
Kezia bersiap untuk berangkat ke tempat kerjanya, di Pan Lova, kafe rintisan teman kuliahnya, Beby. Baru saja hendak masuk ke dalam kamar mandi, Thalia memanggilnya.
"Zia, sini dulu," panggil Thalia yang agak menegang rahangnya. "Ada yang mau Kakak omongin."
Kezia beringsut ke arah Thalia yang memegangi spatula. Dia sebetulnya masih agak marah ke kakak nomor duanya itu. Karena kakaknya itu, ia jadi memiliki masalah sepelik ini.
"Ada apa, Kak?" ujar Kezia ketus.
"Kok gitu cara ngomongnya, Zia? Kakak ini kakak kandung kamu, loh. Hargai Kakak sedikit." protes Thalia yang sepertinya hendak memukul Kezia dengan spatula.
"Iya, kakakku, Kak Thalia yang super baik hati, ada apa?" Kezia mengulangi lagi kata-katanya dengan nada yang dilembut-lembutkan.
Thalia spontan terbahak. "Inilah yang Kakak suka dari kamu. Kamu orangnya emang paling bisa bikin suasana hati orang jadi ceria lagi."
Tapi aku-nya yang mendung suasana hatinya, keluh Kezia dalam hati.
"Oh iya, Zia, kamu masih suka nyamperin Matias?"
__ADS_1
Kezia mengernyitkan dahi. Tumben Thalia menanyakan kabar Matias. Ada angin apa ini?
"Zia, Kakak minta maaf yah atas semua kelakuan gak enak Kakak. Sampein maaf Kakak ke Matias juga." kata Zia yang menurunkan tangannya yang memegang spatulanya.
"Tumben, Kak," balas Kezia yang terbengong-bengong.
Sekonyong-konyong muncul suami Thalia dari arah belakang Kezia. Celetuk Andre, "Soalnya Kakak kamu kemarin abis nonton sinetron, Zia. Kakak kamu takut kena azab aja. Haha."
Thalia memukul Andre dengan spatula. "Dre, kamu apaan sih?"
"Aku cuma bercanda, Ta." Andre masih terpingkal. "Oh iya, Zia, Abang duluan yah yang mandi. Abang harus buru-buru, nih. Ada pertemuan sama client di Bandung soalnya. Pertemuannya jam setengah sepuluh."
"Kamu ini, Ta, jangan galak-galak sama adik sendiri. Dan, udahlah, kasihan yang namanya Matias itu. Dia terus menerus terjebak dalam perasaan bersalah. Dia udah berkali-kali minta maaf, Ta. Daddy kamu juga pasti di sana pengin kamu maafin Matias. Matias juga pemuda baik-baik." ucap Andre panjang lebar.
"Dre, apaan sih kamu? Kamu udah kayak pendeta aja. Malu aku, Dre, diceramahin di depan adik aku sendiri."
Kak Thalia tahu malu? Sejak kapan? Biasanya di antara anak-anak Mommy, dia yang paling dikenal nggak tahu malu. Begitulah keheranan Kezia dalam pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Iya, iya, aku minta maaf," Andre terbahak. Lalu, abang ipar Andre tersebut bergegas masuk ke dalam kamar mandi, yang sebetulnya Kezia yang masuk ke kamar mandi.
"Zia, yang tadi itu gimana? Matias gimana kabarnya juga?"
"Matias baik."
"Masih suka ketemu dia, kan? Kakak dengar, kamu dan dia sempet berantem gara-gara orang ketiga, yah?"
"Iya." Kezia malas mengingat nama perempuan tersebut. Membayangkannya saja, Kezia mau muntah.
"Kakak pikir-pikir, Matias orangnya gak buruk juga. Dia kayaknya cocok buat kamu. Kalian berdua kayak saling melengkapi. Terus, pikiran kalian berdua kayak udah kehubung juga."
Kedua mata Kezia terbelalak. Ini ada apa sebetulnya? Memang isi doa Kezia siang dan malam agar Thalia melunak hatinya, namun dirinya berharap tidak secepat ini. Thalia ini dapat mimpi apa semalam? Apa Daddy dan Mommy datang ke mimpi Thalia semalam?
"Kenapa sih, Zia? Apa ada yang salah sama kata-kata Kakak barusan?"
Kezia gelagapan. "Eeee... ng-nggak juga, Kak. Tumben-tumbenan aja, menurut aku."
__ADS_1
Thalia tertawa kecil. "Ya udah, sambil nunggu si Abang selese mandi, bantuin Kakak masak, Zia. Kita masak spesialisasi kamu, bihun goreng. Oh iya, kapan-kapan kamu ajak Matias ke rumah. Kakak pengin kenal lebih lanjut lagi orangnya kayak gimana."