
Tangerang, 11 Desember 2009
Dalam tiap napasku, ada nama kamu
Dalam tiap desahanku, nama kamu masih terselip
Dalam tiap erangan dan rintihanku, berkali-kali 'ku menyebut nama kamu
Pelan tapi pasti,
nama kamu selalu menyertai langkah aku
Jika aku mundur ke belakang,
aku sering menertawakannya
Konyol!
Andai itu tak pernah terjadi
Malu!
Mengapa aku bisa ketahuan seperti itu?
Bahagia!
Aku tersenyum mendapati senyuman manis kamu itu
Kamu sukses mengubah duka menjadi suka
Sedihku, kau sulap menjadi tawa
Sejak 'ku mengenalmu,
jauh-jauh sudah rasa hampa itu
Kamu laksana sebuah parasol
parasol yang melindungi aku dari terik dan hujan
Ini bukan gombalan
Sebab, aku tak lihai berkata-kata
Aku juga bukan seorang pembohong
Buat apa pula aku membohongi perasaan sendiri
Karena, itulah kamu buat aku
Kamu sudah menguasai seluruh hidupku
Kamu ubah hidupku
Kamu temani hidupku
Sekali lagi, aku berkata,
kamu ibarat matahari pagi
kamu sinari hatiku yang gersang ini
kamu juga ibarat tetes hujan di sore hari
terimakasih sudah memberikanku kelegaan
teruntuk Nabilah Angela Siregar
dari pengagum rahasiamu
Tangerang, 24 Desember 2009
Kamu di mana?
Kamu ke mana?
__ADS_1
Betapa kaget diriku saat mendengar berita itu
Kamu pergi begitu saja
Kamu main menghilang dari hadapan aku
Aku sendiri di sini tanpa kepastian dari kamu
Menunggu
Itulah sesuatu yang aku benci
Demi kamu aku rela saja
Seberapa lama kamu pergi
Aku akan menungguimu selalu
Minggu lalu ujian
Kamu tahu, kan?
Lalu, kenapa kamu pergi?
Tanpa kehadiranmu, rasanya berbeda
Ujian serasa menakutkan untuk aku
Tak menyenangkan
Untuk apa kamu pindah?
Kamu tak sayang lagi dengan aku?
Sayang?
Iya, aku tahu
Siapalah aku ini
Kita ini apa?
Sebatas teman?
Atau bolehkah aku memanggilmu My Love?
Karena begitulah nyatanya
Cinta ini, hati ini,
sudah kamu kuasai
Tadi ada setangkai mistletoe di pintu gereja
Di pohon Natal ada boneka malaikat bersayap
Pikiranku ini langsung terbang ke kamu
Coba tebak siapa?
Yah, kamu, yang menguasai hatiku
Kamu yang di sana
Jaga diri saja, kamu
Aku pinta satu hal
Jangan lupakan aku
Selalu ingat aku pernah ada
Aku senyata embun di pagi hari
Selamat Natal, Nabilah Angela Siregar!
__ADS_1
Tangerang, 28 Desember 2009
Jika kamu tahu mengapa aku sulit berpindah ke lain hati,
inilah jawabannya:
Tuhan hanya memberikan satu hati dan satu cinta
Itu semua kuberikan hanya untuk kamu
Tangerang, 31 Desember 2009
Rasanya malas ke mana-mana
Tak ada hasrat untuk menengok kembang api
Habisnya tak ada kamu
Lebih baik kuhabiskan malam tahun baru bersama game
Selamat Tahun Baru, Nabilah!
Tangerang, 2 Januari 2010
Jika nanti kita bisa berjumpa lagi,
kuharap itu bagian dari takdir Tuhan
Aku benci itu sekadar kebetulan belaka
Dan, sekarang, aku ikhlas
Saking ikhlasnya, kuputuskan untuk pindah sekolah
Jika kita memang berjodoh,
suatu saat pasti akan berjumpa lagi
Sayang kamu, Nabilah!
Tangerang, 12 Januari 2010
Aku bingung
Sebetulnya kamu itu apa
Hubungan kita apa
Apakah aku sungguh mencintaimu
Karena baru saja aku bertemu seorang perempuan
Bukan maksud selingkuh
Walau aku tak yakin ini selingkuh
Dadaku bergetar di dekat perempuan itu
Sepintas sorotnya mirip dengan sorotmu
Aku bagaikan melihat sosok kamu
Apakah itu cinta?
Tapi masa aku sayang ke dua perempuan sekaligus?
❤❤❤❤❤
Matias hanya cengar-cengir sendiri saat membaca kumpulan puisi tersebut. Puisi-puisi tersebut mungkin tak akan pernah tersampaikan ke Nabilah. Bagaimana bisa ia menyampaikan, jika nanti ada hati yang terluka. Memang hubungannya dengan Kezia tengah beresiko. Tapi, akan menjadi sebuah ketegaan kalau Matias berpaling ke Nabilah.
Dia buka kembali folder tersebut di ponselnya. Matias memandangi satu persatu foto Kezia. Perlahan air matanya mulai menetes. Dia mulai memukul-mukuli kepalanya. Bibir bawahnya tanpa sengaja tergigit. Lalu, perlahan dirinya memandangi foto Nabilah yang berseragam SMP. Sungguh seorang remaja perempuan berwajah Timur Tengah yang sudah membuat Matias tergila-gila. Disandingkan foto Nabilah dan foto Kezia.
"Kezia itu cewek gue. Nabilah cuman masa lalu yang gak pernah kasih kepastian. Udahlah, fokus aja ke Kezia. Kezia lebih layak buat diperjuangin." desah Matias tersenyum. Foto itu ia selipkan kembali di buku kumpulan puisi kepunyaannya.
Lalu, apa sekarang Matias sudah benar-benar move on?
__ADS_1