
Di Rainbow Caffee,
🎶
Rossa - Hey Ladies
Hey Ladies, jangan mau dibilang lemah
Kita juga bisa menipu dan menduakan
Bila wanita sudah beraksi dunia hancur
Hey Ladies, sekarang cinta pakai otak
Jangan mau rugi hati juga rugi waktu
Bila dia merayumu ingat semua bohong
🎶
Rainbow Caffee memasang lagu "Hey Ladies" untuk menemani para pengunjung yang tak sedikit jumlahnya.
__ADS_1
"Jadi, ini cowok yang bikin lu kayak sekarang ini?!" tanya Shanelle.
Shanelle mengamati baik-baik foto yang tertera di ponsel Nabilah. Sesekali ia menyeruput jus mangganya. Ia mengernyitkan dahi. Entah kenapa dirinya seolah kenal laki-laki yang berada di layar ponsel tersebut. Dari satu foto ke foto lainnya. Di mana dia pernah bertemu laki-laki berkacamata dengan rambut berantakan seperti ini? Rasa-rasanya pernah bertemu, namun Shanelle tak terlalu ingat.
Sementara Nabilah asyik sendiri dengan nasi goreng kambingnya. Nasi goreng merupakan menu baru di Rainbow Caffee. Setahun-dua tahun lalu, Rainbow Caffee belum menyediakan menu nasi goreng kambing. Dan, sepertinya juga Nabilah sangat menikmati nasi goreng kambing buatan Rainbow Caffee. Walau kepedasan, Nabilah masih tetap menyendok dan menyendok.
"Lu makan kayak orang nggak makan sebulan," ucap Shanelle nyengir.
Shanelle lalu meletakan ponsel Nabilah di jarak yang bisa dijangkau Nabilah. Setelah itu, dia mulai menyantap mi ayam yang sudah dipesannya hampir lima menit yang lalu. Mungkin mi ayam itu sudah dingin.
"Abis enak banget. Nggak nyesel nyicipinnya gue." jawab Nabilah yang begitu senangnya. Dibilang senang, tidak juga. Nabilah masih merasakan suatu kesedihan. Kedua matanya masih agak berkaca-kaca.
"Jadi, menurut lu gitu?" tanya Nabilah yang tampaknya akan selesai menandaskan nasi goreng kambingnya.
"Hidup ini terlalu singkat buat dihabiskan untuk seseorang yang malah hatinya nggak sepenuhnya ke kita. Nggak usah banyakin drama yang nggak perlu. Kalo lu mau drama, mending tonton 'World of Married'. Bagus, tuh, drama."
Nabilah tertawa mendengarkan selorohan Shanelle tersebut. Sehabis menyantap nasi goreng kambing, giliran Macchiato yang dinikmati Nabilah.
"Tapi, cowok itu gue kayak kenal," sahut Shanelle dengan mata yang agak menerawang.
__ADS_1
Nabilah terkekeh-kekeh. "Semua cogan aja lu bilang lu kenal. Dasar lu, yah?"
"Eh, seriusan, cowok tadi tuh gue kayak kenal. Kayak teman lama gue, tapi gue lupa kenal di mana. Betewe, cowok tadi namanya siapa?" Shanelle memasang simbol V di jemarinya. Serius sekali tampang Shanelle.
"Matias." ujar Nabilah yang terasa hambar. Menyebut namanya saja, itu sudah membuat Nabilah menghela napas.
"Oh, namanya Matias?!" ujar Shanelle. Shanelle memutar bola mata. Sepertinya perempuan itu tampaknya mengingat sesuatu dari nama Matias tersebut. Bukankah dulu ada teman SD-nya yang memiliki nama yang sama?
Matias. Shanelle lupa nama lengkap Matias, teman SD-nya tersebut. Dia juga tak menanyakan nama lengkap Matias, laki-laki yang sudah membuat berantakan hidup Nabilah. Di benak Shanelle, Matias itu merupakan sosok laki-laki yang hangat dan mudah sekali dijahili. Semangat Matias itu sangat Shanelle sukai. Berapi-api sekali, walau yang dihadapi tak semudah perkiraannya.
"Woy, kenapa lu, malah ngelamun?" Nabilah berusaha membangunkan Shanelle dari lamunannya.
"Nggak, gue cuman kepikiran sama temen aja. Temen SD gue, kebetulan gue baru inget, namanya sama. Matias juga."
"Eh, lu dulu SD-nya di Fransiskus, kan?"
"Iya, emang kenapa?"
"Mungkin lu ada benarnya juga. Bisa jadi lu kenal. Soalnya, seingat gue, dia dulu SD di Fransiskus juga."
"Seriusan lu?" Shanelle tersentak. Astaga, mimpi apa dia semalam? Apa maksudnya ini?
__ADS_1