
Nabit terheran-heran melihat kelakuan adiknya. Dari jarak yang agak jauh, Nabit melihat betapa asyiknya Nabilah dengan suatu aktivitas yang jarang sekali dilakukan oleh perempuan yang agak tomboy tersebut.
Perlahan Nabit beringsut lebih dekat. Dia menyenderkan diri ke pintu geser.
"Tumben lu dandan, Nab. Ada interview?" tanya Nabit terkekeh-kekeh.
"Emang gak boleh?" balas Nabilah bertanya. "Emang ketemuan biasa sama temen, gue gak boleh dandan?"
Nabit tergelak. "Temen apa temen?"
__ADS_1
Nabilah sewot. Dia langsung bergerak ke arah pintu geser dan tergesa-gesa menutupnya. "Udah ah, lu mau tau aja!"
"Oh gue tau, Nab. Lu gak usah sembunyiin dari gue. Gak bakal bisa." seru Nabit dari balik pintu. "Lu berhasil nemuin lagi cowok gak jelas itu?"
"Yeee... sembarangan lu kalo ngomong!" hardik balik Nabilah.
Well, ini bukan perkara hubungan Nabilah dekat atau tidak dengan abang kandungnya, Nabit. Lagipula, Nabilah itu anak bungsu. Selain Nabit, Nabilah tak memiliki siapa-siapa sebagai saudara kandungnya. Adik, Nabilah tak punya. Walaupun perempuan itu sangat mendambakan seorang adik. Apa daya ibu kandung Nabilah memiliki satu trauma, yaitu trauma melahirkan. Proses melahirkan Nabilah saja sudah tiga kali luar biasa daripada orang normal. Konon, nyawa Nabilah hampir saja pergi sebelum benar-benar lahir ke dunia.
__ADS_1
Nabit tahu mengenai orang yang memberikan kura-kura bernama Miiko tersebut. Laki-laki berkulit gelap tersebut sering mendengar Nabilah mengobrol-ngobrol bersama Miiko. Nabilah suka mengucapkan nama 'Matias'. Lalu, malu-malu Nabilah menjawab Matias itu bukan sembarang laki-laki.
"Apa kayak gini rasanya jatuh cinta, Bit?" tanya Nabilah. Sudah sejak kecil Nabilah tak memanggil Nabit dengan sapaan 'abang'. Nabit juga tak keberatan, karena dirinya lebih nyaman dipanggil dengan nama saja.
Nabit tertawa paling keras hingga Nabilah sewot sendiri. "Cieee... adik Abang lagi jatuh cinta, nih. Kenalin sama Abang, dong."
Nabilah sekonyong-konyong menundukan kepala. Perempuan itu takut Nabit bakal mengejeknya, apalagi saat tahu Nabilah sudah lama sekali tak bertemu Matias sejak pindah ke Hokkaido. Sekembalinya ke Tangerang, Nabilah kesulitan mencari jejak Matias. Pastinya segala sesuatunya sudah berubah, entah wajah Matias maupun tempat tinggal Matias. Walaupun demikian, memang sulit menyimpan rahasia dari Nabit. Nabit abangnya. Dirinya masih satu rumah dengan Nabit. Tak butuh waktu lama untuk Nabit mengetahui rahasia kecil Nabilah tersebut.
Itulah alasannya kenapa Nabit menyebut Matias sebagai laki-laki tak jelas. Nabit suka kesal sendiri kenapa Nabilah bisa betah menunggui seseorang yang tak jelas keberadaannya. Bahkan laki-laki tersebut sempat menyindir adiknya lumayan keras. "Bisa aja dia udah punya cowok. Atau, perasaan dia ke lu berubah drastis. Mungkin aja dia udah setengah ngelupain lu. Gak jelas ntu cowok. Tinggalin aja!"
__ADS_1
Nabilah sempat emosi, namun tak benar-benar kesal. Terkadang Nabilah merasa abangnya itu mungkin benar. Mungkin selama ini sia-sia dirinya terus mencari dan menantikan teman SMP-nya tersebut. Tapi, sisi lain dari hati Nabilah bilang dia harus mencari dan menunggu. Yang begitu akhirnya bertemu di sebuah kafe, Nabilah girang sekali.