
"Nab," Suara Nabit mengagetkan Nabilah yang tengah sibuk dengan beberapa berkas yang harus diterjemahkannya.
Nabilah terpaksa berhenti dari pekerjaannya. Kacamata baca yang berukuran bulat itu ia lepaskan. Ia menoleh ke arah abangnya yang sudah berdiri di belakangnya.
"Lu sebetulnya masih suka nemuin diem-diem Matias, kan?"
"Urusan lu apa?"
"Bener atau nggak? Soalnya, gue denger dari temen-temen gue, Matias ke Jepang, kan? Berarti selama ini lu sama dia sering ketemuan di Jepang sana?"
"Iya, terus kenapa? Dan, itu bukan urusan lu, Bit. Berhenti juga mata-matain hidup gue, please."
"Itu karena lu itu adek gue, Nab. Kalo kita nggak ada hubungan darah, bodoh amat gue sama hidup lu. Karena lu adek gue, makanya gue peduli."
"Thanks." tukas Nabilah, lalu kembali ke pekerjaannya.
"Apa lu nggak sebaiknya ninggalin Matias? Dia bukan cowok baik-baik, Nab."
__ADS_1
"Tahu dari mana lu? Gue kan yang udah sahabatan sama Matias sejak SMP. Gue tahu Matias itu kayak gimana. Menurut gue, dia cowok baik-baik, kok. Matias orangnya lucu, pendengar yang baik, punya rasa empati yang tinggi, dan selalu ingat Tuhan. Bagian mana yang gue sebutin itu yang menurut lu, dia nggak baik?"
"Kalo dia cowok baik-baik, nggak mungkin dia mainin perasaan lu. Lu masih inget gak, kejadian yang bikin lu masuk ruang ICU? Mamak sampe khawatir. Almarhum Bapak sampe mau ninju ntu cowok. Tinggalinlah dia. Lu juga yang ngomong, kan, dia udah punya cewek. Siapa nama ceweknya itu?"
Nabilah tak menjawab. Dia menundukan kepala, yang seolah-olah menundukan kepala bisa membuat sakit hati itu berkurang sedikit.
"Tinggalin Matias, Nab, gue mohon." ucap Nabit yang mengurangi volume suaranya. Yang tadinya sedikit mengegas, Nabit agak melembut. "Demi lu, gue kayak gini, sekurangajar ini. Lagian cowok itu banyak, Nabilah. Gak harus sama Matias, kan?"
Air mata itu mengalir lagi dari kedua pemilik mata Nabilah. Jari telunjuknya coba menyeka tetesan air mata yang terjatuh.
"Tuh, kan, lu malah nangis," Nabit beringsut ke arah Nabilah. Dia langsung menepuk pelan bahu Nabilah. "Baru gue gituin aja, mewek lu. Dan, sekarang lu malah bilang dia cowok baik-baik. Oke, gue salah, dia mungkin emang cowok baik-baik. Tapi, apa nggak sepatutnya lu jaga jarak sama dia? Temenan aja sih gak masalah, tapi jangan terlalu deket."
"Ya udah, gue minta maaf. Gak seharusnya gue kayak gini ke lu. Tapi, yang patut lu inget, gue ngelakuin ini semua karena gue anggep lu sebagai adek gue. Gue peduli, gue perhatian. Coba lu renungin aja kata-kata gue barusan."
Lalu Nabit meninggalkan Nabilah sendirian di kamarnya. Kali ini Nabilah benar-benar sendirian. Tak ada lagi Miiko, kura-kura peliharaannya yang setia mendengarkan isi hatinya. Sebagai gantinya, Nabilah langsung meraih ponsel. Headset ia kenakan. Satu lagu ia pilih. Sembarang saja.
Andy Grammer - Don't Give Up on Me
__ADS_1
Cause I'm not givin' up
I'm not givin' up, givin' up, no, not yet (Not yet)
Even when I'm down on my last breath (Last breath)
Even when they say there's nothin' left (Nothin' left)
So don't give up on
I'm not givin' up
I'm not givin' up, givin' up, no, not me (Not me)
Even when nobody else believes (Believes)
I'm not goin' down that easily
__ADS_1
So don't give up on me