
Di minggu pagi yang cukup cerah itu, Kezia berjalan-jalan pagi. Sekalian mengajak Tiyas berjalan-jalan. Ah, rasanya sudah lama sekali Kezia tak berjalan-jalan bersama seekor anjing peliharaan. Kali terakhir, seingat Kezia, itu saat Tio masih hidup.
Tio merupakan nama anjing jenis Siberian Husky yang pernah singgah di hati Kezia. Dulu, saat masih TK, Kezia seringkali mengajak Tio berjalan-jalan. Pernah dengan isengnya Kezia melepaskan tali kekang Tio. Tio kalap, berlari-lari, dan menyalak-nyalak setiap orang yang anjing Siberian Husky itu temui. Kaki tukang bubur ayam pun menjadi korbannya. Untungnya si tukang tak marah, selain hanya luka ringan. Paling Kezia hanya disuruh membeli lima mangkok bubur ayam sebagai gantinya. Sesampai di rumah, Kezia disemprot habis-habisan. Ia kemudian tak diijinkan untuk berjalan-jalan bersama Tio, yang hanya berdua saja. Harus ada pendamping.
Walaupun jenisnya berbeda, kelakuan Tiyas tak jauh berbeda dengan Tio. Untungnya Tiyas sudah diikat. Hampir saja Tiyas menggigit seorang pejalan kaki. Kezia tergesa-gesa untuk minta maaf. Baru saja malam bisa dihindarkan diri, malang yang lainnya menyusul. Anjing sialan, rutuk Kezia dalam hati. Tiyas mengencingi sepiring lontong sayur seorang pejalan kaki. Mau tak mau Kezia mengganti biayanya.
Kezia langsung menggendong erat Tiyas. Ia meremas-remas kepala Tiyas. Keluhnya, "Kamu ini... jangan bandel gitu, dong. Kelakuan kamu persis kayak Tio."
"Guk... guk... guk..." Tiyas seperti tak terima disama-samakan dengan dirinya. Tiyas tahu Tio itu siapa. Nyaris setiap malam, kalau tidak membicarakan Matias, pasti Tio.
"Mungkin kamu mulai capek, yah?!" ujar Kezia mengelus-elus kepala Tiyas. "Ya udah, kita udahan dulu jalan-jalannya. Cari tempat dulu buat ngadem."
__ADS_1
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Tak jauh dari tempat Kezia berdiri, ada satu spot kosong. Masih ada bangku kosong di taman tersebut. Cukup sepi pula. Tak ada siapa-siapa di sekitarnya. Beruntungnya lagi ada sebuah pohon yang cukup rindang di dekat bangku tersebut. Ke sanalah Kezia membawa Tiyas.
Pelan-pelan Kezia melepaskan ikatan Tiyas. Karena Tiyas masih kecil, anjing Chihuahua itu berlari-lari ke sana ke mari. Sementara Kezia duduk dan sedikit merebahkan kedua kakinya.
"Hayoooo... jangan nakal kamu itu..." Kezia mewanti-wanti Tiyas.
"Guk... guk...." Tiyas lalu melihat ke arah yang berbeda. Oh, ternyata ada tukang kebab. Bau daging kambingnya itu mungkin menggoyang nafsu makan Tiyas.
"Guk... guk... guk..." Entah Tiyas bakal menurut atau tidak.
Sebelum benar-benar menghampiri si tukang kebab, Kezia terkenang sesuatu. Bukan sesuatu, tapi seseorang. Kalau gak salah, anak itu suka banget makan burger, kenang Kezia dalam hati. Anak yang dimaksud adalah anak laki-laki misterius yang Kezia hanya ingat nama dan suaranya. Di benaknya, yang Kezia ingat dirinya selalu memanggil anak laki-laki itu Tiyas. Sementara suara anak laki-laki tersebut begitu lembut terdengar di telinga Kezia.
__ADS_1
Yang Kezia ingat, Kezia hanya berteman dengan anak laki-laki tersebut hanya sampai kelas 3 SD. Di pertengahan tahun ajaran, Tiyas masuk rumah sakit karena leukemia. Hanya tiga bulan dirawat, ternyata dewi fortuna berkata lain, Tiyas berpulang.
Seingat Kezia juga,...
...mendadak kepala Kezia menjadi sakit. Dia tak bisa mengingat lebih lanjut tentang Tiyas. Yang tersisa hanyalah suaranya. Kezia hanya sedikit ingat tentang Tiyas. Seperti Tiyas yang memiliki ibu bule, ayahnya yang berkulit coklat dan berkumis.
"Eh, mungkin nggak sih Tiyas itu Matias? Seingatku, aku sama teman-teman dulu cuma tahu kabarnya aja. Mungkin aja yang aku dengar itu kabar bohong. Sebetulnya Tiyas itu Matias."
"Guk... guk... guk..."
"Eh, apaan sih aku ini? Ya nggak mungkinlah. Walau aku sama teman-teman nggak bisa ngejenguk atau ngelayat, nggak mungkin Tiyas itu Matias. Jarak usia aku sama Matias kan lima tahun. Mikir apa sih aku ini?" Kezia lalu tertawa sendiri dengan analisisnya.
__ADS_1
Disadari atau tidak, mungkin itulah saat Kezia untuk kali pertama merasakan cinta. Selama sekian tahun, suara anak laki-laki itu terus menerus bergema-gema di dalam sanubarinya. Dulu Kezia sangat jatuh hati dengan suara indah dan kemampuan bernyanyi seorang Tiyas.