Rainy Couple

Rainy Couple
Ke Jepang atau Tidak


__ADS_3

Matias tengah webcam-an dengan papa dan mamanya yang berada di Tokyo. Malam minggu ini terasa luar biasa. Pun begitu dengan aktivitas webcam kali ini.


"Beneren, Pa?" tanya Matias sekali lagi. Matias tak percaya dengan kabar yang diberitakan oleh ayahnya tersebut.


Ayahnya, Nurdin mengangguk. "Buat apa Papa bohong sama kau, Matias? Begitu lulus SMP, kau bisa melanjutkan sekolah ke Tokyo. Dengan begitu, kita bisa utuh sebagai satu keluarga lagi."


"Matias emang sering kangen sama Papa dan Mama. Udah hampir setahunan ini Papa dan Mama gak balik ke Indonesia." ujar Matias nyengir dan mata berkaca-kaca.


"Papa juga, Matias." sahut Nurdin tersenyum juga. "Oh iya, gimana sekolah kau? Nggak ada masalah juga, kan?"


"Beres semuanya, Pa." Matias sok memberikan hormat ke ayahnya.


"Ya sudah, kau belajar yang rajin. Jangan lupa juga asah kemampuan berbahasa Jepang kau, yah. Di sini, di mana-mana, agak susah menemukan orang lokal bicara bahasa Inggris."

__ADS_1


"Yah, Pa. Nggak usah takut, Pa, soal itu."


Tak butuh waktu lama, aktivitas webcam ayah dan anak itu selesai juga. Matias masih tersenyum sendiri. Masih di depan komputer, Matias membuka folder kumpulan foto saat dirinya masih di SMP Mandala. Matias langsung memilih foto Nabilah yang ia ambil secara diam-diam. Foto Nabilah yang tengah asyik menghabiskan sebongkah daging bakso berisi telur. Lucu sekali ekspresi Nabilah tersebut. Matias jadi tertawa.


"Nab," kata Matias seraya menunjuk foto Nabilah tersebut. "Bentar lagi kita mungkin bakal ketemu. Aku optimis banget bakal ketemu lagi sama kamu. Mungkin ini pertanda dari Tuhan, doaku udah didengar sama Yang di Atas. Aku kangen banget sama kamu, Nab."


Driiin! Ponsel Matias berdering. Ada pesan singkat masuk. Dari Kezia, pacar Matias. Matias sekonyong-konyong kembali ke realita yang kejam. Dia tersadar bahwa dirinya sudah memiliki pacar. Hatinya kebas sekali. Entah kenapa dirinya merasa jadi the wicked one? Sudah punya pacar, dia malah merindukan perempuan lain yang tak lain dan tak bukan, itu adalah cinta masa lalunya yang main pergi begitu saja.


👦 Iya, kamu juga, yah. Makasih, Kak. Love you.


👧 Jangan kemalaman tidurnya.


(Walau sudah lebih dari sebulan berpacaran, Matias masih saja memanggil Kezia dengan sapaan 'kakak')

__ADS_1


Sedetik kemudian Matias terpikirkan satu ide. Apakah dia harus menyampaikan kabar dari ayahnya tersebut? Kezia itu pacarnya. Tak elok jika Matias merahasiakan kabar seperti itu dari Kezia. Tentunya Kezia tak diberitahukan mengenai Nabilah. Biarlah perkara Matias dengan Nabilah itu menjadi rahasia kecil nan kotor laki-laki weaboo yang hobi bermain sepakbola dan futsal tersebut.


👦 Kak, tadi aku webcam sama Papa aku. Dia bilang aku boleh nyusul dia ke Jepang. Gimana, Kak?


👧 Bagus dong. Selamat juga, yah. Itu artinya kamu bisa ngumpul bareng lagi.


👦 Kamu gak sedih, Kak?


👧 Keluargamu lebih penting. Kalau kamu bahagia, aku turut bahagia.


Matias senang mendengarnya. Tapi, dia jadi merasa kasihan dengan Kezia jika pacarnya itu tahu apa motivasi asli Matias ingin melanjutkan studi ke Jepang. Demi perempuan lain.


"Kak, maafin aku. Aku gak bisa kasih tahu Kakak alasan sebenarnya aku ke Jepang. Aku cuma pengin menyelesaikan sesuatu dulu sama seseorang di sana. Cintanya aku cuman buat Kakak."

__ADS_1


__ADS_2