
Di depan laptop, Kezia mengerutkan dahi. Tiyas dibiarkan tertidur di atas tempat tidurnya. Tidak benar-benar tidur, anjing Chihuahua kepunyaannya tersebut. Mata Tiyas masih terbuka. Tiyas bahkan bersuara saat Kezia mengelus-elus kepalanya.
Raysa? Ini si Rey, bukan, sih? Tampak Kezia antusias dengan temuannya.
Untuk menghilangkan kesedihan (yang lagi-lagi Kezia masih terbayang wajah Matias), Kezia membiarkan dirinya mengembara di dunia maya. Bagaikan kutu loncat, Kezia berpindah-pindah dari satu halaman ke halaman lain. Dari satu media sosial ke media sosial lainnya. Dari satu vlog ke vlog lainnya. Gabutkah Kezia? Tidak juga. Ini satu hari yang sangat hectic sekali. Tadi di kafe Kezia tengah membantu Beby untuk memperluas jangkauan kafenya. Buka cabang maksudnya. Di wilayah itu, kafe kepunyaan Beby lumayan laris manis. Artis sampai mampir. Karena itulah, selaku empunya kafe, Beby ingin membuka cabang di daerah lainnya. Satu hari ini, Kezia dan Ivy disuruh Beby untuk menemani Beby menginspeksi beberapa daerah.
Makanya Kezia tidak gabut. Ia hanya lelah. Lelah di pekerjaan, lelah pula dalam hal hati. Untuk kesekian kalinya, Kezia dicecar Beby. Baru kali pertama ini, Kezia dipelototi Beby. Seram sekali kedua mata Beby. Parahnya lagi, Beby menikamnya dalam sekali sabet.
"Pasti Matias lagi. Gimana, sih? Yang tegas, dong. Move on yah move on. Mau diterusin yah diterusin. Trus, yah, Key, kita juga punya kehidupan. Capek gue kadang-kadang harus ngurusin persoalan cinta lu yang kayak FTV SCTV." Kata-kata Beby itu seperti belati saja. Sakit. Dan Banget.
__ADS_1
Mungkin Beby benar juga. Akhir-akhir ini, beberapa hari ini, Kezia memang kacau. Di kafe, ia lebih sering fokus. Pekerjaannya banyak yang salah. Pernah urusan dengan klien terpaksa batal karena Kezia salah mengetik. Pernah juga Kezia mengirimkan surel tanpa mengisi apa-apa di badan surelnya. Padahal Kezia tengah mengirimkan surel ke sebuah perusahaan di Singapore. Begitu Beby tahu, teman seangkatannya itu mencak-mencak. Kezia lalu minta maaf berkali-kali.
Ya Tuhan, kenapa move on itu terasa berat, begitu pikir Kezia saat menyalakan laptop. Hati dan otak sering tidak sinkron. Otak ingin melupakan Matias, namun hati sepertinya berkata tidak. Tadi sih sudah sepuluh lagu yang Kezia dengar. Semuanya itu lagu-lagu yang bernada sedih. Satu lagu bahkan mengingatkan Kezia akan sosok Matias. Kenapa sepertinya beberapa orang tega menyiksa batin Kezia?
Di saat itulah, Kezia tak sengaja mendarat di sebuah vlog. Vlog ini kepunyaan seorang Indonesia yang tinggal di Jepang dan memiliki suami orang Jepang. Ternyata perempuan Indonesia itu teman SMA Kezia. Namanya Raysa. Beruntungnya, Raysa tengah online. Kezia dan Raysa akhirnya saling membalas surel, serta kini tengah webcam-an.
"Jadi, lu belum nikah?" tanya Raysa dengan ekspresi yang membuat Kezia senewen. Menikah itu bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Lagipula, bukan hanya Kezia yang belum menikah. Ada beberapa alumni Tarakanita yang belum menikah pula.
"Eh, lu sama yang anak SMP itu gimana? Seinget gue, lu pernah ditembak sama anak SMP, kan. Satu kelas gempar kalo gak salah."
__ADS_1
Tuh, kan. Ini sudah kali kesekian Kezia diingatkan tentang Matias. Sepertinya alam semesta ini tengah berkonspirasi agar Kezia dan Matias jangan sampai putus.
"Key, beberapa waktu lalu gue ketemu Matias di Tokyo. Dia bilang kalian masih pacaran, yah. Eh, tapi kalo dilihat dari wajah lu, kayaknya Matias bohong. Ada apa, sih, Key?" cerocos Raysa tanpa henti.
Teman sekelasnya itu memang tidak pernah berubah. Kenapa harus Matias lagi? Apa di hidup Kezia itu hanya ada Matias?
***
Stay tuned, yah. Jangan lupa like, comment, dan vote-nya. Sudah mau ending. 😊
__ADS_1
Kalau ada masukan, sampaikan saja.