
Nabilah akhirnya sudah keluar dari rumah sakit. Dokter Reynard berpesan agar Nabilah istirahat dulu untuk sementara waktu. "Jangan makan sembarangan, yah, Nabilah," pesan Dokter Reynard yang lainnya lagi. Nabilah mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Kini perempuan yang berambut pendek ini tengah berada di kamarnya. Miiko dibawa masuk ke dalam kamarnya. Ia memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut Miiko. Tenang saja, Miiko sudah sangat jinak. Bagi Miiko, Nabilah itu bagaikan ibu kandungnya. Maka dari itu, Miiko tidak menggigit.
Nabilah mengembuskan napas gelisah. Senyuman ia paksakan untuk terbit. Nabilah tak ingin Miiko melihatnya tengah cemberut. Kura-kuranya pasti akan langsung bereaksi jika tahu Nabilah menekuk bibir. Bising sekali suara Miiko jika sudah seperti itu.
"Miiko," ujar Nabilah lembut. "Aku akan terus semangat. Kamu tenang aja, Miiko. Aku juga nggak akan menyesali kejadian-kejadian sebelumnya. Aku ikhlas melakukannya demi Matias. Lagian, dengan begini, kakaknya itu pasti akan beranggapan aku yang nakal, bukan Matias yang doyan selingkuh."
Nabilah tertawa selebar-lebarnya. Ah, itu hanya tawa palsu. Dalam hatinya, Nabilah masih menangis. Nabilah belum bisa menerima jika diminta harus meninggalkan Matias. Setiap momen bersama Matias akan selalu tersimpan rapi di kepalanya. Rengkuhan lembut tangan Matias. Rangkulan Matias yang sesekali mengembuskan amgin semilir di leher Nabilah. Ciuman nakal Matias di pipi Nabilah--yang hampir saja menuju ke bibir Nabilah. Satu persatu kenangan itu terasa sangat manis sekali untuk seorang Nabilah Angela Siregar.
__ADS_1
Miiko bising lagi. Suaranya bagaikan orang yang tengah mendengus emosi. Beberapa kali Miiko coba menggigit tangan Nabilah. Dan.....
"Auw!" Nabilah mengaduh, lalu menangis sesenggukan. "Iya, Miiko, aku minta maaf. Aku membohongi diriku sendiri. Cuman,..."
Kura-kura yang sudah berumur itu diangkatnya. Nabilah memeluk Miiko dengan hati-hati. Dengan moncongnya, Miiko mengelus-elus wajah Nabilah sebagai wujud kepeduliaan.
"Balon yang bulat kulepaskan dari tanganku. Semakin tinggi rahasia terbang di langit biru. Ditiup angin entah ke mana..." Nabilah menyenandungkan suatu lagu nan manis. Dulu, versi bahasa Jepangnya suka dinyanyikan selama dirinya masih di Hokkaido. Nabilah menyanyikan "Tenshi no Shippo" dengan penuh harap dirinya bisa segera berjumpa dengan Matias setelah sekian lama menunggu.
Sekarang semuanya sudah berubah. Apakah Nabilah harus melepaskan Matias seperti balon yang dilepaskan untuk terbang menuju langit biru? Nabilah masih bingung. Nabilah meringis. Kenapa cinta seperti ini? Main kabur begitu saja. Nakal sekali yang namanya cinta itu.
Ihsan pun berpulang saat Nabilah dan lainnya masih kelas 5 SD. Nabilah menangis hebat di dalam kamar. Penyesalan selalu datang di saat terakhir. Orangnya sudah pergi, Nabilah baru menyatakan perasaannya yang sebenarnya. Itu pun di depan batu nisan bertuliskan nama Ihsan Putra.
__ADS_1
"Gue memandang dari kejauhan, San. Benar-benar dari kejauhan. Karena lu sekarang udah nggak di dunia ini. Kita udah beda alam. San, maafin gue. Dan,..." Nabilah menutup kedua matanya sebentar, lalu melihat ke arah nisan Ihsan. "Kenapa jadi berat begini? Gue cuman mau bilang, gue sebetulnya naksir sama lu, San. Kenapa susah, yah, bilang suka itu? Apa karena lu yang nggak terlalu ganteng? Haha..."
Arah angin mendadak berubah. Nabilah menatap sekilas awan putih. Sekonyong-konyong Nabilah merasa tangannya seperti disentuh. Pipinya seperti dikecup. Ia samar-samar mendengar rintihan Ihsan yang berujar, "Aku udah maafin kamu, Nabilah. Sebetulnya aku juga cinta sama kamu. Cuman aku bingung bilangnya gimana."
Dan, setelah pengalaman horor di pekuburan tersebut, ada lima kali Nabilah jatuh cinta (walau dua di antaranya terjadi sebelum Nabilah naksir dengan Ihsan). Yang kelima itu,...
...tertuju ke Matias Immanuel Sinaga.
"...cinta bagaikan ekor malaikat yang plin-plan. Gerak ke sana-sini, susah kutangkap. Tak akan bisa atasi pada pengalaman pertama..."
Nabilah kembali menyenandungkan lagu tersebut. Samar-samar Nabilah tertawa kecil di balik air matanya yang cukup deras. Kenapa cinta harus seperti ini? Loncat sana, loncat sini. Dirinya jadi susah untuk menangkapnya.
__ADS_1
"Ini ekornya yang nakal? Atau malaikatnya yang jual mahal, sih?" sahut Nabilah nyengir dengan suara yang sudah serak.
"Nab,..." Nabit mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. "Lu nggak kenapa-napa, kan?"