
"Kamu yakin, Nab?" tanya Fey sekali lagi. Sekarang Miiko, kura-kura tua itu sudah berada di tangan salah seorang kenalan ini Nabilah yang terkenal akan aneka jajanan pasar yang serba enak di komplek.
"Kamu yakin, Nab, nyerahin Miiko ini buat dijual?" tanya Fey untuk memastikan sekali lagi.
Nabilah mengangguk mantap. "Iya, Ci. Lagian, aku nggak mau ngerepotin orang rumah selama aku di Jepang nanti."
"Tapi, nggak harus dijual, kan?" Lagi dan lagi, Fey bertanya untuk memastikan.
"Kayaknya, menurutku, itu yang terbaik, Ci. Aku juga sebetulnya kewalahan buat ngurusin Miiko."
"Iya, sih. Yang Cici denger, ngurusin kura-kura itu emang gitu. Makin tua usianya, makin susah ngurusinnya." ucap Fey membenarkan. "Tapi, kamu yakin? Cici Fey lihat, kamu kayaknya sayang banget sama Miiko."
"Nggak apa-apa, Ci. Lagian, di setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Mungkin inilah saatnya aku ngelepasin Miiko. Semoga Miiko dapet pemilik yang beneren bisa ngerawatnya."
Fey terbahak. "Kamu ini, Nab, apaan sih? Kamu kayak orang lagi patah hati, yang Cici lihat."
__ADS_1
Nabilah ikut tertawa.
Dari dalam rumah Fey, entah siapa yang memasang, terdengar lagu "Saat Terakhir" yang dulu pernah dipopulerkan oleh ST12, yang sekarang bernama Setia Band.
"...satu jam saja 'ku telah bisa cintai kamu-kamu-kamu, di hatiku
Namun bagiku melupakanmu butuh waktuku seumur hidup
Satu jam saja kutelah bisa sayangi kamu di hatiku
Namun bagiku melupakanmu butuh waktuku seumur hidup di nantiku..."
Nabilah hanya tertawa. Haruskah dia menceritakan masalahnya dengan Matias ke Cici Fey, bagaimana dia cukup terpukul dengan kejadian di Rainbow Caffee tempo lalu? Pukulan Kezia bukan hanya cukup telak di usus buntunya, melainkan sangat telak di sanubarinya.
"Nab, Cici udah kenal kamu sejak kamu kecil. Mamak kamu itu langganan di toko Cici sejak Almarhumah Mama masih ngelola. Berkat Mamak kamu, toko kue ini jadi kebanjiran orderan dari artis-artis. Makanya, Cici langsung tahu kamu lagi kenapa-napa, Nab. Cerita sama Cici, ada apa? Beneran kamu lagi patah hati?"
Nabilah bergeming. Ia masih mencoba untuk tersenyum, walau kali ini sulit. Rasanya sakit sekali. Ingin rasanya Nabilah ke tepi pantai dan berteriak sekencang-kencangnya.
__ADS_1
"Sama cowok yang namanya Matias itu? Dua-tiga bulan kamu--Cici lihat--lagi happy banget. Terakhir, yang Cici lihat kamu lagi sama cowok, yang baru aja keluar dari bioskop. Cowok itu yang namanya Matias yah, yang udah kamu tunggu-tunggu sejak SMA?"
Aduh, Fey. Perempuan berwajah Oriental itu tak seharusnya sefrontal itu. Itu membuat Nabilah tak kuat lagi untuk menitikan air mata. Kedua pipinya jadi basah.
"Sori, Nab. Cici beneren nggak maksud bikin kamu nangis. Cici aja nggak tahu masalah kamu sama dia apa. Tapi apa kamu baru aja putus dari Matias?" ujar Fey yang langsung merangkul Nabilah. Fey mengelus-elus punggung Nabilah untuk sekadar menenangkan Nabilah.
Putus, yah? Apa yang seperti ini bisa dibilang putus? Seingat Nabilah, dirinya dan Matias sepertinya belum pernah jadian. Jadian yang secara resmi, maksudnya. Yang mana seperti kebanyakan sepasang kekasih lainnya. Ada yang menembak, ada yang mengiyakan. Eh, tapi apa definisi orang berpacaran? Yang Nabilah alami itu apakah bisa disebut berpacaran juga--meskipun itu pacar pura-pura? Di sisi lain, Nabilah merasa dia itu seperti pelakor saja, yang merebut Matias dari Kezia. Nabilah jadi bingung, serta meringis.
"Ya udah, Miiko--Cici simpan aja di rumah Cici. Kebetulan suami Cici suka banget sama binatang reptil. Kemarin-kemarin dia bikin kaget Cici gara-gara bawa ular yang gede banget ke rumah. Kan, Cici jadi ngeri, Nab."
Fey tertawa. Perlahan Nabilah jadi terpengaruh untuk tertawa juga, walau air mata masih tetap mengalir.
"Jadi, gimana, Nab? Cici simpen aja di sini, yah. Kapanpun kamu mau nengokin Miiko, silakan aja. Rumah Cici itu selalu menyambut kamu dengan tangan terbuka." kata Fey yang membungkuk untuk melihat Miiko yang tertidur di dalam sangkarnya. Tampak Fey sedikit bergidik menatap Miiko.
"Terserah Ci Fey aja. Lagian dia udah aku kasih ke Cici, kok." jawab Nabilah sambil menyeka air matanya dengan tangannya.
PS:
__ADS_1
Gambar comot dari: http://pyda313.blogspot.com/2008/09/kura\-kura\-dalam\-sangkar.html