
Nabilah Angela Siregar itu merupakan anak bungsu yang sudah terbiasa dimanja oleh kedua orangtuanya. Sejak kecil, dirinya sudah terbiasa hidup dalam kemewahan. Dia lebih sering menghabiskan waktu bersama pembantu dan supir pribadi daripada bersama keluarga--atau minimal orangtuanya.
Saat baru terlahir ke dunia untuk kali pertama, Nabilah sungguh bayi yang sangat luar biasa menawan (yang berbeda dengan Nabit yang sejak kecil memang sudah berkulit legam dan kurang menarik dipandang) Kulitnya begitu putih dan halus--yang sehalus kain sutra. Ayahnya sampai sangat takjub melihatnya. Sampai-sampai sang ayah sudah menaruh ekspektasi begitu besar ke Nabilah. Ayahnya berharap Nabilah bisa menjadi model majalah. Alhasil, begitu bisa bicara dan berjalan, ayahnya rajin sekali mengikutsertakan Nabilah ke berbagai kontes bayi cantik nan sehat.
Begitu masuk sekolah dasar, Nabilah sudah dikenal sebagai idola sekolah. Tiap anak melihatnya dengan tatapan yang tak wajar. Seperti Nabilah itu alien saja. Padahal Nabilah juga manusia yang sama-sama makan nasi (Walau beras yang digunakan memang bukan beras biasa, sih. Orangtuanya sering menggunakan beras impor dari Thailand).
Untungnya ketenaran Nabilah (yang akibat seringnya Nabilah tampil di media) cukup sebanding dengan otaknya. Di saat beberapa anak-anak lainnya agak kesulitan dalam membaca atau berhitung, bagi Nabilah, itu mudah saja. Setiap jam istirahat, Nabilah malah asyik membaca novel-novel karangan R. L. Stine yang sebetulnya banyak istilah yang sulit dimengerti oleh teman-teman sekelasnya.
Pernah tampil di media, wajah lumayan cantik, serta otak yang lumayan encer, itu membuat Nabilah menjadi idola di SD Mandala. Banyak anak laki-laki yang naksir Nabilah. Sementara anak-anak perempuan terus mencoba akrab dengan Nabilah, alih-alih bisa diajak tampil di televisi.
Sekarang Nabilah tengah duduk di bawah pohon nangka. Tidak duduk di tanahnya. Di bawah pohon nangka tersebut, ada sederetan bangku membentuk persegi yang mengelilingi pohon nangka tersebut. Ia tengah asyik membaca Lupus. Tertawa sendiri seolah mengerti isi cerita dari Lupus tersebut. Padahal kan Lupus novel bertema cinta remaja.
"Nabilah," sahut seorang anak perempuan dengan rambut berkepang dua.
__ADS_1
Nabilah menengok. Buku itu diletakan di sampingnya. "Apaan, Bel?"
Bella langsung duduk di sampingnya. "Baca apa, sih?"
"Lupus."
Bella mengernyitkan dahi. "Emang kamu ngerti? Aku pernah baca yang punya kakakku. Yang ada, aku bingung sendiri. Banyak istilah yang aku nggak ngerti. Kayak 'gebetan'. Aku bingung, gebetan artinya apa?"
Dengan raut muka yang sok tahu, Nabilah berceloteh, "Gebetan itu artinya... apa yah?"
"Yah, kamu lagi banyak yang naksir, Bel. Yang naksir itu dibilangnya gebetan."
"Oh, kayak kamu yah. Kan banyak cowok yang naksir sama kamu. Aku ngiri sama kamu. Kapan yah aku bisa cantik kayak kamu?"
Nabilah memutar kedua bola mata. "Ah, kamu juga cantik, kok. Lagian tahu dari mana anak cowok itu naksir aku? Yang aku tahu, baru si muka gepeng itu yang kasih aku surat cinta."
__ADS_1
Itulah Nabilah. Sejak kecil, Nabilah sudah bermulut pedas. Kalau sudah bicara, kadang tak memikirkan perasaan lawan bicaranya. Tak seharusnya Nabilah menyebut laki-laki itu 'si muka gepeng'. Anak laki-laki itu juga memiliki nama; dan namanya itu Julian.
❤❤❤❤❤
Nabilah duduk di bangku teras. Miiko ditaruhnya di atas meja. Anggap saja kura-kura itu penonton dari konser tunggal Nabilah yang sudah beratraksi dengan gitarnya. Nabilah memainkan lagu "Hello Mellow" yang dipopulerkan oleh Blink.
"...diserang rasa tak bisa 'ku halau, kata orang itu namanya galau. Waktu berputar seakan salah, please welcome, wahai mellow berkecamuk dalam sanubari, seakan tak sanggup aku berdiri sepi menahan tangis sendiri, miris terasa menemani..." desah Nabilah yang matanya menahan jangan sampai air mata jatuh.
Nabilah sedikit berjalan sebentar sembari menggendong Miiko. Ia menatap bulan yang sangat indah. Sekonyong-konyong sederetan wajah laki-laki yang pernah menyatakan cinta kepada dirinya itu bermunculan. Mulai dari Julian yang bermuka gepeng hingga yang teranyar, Matias.
"Miiko, apa aku ini dikutuk, yah? Aku apes mulu soal cinta. Padahal pengin pacaran juga. Wajahku cantik gini juga, tapi kenapa masih jomlo?"
Aduh, Miiko berisik lagi.
"Iya, Miiko, aku tahu, aku nggak boleh ngomong gitu. Mungkin belum saatnya juga. Dan, jujur, aku rada berat melepas Matias, walau tahu sebetulnya dia udah punya pacar."
__ADS_1