Rainy Couple

Rainy Couple
Ciuman Pertama Matias


__ADS_3

Ada satu hal yang membuat Matias masih terngiang-ngiang kejadian kemarin. Dirinya sama sekali tak habis pikir kenapa itu bisa terjadi. Kenapa tidak dengan Kezia? Kenapa malah dengan perempuan lain?


Anehnya Matias tak mempermasalahkan ciuman tersebut. Laki-laki itu tak merasa bersalah, yang setidaknya hingga pagi ini. Dia justru masih sangat berkesan dengan datangnya ciuman tersebut. Antara itu karena pengalaman pertama Matias atau karena hal-hal aneh yang mengawali ciuman tersebut.


Matias duduk di salah bangku yang tak jauh dari dapur mininya. Dia minum kopi paginya. Dirinya masih membayangkan bentuk dan rasa dari bibir kakak kelasnya tersebut. Yang namanya ciuman, apakah seperti ini rasanya? Sulit dijelaskan, namun membawa kita melayang-layang hingga ke surga sana. Pantas saja banyak laki-laki yang terobsesi untuk segera mengambil ciuman pertama di awal hubungan mereka.


"Haha. Oh iya, kamu gimana kabar? Dan, lagi apa di Tokyo? Kamu kuliah di sini?"


Matias menggeleng. "Nggak juga. Aku di sini buat kerjaan, Kak. Oh iya, ngobrolnya sambil duduk aja, Kak. Nggak enak sambil berdiri. Pegel."


Lalu Matias menunjuk ke arah bangku-bangku yang ditinggalkan oleh beberapa orang pemabuk yang baru saja meninggalkan tempat duduknya sambil terhuyung-huyung. Ke sanalah, Matias dan Julia.

__ADS_1


"Kakak nggak pesan dulu?" tanya Matias nyengir.


"Kamu kayaknya nggak berubah, yah? Masih sama kayak Matias yang aku kenal dulu." ujar Julia terkekeh-kekeh.


"Gantengnya nggak berubah, yah?"


"Hiyaaak..." Julia berlagak muntah. "...ya udah, aku pesan dulu, yah. Emang awalnya aku ke konbini buat beli makanan. Kebetulan stok makanan di apartemen aku mulai habis."


Julia melengos kembali masuk ke dalam konbini. Sementara Matias minum kopi seraya memandangi punggung kakak kelasnya tersebut. Sekonyong-konyong Matias mulai merasakan suatu perasaan yang aneh. Jantungnya berdebar-debar lumayan kencang. Air liur naik-turun membasahi tenggorokan. Sekali-dua kali Matias menggigit bibir bawahnya. Matias membatin, Kak Julia masih tetap menawan kayak biasanya, masih tetap mempesona.


"Eh, kok malah ngelamun?" Julia menyadarkan Matias dari lamunannya. "Ngelamunin apa, sih? Oh iya, Matias, kamu udah punya pacar sekarang?"

__ADS_1


Spontan saja Matias menjawab, "Belum, Kak. Aku masih jomlo."


Bersamaan dengan kata-kata spontan Matias tersebut, Julia mengaduh kesakitan. Ternyata lidah Julia kepanasan. Mungkin saja itu karena efek cuaca malam ini yang cukup dingin. Saking dinginnya, oolong tea itu main Julia minum tanpa ditiup-tiup dulu.


"Aduh, panas banget," Tangan Julia spontan memegangi bibir dan lidahnya.


"Hati-hati minumnya, dong, Kak," Secepat kilat Matias beringsut lebih dekat ke arah Julia.


Kini jarak Matias dan Julia begitu dekat sekali. Julia kaget melihat sikap Matias barusan. Matias sebetulnya canggung juga. Baik Matias dan Julia, kedua-duanya sama berdebar-debar. Pelan tapi pasti, entah apa yang terjadi, dan tak bisa dicegah, bibir Matias menyentuh bibir Julia dengan lembut sekali. Mungkin awalnya Matias ingin mengecek kondisi bibir Julia yang kepanasan. Akan tetapi, adegan selanjutnya terjadi begitu saja dan sukar dicegah.


Kenapa itu bisa terjadi? Matias bingung sebingung-bingungnya saat mengingat kembali kejadian kemarin. Dengan Kezia saja--yang jelas-jelas pacarnya, Matias belum pernah berciuman. Kenapa ciuman pertamanya bisa datang karena perempuan lain?

__ADS_1


"Sori, Kak," ucap Matias setelah melepaskan bibirnya dari bibir Julia.


Julia tak menjawab. Kedua pipinya bersemu merah. Degupan jantungnya makin kencang. Sebetulnya Julia cukup merasakan ciuman tersebut. Mungkin itu ciuman pertama untuk seorang Julia Natanoto.


__ADS_2