Rainy Couple

Rainy Couple
Masa Lalu Matias - 9


__ADS_3

Di bioskop yang ada di Tokyo,


Julia tertawa terbahak-bahak setelah Matias selesai bercerita. "Oh, jadi ada kejadian kayak gitu?! Lagian kalo soal cowok itu, kayaknya Shanelle nggak pernah jadian sama cowok itu, Matias. Bahkan, hingga detik ini, aku--sebagai kakaknya--belum pernah lihat dia pacaran. Pacaran yang bener-bener pacaran, loh."


"Oh gitu, yah, Kak," Matias mengangguk-anggukan kepalanya.


Ini aneh. Mendadak Matias merasakan suatu perasaan yang amat aneh. Kenapa jantung Matias berdebar-debar? Jantungnya berdebar-debar bukan karena perempuan yang berada di sampingnya. Ada rasa senang yang luar biasa saat dirinya tahu Shanelle masih lajang.


"Matias, aku dari dulu curiga apa kamu naksir sama Shanelle." kata Julia langsung blak-blakan.


Matias menelan air liur. "Eh, K-k-kak, kita nggak beli tiketnya? Tuh, udah mulai dibuka studionya."


Julia terkekeh-kekeh. Laki-laki ini masih tetap sama seperti yang dulu. Fisik boleh berubah, namun dalamnya tetap sama saja. Ingin rasanya Julia memegang tangan Matias. Namun, Julia tak berani. Ciuman saat itu pun bukan Julia yang memulai. Dia malah beranggapan Matias yang memulai.


Sementara Matias tak berani memandangi Julia. Jantungnya masih berdebar-debar. Tanpa menoleh, Matias mendengar perempuan yang bertugas menyobek tiket itu memberikan ijin ke mereka berdua untuk masuk ke dalam studio.


Begitu Julia sudah berada di depan Matias, Matias berujar, "Film romance, kan, Kak?"



"Horor, kok. Makanya aku ajakin kamu nonton. Aku gak berani nonton sendirian. Daripada mubazir, mending cari teman nonton yang lain." kata Julia tersenyum. "Eh, kamu berani, kan, nonton horor?"

__ADS_1


"Berani, kok, Kak." Matias menjawab mantap. Di pikiran Matias, terbayangkan peristiwa yang bakal terjadi. Julia nanti bakal ketakutan, berteriak histeris, lalu tanpa sengaja loncat ke dada Matias. Sampai detik ini pun, Matias beranggapan Julia yang memulai ciuman tempo lalu.


Ternyata Julia mengambil bangku yang paling atas. Wah, sepertinya Julia benar-benar takut untuk menonton film horor. Posisinya hampir persis di tengah-tengah.


"Matias,"


"Iya, Kak," Matias makin gelisah.


"Kamu... apa kamu naksir sama Shanelle?"


Yang aku suka itu kamu, loh, batin Matias berteriak.


"Kok pas aku cerita soal kejadian itu, kamu kelihatannya senang banget? Yah, aku ngomong jujur, adikku masih single. Dia belum punya pacar. Sempat kukenalin ke beberapa cowok, dia bilang nggak tertarik. Kadang aku suka mikir, mungkin dia lagi nungguin seseorang, dan yang di bayangan aku, orang itu kamu."


"Kakak kok bisa yakin kalo Shanelle nunggu-nunggu aku? Lagian aku udah punya pacar, Kak."


Ups, Matias keceplosan bicara. Mungkin karena film yang akan mereka tonton itu film horor. Belum menonton, sudah ketakutan. Biasanya orang mudah berkata jujur jika tengah dilanda ketakutan.


Sebelah alis mata Julia terangkat. "Hah? Maksudnya? Terus, ciuman itu artinya apa? Astaga, Matias, ternyata aku salah duga. Kamu bisa nakal juga, yah, ternyata?!"


Matias tertunduk. Dia memilih untuk tak menjawab. Sebab, jika dia menjawab, nanti bisa memperkeruh suasana. Sekonyong-konyong Matias merasa bersalah dan teringat dengan Kezia.

__ADS_1


Julia sebentar berdiam diri. Semenit-dua menit kemudian, Julia angkat bicara. "Aku bisa tahu karena dulu Shanelle pernah nggak sengaja ngomong isi hatinya setelah dia berangkat ke Surabaya. Dia pernah bilang dia enggan ke Surabaya. Dia pengin bisa sekolah bareng kamu. Tapi, karena belum berani tinggal sendiri--dan emang beresiko buat dia tinggal sendiri, mau gak mau dia ikut ke Surabaya. Mama juga pernah bilang, Shanelle sering banget nyebut-nyebut nama kamu. Dan, kejadian yang kamu maksud, cowok itu bukan siapa-siapa Shanelle, kok. Cuman kenalan di Facebook aja, dan Shanelle suka dimintain duit sama pulsa. Seingatku, Shanelle pernah cerita ke aku, dia nyesel putus hubungan sama kamu. Makanya aku bisa tahu alasan dia betah single dulu. Shanelle mungkin lagi nungguin kamu."


Kak, buat apa sih Kakak cerita sedetail itu aku? Aku aja lebih punya rasa ke Kakak. Kalau hubungan aku harus kandas sama Kezia, aku bakal milih Kak Julia daripada Shanelle. Shanelle, bagiku, cuma seorang sahabat masa kecil yang menyenangkan. Begitulah isi pikiran Matias yang mana matanya mulai tertuju ke arah layar bioskop. Film horor itu akan dimulai.


💜💜💜💜💜


Di Rainbow Caffee,


Sontak Shanelle bersin-bersin sendiri. Segera saja Shanelle mengambil tisu. Ingusnya banyak betul.


Nabilah tertawa. "Lu gak lagi flu, kan?"


"Nggak, kok. Dari bangun pagi, gue sehat walafiat."


"Mungkin nun jauh di sana, lagi ada yang mikirin lu. Lagi ada yang kangen sama lu, Shan."


"Ngaco lu. Siapa juga yang kangen sama gue. Gue kan belum punya pacar."


"Hah? Seriusan lu? Lu udah cantik banget kayak Putri Indonesia gini, masih jomlo?"


"Serius banget gue!"

__ADS_1


"Terus, hubungan lu sama Kevin gimana? Seingat gue, lu sempat pacaran kan sama Kevin."


"Ceritanya panjang, dan gue ogah nyeritainnya." jawab Shanelle yang lalu menyesap jus mangganya (Shanelle memesan lagi). Tampak kesedihan terpancar mulai terlihat dari kedua sorot matanya.


__ADS_2