
"Shan..." ucap Matias yang masih tertunduk. Setengah bed cover yang tadinya menutupi dadanya, turun tak sengaja. Mata Shanelle langsung melotot.
"Ehem..." Matias berdeham untuk mengingatkan Shanelle bahwa dirinya terganggu dengan tatapan mata Shanelle tersebut.
Shanelle tertawa terbahak-bahak. "Hahaha..... biasa aja lagi, Matias. Lu juga udah lihat punya gue juga, kan. Lagian kita semalam itu beneren ngelakuin."
"Biarin gue ngomong dulu,"
"Sori,--" Shanelle langsung mengerem tawanya itu. "Mau ngomong apa?"
"Tolong rahasiain soal kejadian semalam dan hari ini, terutama ke keluarga gue. Bilang aja, lu nggak tahu gue ke mana semalam."
"Tapi, semalam nyokap lu nelpon gue,"
"*****, seriusan lu?"
"Hahaha..... dasar anak mami lu! Gue bohong, kok. Lagian, lu lupa yah, gue kan nggak tahu nomor nyokap lu."
"Sialan!" rutuk Matias. "Oh iya, gue pinjem baju lu aja, deh."
"Boleh aja, sih. Tapi, masalahnya, baju gue emang bisa dipake sama lu. Buat bawahannya, lu mau pake apa? Gue gak punya celana buat cowok, Matias. Jins gue, yah jins buat cewek. Sisanya, hot pants gitu. Mau pake hot pants gak?"
"*****! Yang benar aja, gak mungkin gue pake hot pants, Shancil. Ntar pas nyampe ke rumah, mau ditarok mana muka gue?"
"Hahaha..... cieeeee..... yang semalem dahsyat banget mainnya....."
Wajah Matias jadi memerah, perlahan dirinya menundukan kepala.
"Matias,....."
__ADS_1
Shanelle beringsut lebih dekat ke arah Matias. Jantung Matias jadi berdebar-debar. Matias pun kalah. Posisi Shanelle sekarang di atas Matias. Kedua bibir mereka berdua mulai saling mendekat. Matias meneguk saliva. Dan, ciuman itu tercipta lagi. Lagi?
".....gue cuman mau ngebales perlakuan semalem aja. Makasih buat ciumannya."
Matias hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Ia tertunduk lagi. Shanelle sekonyong-konyong membelai pipi Matias lagi.
"Teman SD gue ini dari dulu nggak pernah berubah. Kamu masih tetep lugu. Itu yang bikin aku sangat menyukaimu." ucap Shanelle yang mengalir begitu saja kata-katanya. Itu termasuk saat terjadi penggantian gaya bahasa. Saking mengalirnya, tak ada waktu untuk Shanelle berpikir.
Sekali lagi, Matias dan Shanelle saling berciuman lagi. Ciuman kali ini lebih mengganas. Desahan-desahan mereka berdua memenuhi apartemen Shanelle.
"Ini nggak seharusnya terjadi, Shan," lirih Matias yang berinisiatif menghentikan ciuman panas tersebut.
"Aku tahu, kamu masih mikirin Kezia, kan? Kalian pacaran udah lama, dan jadi harus berakhir kayak gitu. Kamu pasti berat harus putus dari dia."
"Pake lu-gue aja ngomongnya,"
"Seriusan kita beneren ngelakuin?" tanya Matias yang tak masih tak percaya. Bagaimanapun Matias sempat mengenal Shanelle sebagai pribadi yang suka jahil.
Shanelle mengangguk. "Aku nggak bohong. Aku sangat menikmati. Lebih menikmati daripada pria-pria yang pernah bareng aku."
Matias spontan terkekeh-kekeh. "Lu ngomong pake aku-kamu gini, gue yang malah jadi canggung. Terus, maksud lu apa ngomong gitu? Sebelum sama gue, lu pernah ngelakuin?"
Shanelle langsung menggebuk Matias dengan banyak guling. "Bawel lu, ah. Jadi, gimana? Mau nginep dulu? Atau, mau pake hot pants? Oh iya, gue lupa kasih tahu, gue ada mesin cuci. Kalo lu lagi banyak waktu kosong, bisa kali lu nyuci dulu. Gue bisa tungguin sebentar sampe kering."
Begitulah Shanelle. Sejak kecil hingga dewasa, perempuan itu selalu saja jahil. Matias jadi terbengong-bengong sendiri. Jadi, kejadian semalam itu benar-benar terjadi atau bukan? Matias menggeram saking kesal dan bingungnya.
"Jangan-jangan lu bohong soal yang semalem?" tanya Matias yang sedikit curiga.
"Apa ciuman yang barusan itu bukti gue bohong?" tanya balik Shanelle yang menantang Matias.
__ADS_1
"Eeee....." Matias bingung sendiri.
Shanelle tertawa. "Ya udah, gue mau mandi. Atau, kita mau mandi bareng? Mau nggak?"
"Nggak, makasih. Ya udah, gue pinjem handuk sama kaus aja. Gue mau nyuci baju gue dulu."
"Bentar, gue ambilin,"
Alangkah kaget Matias karena Shanelle main melenggang begitu saja tanpa busana. Ia meneguk saliva lagi. Ya Tuhan, cobaan apa lagi yang Engkau berikan padaku?
Shanelle balik lagi ke hadapan Matias. Kali ini Shanelle mengenakan jas mandi berwarna ungu terang. Ia melemparkan handuk dan kaus ke arah Matias.
"Pake, gih. Dan, buruan cuci baju lu. Walau gue sebetulnya gak masalah lihat lu telanjang bulat."
"Shan,..... kok kausnya warnanya pink, sih? Terus, ada tulisan 'I'll be sure make you mine'. Yang bener aja lu, Shan?!"
"Protes aja lu biasanya. Tahu gini, mending lu gue biarin dibawa ke kantor polisi sama bapak-bapak yang lu muntahin semalam."
Matias mulai panik. Dalam otaknya, dia mulai percaya bahwa kejadian semalam itu memang benar-benar terjadi.
"Udah deh, buruan, Sayang, pake bajunya. Nanti aku horny lagi." goda Shanelle dengan ekspresi yang begitu menantang. Ia menirukan pose salah satu member Blackpink.
Matias mengenakannya dengan berat. Mendadak Matias mulai berpikir apa Shanelle serius dengan kata-katanya tersebut, yang mengatakan bahwa perempuan itu menyukai Matias. Maksudnya apa Shanelle memberikan kaus dengan tulisan ini? I'll be sure make you mine, Matias tertawa dalam hati. Namun, di hati Matias, masih berkuasa wajah Kezia. Matias sangat menyayangi Kezia. Dirinya belum rela kehilangan Kezia.
"Gue mandi dulu, yah," ujar Shanelle untuk kali terakhir, sebelum meninggalkan Matias yang masih setia duduk di atas tempat tidur Shanelle.
*****
Terimakasih yang sudah mengikuti RAINY COUPLE hingga sejauh ini! Jangan lupa like, vote, dan share nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.
__ADS_1