Rainy Couple

Rainy Couple
On the Way to Singapore


__ADS_3

Di dalam pesawat,


Beruntungnya Kezia yang duduk di sebelah jendela. Masih jam tujuh pagi. Jam di arloji Kezia menunjukan pukul tujuh lewat sepuluh menit. Pesawat Boeing tersebut sudah berada di antara awan-awan.


Aih, indah nian pemandangannya. Awan-awan, samudra lepas, pulau-pulau, dan banyaknya pohon kelapa yang jika dilihat dari atas, begitu cantiknya. Kezia tersenyum mendapati pemandangan di di luar jendela pesawat.


"Harusnya Kakak, loh, yang duduk di sana," ujar Lucy yang sepertinya bersiap menyalakan MP3-nya.


"Iya, Kak, makasih," respon Kezia yang masih tersenyum, yang di mata Lucy, Kezia tersenyum tanpa beban.


Lucy mendekatkan kepalanya dan berbisik, "Zia, sebetulnya Kakak mau sampein ini pas masih di rumah, cuman baru sempetnya sekarang."


"Sampein apa?" tanya Kezia yang sontak jantungnya berdetak-detak lebih kencang.


"Thalia mau jodohin kamu sama adik temannya di sana."


Untungnya Thalia terlalu asyik dengan bacaannya, To Kill a Mockingbird--yang ditulis oleh Harper Lee. Kakak nomor duanya itu memang menyenangi novel-novel bergenre fantasi-petualangan seperti Narnia atau Hunger Games.

__ADS_1


Bibir Kezia kelu. Senyumnya sedikit pudar. Apa yang harus Kezia sampaikan jika dirinya dibawa ke rumah teman Kak Thalia? Aduh, kenapa dia tak bisa menduga bakal seperti ini?


"Santai saja, Zia," Lucy meremas tangan Kezia. "Tetap semangat!"


"Ehem!" Thalia berdeham. "Ngomongin apa sih kalian berdua?"


"Gak ada apa-apa." Lucy langsung mengarahkan pembicaraan ke beberapa katalog belanjaan yang sudah ia print dari internet. Dia meminta saran Thalia manakah yang lebih bagus.


Kezia kembali mengamati pemandangan di luar jendela. Kali ini dia melihat tanpa senyuman, namun dengan kekhawatiran. Kalau Thalia benar-benar membawa Kezia ke rumah temannya, Kezia harus berbuat apa? Bagaimana cara menolaknya? Kenapa Kezia tak diberitahukan sebelumnya?


Kezia menghela napas. Thalia langsung sadar bahwa adik satu-satunya itu ternyata ikut serta. Kakak nomor duanya itu teringat akan rencananya.


"Zia," kata Thalia yang agak tegang, namun masih sanggup memberikan senyuman kepada adiknya tersebut.


"Iya, Kak,"


"Kakak jujur aja yah sama kamu,"

__ADS_1


"Soal apa?"


"Kakak ajak kamu ke Singapore, itu karena Kakak mau kenalin kamu ke adiknya teman kakak. Orangnya masih single, Zia. Lebih berprospek juga daripada Matias. Kamu mau yah Kakak kenalin?"


Ya Tuhan, jantung Kezia malah semakin berdebar-debar. Dia menelan air liur. Sebuah senyuman terpaksa dikembangkan hanya demi menghindari ribut-ribut tak jelas dengan Thalia.


"Kenalan dulu aja, Zia. Gak usah takut gitu. Kamu kenalan dulu aja sama orangnya. Nanti ke depannya siapa tahu kalian jodoh. Kan gak ada yang tahu juga masa depan kayak gimana." ujar Lucy tersenyum.


Kezia tahu maksud dari perkataan Lucy barusan. Sekadar lip service belaka. Demi menghindari keributan yang tak diperlukan di dalam pesawat. Thalia memang keras kepala--yang sulit dibantah.


"Nama adiknya itu Tobias, Zia. Menurut Kakak, si Toby ini lebih sopan daripada Matias. Dia ini seorang programmer dengan gaji yang nggak mengecewakan."


"Matias juga gak ngecewain, kok, Kak. Dia komikus, Kak. Komiknya, Zack Time, lagi disukai banyak orang." debat Kezia sengit. Ah, Kezia terpancing lagi.


"Komiknya ada di toko buku nggak? Kakak hobi main ke toko buku, nggak pernah lihat." Thalia berdecak penuh emosi. "Kamu ini, hobinya ngelawan mulu sekarang. Kenapa sih? Matias ngajarin kamu supaya berani ngelawan gitu?


Lucy langsung mengondusifkan suasana. "Udah, udah, kalian jangan berantem. Tuh, lihat kita jadi bahan tontonan orang."

__ADS_1


__ADS_2