
Di Rainbow Caffee,
Nabilah melambai-lambaikan tangannya. Ke arah Matias, tentu saja. Tak biasa perempuan tersebut bersikap seekspresif itu. Matias jadi merah mukanya di tengah cengirannya.
"Lu apaan sih, Nab?" protes Matias. "Norak lu ah. Kemarin-kemarin gak ada kayak gini."
"Sori." Nabilah jadi agak sedikit menundukan kepalanya.
"Dari tadi lu nunggu di luar?"
Nabilah mengangguk.
"Astaga!"
Nabilah mengikuti Matias ke dalam kafe. Kafe tampak agak sepi. Dari arah speaker, terdengar lagu Mocca yang memiliki lirik seperti ini, "...on the night like this," Di kuar kafe tampak agak mendung. Mungkin akan turun hujan beberapa saat kemudian.
Keduanya duduk di bangku dekat pintu masuk. Di dekatnya ada lukisan Pelangi dari pelukis kurang ternama. Kata si pelayan ke Matias beberapa waktu lalu, lukisan itu digoreskan oleh adik bungsu si pemilik kafe. Adiknya meninggal karena kanker otak. Sebagai bukti cinta, si pemilik kafe memajang beberapa lukisan adiknya, yang salah satunya itu lukisan Pelangi ini. Pantes aja kayak ada air mata, batin Matias saat itu.
"Jadi, gimana?" tanya Nabilah yang tak bisa menyembunyikan senyuman manisnya. Amboi, manisnya senyuman manis Nabilah. Laksana bidadari turun dari kahyangan.
__ADS_1
Jantung Matias berdebar-debar. Seketika itu pula, Matias lupa dirinya sudah memiliki pacar. Matias lupa pula masalahnya dengan Thalia, kakak nomor dua dari Kezia.
Nabilah melambai-lambaikan tangan ke arah Matias. "Woy, ngelamun aja. Kesambet lu yang ada."
"Sori." Matias terbangun dari lamunan. Dilihatnyalah, Nabilah tertawa. Penyebabnya, air liur yang menetes-netes.
"Astaga, Matias. Lu masih kayak dulu? Lu masih suka ngences?" Nabilah serasa tak percaya. Ternyata Matias tak banyak berubah dari Matias yang SMP yang sudah sedikit mengubah hidupnya.
Tergesa-gesa Matias mengambil tisu. Dia langsung mengelap air liurnya sendiri.
"Be-te-we, Nab, yang itu,..." Matias tergeragap. "...gi-gi-gimana, yah? Apa gak kelewatan?"
Matias terkekeh-kekeh. "Ngomong sih enak. Prakteknya susah."
"Apa dia posesif?"
"Kurang tahu gue."
"Loh, kok kurang tahu? Katanya, pacaran udah lama. Bisa gak tahu, posesif atau gak si Kezia itu. Gimana sih lu?"
__ADS_1
"Bukan gitu, Nab. Tapi, gue emang gak meratiin yang begitu-begitu. Sebelum bokapnya kecelakaan, segala sesuatunya baik-baik aja. Makanya, gue gak pernah meratiin apa dia posesif atau gak. Bahkan, gue gak pernah tahu dia cemburu gak kalo gue lagi deket sama cewek lain."
Nabilah nyengir dan memonyongkan bibirnya. "Oh, gitu, yah. Yah, gue kayaknya sedikit ngerti, yah. Tapi, pernah ada masalah sama dia gak?"
"Berantem kecil-kecilan aja, tapi gak pernah sampe mau putus."
Nabilah menatap lekat-lekat Matias. Matias menelan air liur. Pesanan belum datang pula.
"Yas," Nabilah sedikit terbatuk. "Sori ya buat saran gue ini. Jangan mandang gue negatif dulu. Gue cuman mau bantu masalah lu aja. Dan, maksud gue itu, lu sedikit memprovokasi kakaknya aja. Dia mungkin mikir lu ngeduain adeknya. Ya udah, gue pikir, sekalian aja tunjukin lu itu pendua. Terus, nanti kita atur agar kelihatan di mata kakaknya, cintanya lu cuman buat Kezia. Gitu maksud rencana gue."
"Iya, gue ngerti. Gue cuman takut keterusan aja permainan pacar pura-pura ini. Walau Kezia lebih tua, dia itu sedikit childish sama cengeng. Gak tega gue nyakitin perasaannya. Kalo emang udah gak bisa diterusin lagi, gue pengin dikenal sebagai mantannya yang baik-baik."
Mantan yang baik-baik? Astaga, Nabilah tertawa dengan pemilihan kata Matias tersebut. Itulah Matias di mata Nabilah. Selalu lucu, walau tak bermaksud melucu.
Tapi, Matias, sori gue gak bisa cerita lebih jauh lagi. Yang jelas, gue seneng banget walau cuman jadi pacar pura-pura lu. Nanti ke depannya gue bakal kasih tahu ke lu perasaan sebenarnya gue ke lu. Gak sekarang, tapi nanti.
Begitulah isi hati Nabilah yang sesungguhnya. Nabilah takut memberitahukannya sekarang. Dia ingin merasakan kebahagiaannya dulu; bisa juga menyampaikan perasaan tertundanya. Ke depannya seperti apa, serahkan ke Tuhan saja.
Salah gak sih punya pikiran kayak gitu, Tuhan, bisik Nabilah dalam hati.
__ADS_1