
Di kamar Matias,
🔂🔂🔂🔂🔂
Kezia deg-degan. Sebab wajah Matias berada terlalu dekat dengan wajahnya. Apakah laki-laki itu akan mencium bibirnya di dalam bioskop. Kezia memang pernah mendengar kabar bahwa beberapa pasangan suka saling berciuman di dalam bioskop. Namun, Kezia lebih suka jika ciuman itu terjadi di tempat yang sepi. Benar-benar sepi. Tanpa ada orang. Tidak seperti studio yang penuh orang ini.
🔂🔂🔂🔂🔂
Bukannya menyelesaikan cerita Zack Time itu, Matias malah terbuai untuk mengenang masa lalu. Dia teringat masa-masa indah tersebut--awal Matias dan Kezia berjumpa lagi.
Matias tertawa sendiri di dalam kamar. Ia melihat foto pacarnya tersebut. Cantik nian wajah Kezia. Kulit yang sangat eksotis. Mata bulat nan besar, yang sangat mempesona. Rambut panjang berurai-urai. Senyuman yang sangat menusuk kalbu. Matias tak pernah bosan memandangi penampilan Kezia dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Kezia, dia mungkin udah sampe di sana, pikir Matias. Matias berharap itu tak pernah terjadi. Semoga saja kelanjutan hubungannya tak harus bernasib sama seperti sinetron-sinetron picisan kebanyakan.
__ADS_1
Matias tersadar satu hal. Saat melihat bibir Kezia, dirinya baru menyadari, sudah pacaran selama ini, Matias belum juga mencuri first kiss Kezia tersebut. Normalkah ini? Dan, apakah dalam setiap hubungan percintaan, harus dibumbui oleh ciuman bibir untuk bisa dikatakan mesra?
Sebetulnya bukan tak pernah ciuman, melainkan sudah beberapa kali, namun Matiaa hanya mendaratkan bibirnya di pipi dan telapak tangan Kezia. Setiap hendak mencium bibir Kezia, Matias gagal melulu seperti kejadian di dalam studio bioskop tersebut. Matias selalu terbawa pikiran bahwa dirinya ingin benar-benar mencium Kezia di altar nanti. Idealisme nan tinggi Matias mungkin yang sering menggagalkan hasratnya sendiri--yang sudah berlangsung hingga hampir seratus kali.
Sekarang Matias sedikit khawatir. Dia takut idealismenya itu malah akan menjadi bumerang. Dia tentu tak bisa melupakan mengenai Thalia yang masih membencinya. Atau, Martin Winter tersebut. Atau,... Kezia hari ini berangkat kan ke Singapore, dan mungkin sudah sampai. Matias yakin perempuan itu tak kenapa-napa. Yang Matias khawatirkan, hanya satu: bagaimanakah jika perempuannya itu didekati oleh laki-laki lain? Kalau Thalia itu berencana menjodohkan Kezia dengan laki-laki lain, bagaimana?
Matias mengacak-acak rambutnya. Dia menggigit bibir bawahnya. Refleks saja Matias mendendangkan lagu ini.
Derby Romero - Tuhan Tolonglah
Di setiap tatapan matanya
Andai ku coba tuk berbalik
__ADS_1
Akankah sanggupku hadapi kenyataan ini
Oh Tuhan tolonglah aku
Janganlah kau biarkan diriku
Jatuh cinta kepadanya
S'bab andai itu terjadi
Akan ada hati yang terluka
Tuhan tolong diriku
__ADS_1
Matias sedikit menyesali keputusannya yang terlalu mengikuti idealismenya. Coba saja dia tak takut-takut, first kiss Kezia sudah menjadi milik Matias. Tapi, benarkah cara berpikir seperti itu? Bukankah Matias malah hanya menganggap Kezia sebagai barang saja? Itu tak benar, dan tak sepatutnya hal tersebut. Bagi Matias, Kezia lebih dari sebuah obyek, dan Kezia bukan 'sebuah'. Kezia itu seseorang yang sangat spesial.
Ya, sudah. Matias coba memaklumi. Sebagai gantinya, dia mencium bibir Kezia melalui foto Kezia. Memang aneh, namun seorang laki-laki harus bisa teguh memegang prinsip. Matias harus kuat memperjuangkan Kezia mati-matian. Itu dilakukannya bukan sekadar demi sebuah ciuman bibir saja. Matias ingin terus berada di sisi Kezia--menemani Kezia di masa senjanya.