
Kangen Band - Yolanda
Kemarin kau datang menemui aku
Saat aku ragu, saat aku layu
Canda tawamu tenangkan aku, Yolanda
Aku bawa cinta sebesar dunia
Agar engkau tahu besarnya cintaku
Apa kau tak rasa, kau tak meraba, Yolanda
Aku menunggumu di tempat biasa
Kuharap kau datang menemui aku
Jangan terlambat ku harap tepat, Yolanda
Lelah hati ini mencari dirimu
Lelah kaki ini untukku melangkah
Untuk temui dirimu kasih, Yolanda
Reff:
Kamu di mana, dengan siapa
__ADS_1
Semalam berbuat apa
Kamu dimana, dengan siapa
Disini aku menunggumu dan bertanya
💟💟💟💟💟
Di rumah Matias,
Kezia terenyak saat Matias memasang lagu ini di player-nya.
"Yas," Kezia mengubah posisi duduk yang sudah setengah mati diatur Matias.
Matias sedikit meradang. Dia mendengus, lalu berjalan mendekati Kezia lagi. "Ke, jangan goyang-goyang, dong. Katanya, mau dilukis sama aku."
Matias perlahan ikut menahan tawa. "Apanya yang lucu? Lagu yang kupasang?"
Kezia mengangguk. "Alay dasar!"
"Kok alay?" tanya Matias dengan bibir mencucung. Sontak sekujur tubuh Kezia berdesir. Perempuan itu mulai menghitung denyut jantungnya.
"Y-y-ya,... alay aja," ucap Kezia. "Tahu artinya alay kan?"
Matias menggeleng. "Dari dulu aku gak pernah tahu apa artinya alay. Emang artinya apa sih?"
"Beneren gak tau?" Kezia percaya tak percaya. "Ya ampun, Matias, kamu ke mana aja? Kudet kamu, tuh. Sibuk nge-alien, yah?"
"Orang nanya, bukannya dijawab, malah diejek. Yah, aku beneren gak tahu. Dan, kamu malah kasih aku satu kata yang aku gak tahu juga. Alay-lah, kudet-lah,... aku beneren gak tahu."
__ADS_1
Kezia buang napas. Astaga, pacarnya ini kampungan sekali. Tapi Kezia berusaha mengerti. Selama ini Kezia tahu Matias terlalu asyik sendiri dengan segala hal yang berhubungan dengan Jepang. Ingat, Matias sempat melanjutkan studi di negeri Sakura.
"Kudet itu kurang update. Kalau alay..." Kezia memutar bola mata. "..."
"Apa alay itu?" desak Matias tak sabar.
"Cengeng!" seru Kezia asal. "Alay itu cengeng, persis kayak lagunya yang menye-menye itu. Cowok kok cengeng?"
"Emang cowok gak boleh cengeng?" tantang Matias nyengir.
"Yah, cowok itu harus kuat-lah," ucap Kezia sok menasehati.
"Oh, aku baru tahu," Matias tertawa juga, Kezia jadi cemberut. "Omong-omong, masih mau dilukis nggak?"
Tanpa perlu menunggu jawaban Kezia, Matias mengatur kembali pose Kezia. Lalu, Matias berbalik ke posisi di mana dirinya akan mulai membuat potret diri Kezia. Ini kurang lebih seperti Jack menjadikan Rose obyek lukisnya di film Titanic. Bedanya, tak ada lagu Kangen Band di Titanic.
Matias begitu telaten dalam membuat guratan demi guratannya. Dia sesekali menatap lama Kezia yang masih berbusana (sementara, di Titanic, Rose tak berbusana). Sesekali juga Matias tersenyum. Dalam hati Matias berujar, cantik nian makhluk ciptaan Tuhan ini. Laki-laki itu mengembuskan napas panjang sekali sebelum melanjutkan kembali pekerjaannya.
"Alay dasar. Sekarang malah diam aja. Kenapa sih?" protes Kezia yang kelihatannya sudah mulai letih berpose.
Matias tak merespon. Dia hanya menggigit bibir bawah.
"Kenapa, Yas?" tanya Kezia deg-degan. Dirinya takut hasilnya jelek.
Tanpa diminta, Kezia berhenti berpose. Secepat kilat Kezia menghampiri Matias yang masih melamun. Alangkah kagetnya Kezia dengan hasil lukis Matias. Kenapa Matias malah menggambar Rose yang ada di film Titanic, sementara modelnya kan Kezia?
"Ya Tuhan, Matias, aku capek-capek pose, yang ada di pikiran kamu, Kate Winslet?" Kezia benar-benar marah.
__ADS_1