, aslinya Nabilah sudah duduk di kelas 3 SD. Tapi malah bermain peran sebagai murid TK bernama Nia.


"Capek, Mak. Bilang sama Om Rizal, aku ijin dulu." rengut Nabilah yang masih bersembunyi di dalam selimut.


Om Rizal merupakan sutradara dari sinetron "Mahkota Hati". Sinetron itu sudah mencapai jumlah seratus dua puluh tiga episode. Sinetron yang cukup laris manis apalagi saat bukan Ramadhan kemarin. Ratingnya cukup tinggi. Tak heran jeda iklannya lumayan lama.


"Alamakjan!" Ibunya jadi berkacak pinggang dan menggaruk-garuk rambutnya. "Cem kau pikir itu sekolah, Nabilah?! Mana bisa ijin. Nanti keluarga kita yang harus bayar dendanya. Buka sikit dulu selimut kau. Lihat dulu mata Mamak."


Tanpa menunggu reaksi Nabilah, ibunya main menarik sendiri selimut tersebut. Terlihatlah wajah kusut Nabilah. Ibunya jadi tertawa melihatnya.

__ADS_1


Ibunya terbahak. "Lucu kali kau, Nabilah. Dan, sekarang, ayo bangun. Nanti Mamak marah sama kau nanti."


"Mak, Nabilah capek syuting mulu. Hari ini ijin dulu, boleh yah? Nanti aku ganti di hari lain." keluh Nabilah.


"Tempo hari kita sudah minta ijin ke Om Rizal. Dan, sudah dapat peringatan. Ayolah, kau bangun. Jangan malas begitu. Mamak masih pengin lihat kemunculan kau lagi, Nabilah. Kangen Mamak, lihat acting kau. Itu sinetron favorit Mamak sekarang."


Nabilah menghela napas. Matanya sayu sekali. "Nabilah capek, Mak. Jenuh lihat proses syuting. Salah dikit, kenal omel mulu sama Om Rizal."


"Kalau kau nggak bikin kesalahan, gak bakal kena omel kan? Bagus juga acting kau, Nabilah. Mamak suka."


"Ayo, sekarang kau bangun. Mamak dan Bapak selalu mengajarkan ke kau supaya jangan malas dan selalu berdisiplin. Bukannya ini kan yang kau impikan--jadi bintang tivi?"


"Maunya Bapak."

__ADS_1


"Alah, kau, malah bantah pulak. Marah ini Mamak! Mandi sana!" Ibunya malah berang. Matanya makin melotot seperti begu ganjang saja. "Pokoknya kau harus pergi syuting. Gak mau tahu--Mamak. Mandi sana!"


"Iya, iya, Mamak aku yang bawel." ledek Nabilah.


Langsung saja telinga Nabilah dijewer hingga gadis kecil itu kesakitan.


Ada alasannya kenapa Nabilah enggan pergi syuting, padahal orangtuanya sudah mengurus surat ijinnya ke sekolah. Itu adalah Ikhsan. Teman sekelasnya itu bakal ikut lomba cerdas cermat tingkat kecamatan nanti sore. Dari dalam sanubari Nabilah, dirinya ingin bisa menonton dan menyemangati langsung teman kutu bukunya tersebut. Selain itu, Nabilah ingin melihat sendiri betapa cerdasnya gebetannya itu.


💜💜💜💜💜


"San, kalo lu masih hidup, lu sekarang bakal sejago Bill Gates. Ato, kalo untuk ukuran lokal, lu sejago Andrew Darwis. Gue gak bakal heran kalo nanti nemu situs yang lu bangun." ujar Nabilah sembari melihat foto Ikhsan.


Di belakang foto Ikhsan, ada tanda tangan Matias. Dulu, foto Ikhsan pernah tanpa sengaja terlihat oleh Matias. Saat itu, sepulang sekolah, dia dan Matias mampir dulu di sebuah warung bakso. Selesai makan, Nabilah yang punya giliran untuk membayar, hendak membayar pesanannya. Tanpa sengaja, dompet Nabilah terjatuh, dan memperlihatkan foto Ikhsan kecil. Matias lalu bertanya. Nabilah iseng saja bilang bahwa Ikhsan itu pacarnya dulu. Dirinya pernah berpacaran saat masih SD dulu.

__ADS_1


Nabilah terbahak mengingat kejadian saat di warung bakso tersebut.


"Aduh, kenapa gue malah kepikiran Matias lagi? Udahlah, yah, biar Matias bahagia sama Kezia aja. Kalo jodoh, gak bakalan ke mana-mana, kok."


__ADS_2