
"Tuh, kan, dia pasti dateng walau telat," ujar Kezia, yang begitu histeris dan terbirit-birit keluar rumah setelah mendengar bunyi motor. "Pasti itu motor Ninja Matias."
Benar dugaan Kezia. Begitu Kezia dan keluarganya keluar rumah, memang Matias sudah berdiri di luar pagar rumah. Kezia memang senang, namun Thalia berdecak-decak kesal. Martin ikut memanas-manasi dengan berkata, "Janji jam tujuh, datang hampir setengah sembilan, e do do e."
"Kezia, Kak Thalia,... maaf, aku telat. Tadi macet di jalan. Aku-aku-aku--" Matias jadi gugup. Apa alasan yang dia buat? Tak mungkin dia menceritakan alasan yang sebenarnya.
"Ah, udahlah, lu pulang aja. Gue jadi males." semprot Thalia tanpa tedeng aling-aling.
"Jangan gitu, Ta," ucap Andre sedikit menenangkan. "Kasih masuk dulu aja, Matias-nya. Dia udah capek-capek dateng. Kita hargai dia, walau telat. Mungkin dia ada alasan tersendiri kenapa bisa telat."
"Kamu aja deh yang nerima dia. Aku sih ogah. Nih anak, kayak gak serius sama Kezia. Janji jam tujuh, dan, coba lihat, dia dateng jam berapa, jam setengah sembilan." sahut Thalia ketus. Tampak Thalia begitu emosinya. Di pikiran Thalia, Matias seperti orang yang sukar dipercaya.
Matias hampir saja menundukan kepalanya. Ya ampun, setidaknya dia dipersilahkan masuk dulu. Dia sudah berlelah-lelah untuk bisa tiba di sini. Itu artinya dia masih memiliki keseriusan untuk Kezia. Matias sangat serius untuk bisa terus bersama Kezia. Kalau tidak serius, dia tidak akan datang ke rumah Kezia. Lebih baik dia pergi ke bioskop bersama perempuan lain. Nabilah merupakan kandidat paling tepat.
Untungnya Andre masih memiliki hati. Andre beringsut ke arah Matias. Andre langsung membuka slot pagarnya.
"Lain kali kamu jangan telat. Anggaplah ini pertemuan sebelum hari H pernikahan kalian. Hargai keluarga pasanganmu. Wajar Thalia sewot. Jauh-jauh hari sebelumnya, kamu udah bikin janji kamu bisa ikut acara makan malam di sini. Yah, kamu kan bisa atur schedule, supaya nggak bentrok sama acara-acara kamu yang lainnya."
__ADS_1
"Iya, Bang, aku salah, aku udah ngeremehin," ujar Matias yang langsung menyalami Andre.
"Kenapa kamu telat?" tanya Andre yang sebetulnya agak kesal juga dengan keterlambatan Matias.
"A-a-a-ada urusan di kampus aku,..." dalih Matias gugup.
"Kok gelagapan gitu? Bohong yah lu?" Thalia langsung mengalamatkan uneg-unegnya. "Bohong kan lu? Lu ada janji sama cewek lain kan sebetulnya?"
"Ta!" hardik Andre. "Jangan asal tuduh gitu! Belum tentu juga Matias kayak gitu."
"Tapi, Abang, si Kakak pe alasan kuat bicara begitu," ucap Martin provokatif. "Bukankah sebelumnya Matias pernah bahugel sama perempuan lain? Nabilah namanya-kah?"
"Lu ketemuan dulu sama Nabilah, kan?" Thalia terpancing.
"Paling lu ketemuan dulu sama Nabilah. Jawabnya aja gelagapan gitu." tuduh Thalia.
Matias terdiam. Ya sudahlah, mungkin memang sudah seharusnya jujur. Berharap dirinya mendapatkan pengampunan. Bagaimanapun Matias tidak bersama Nabilah dalam misi berselingkuh. Itu misi kemanusiaan. Matias menemani Nabilah untuk mengurus persiapan Nabilah ke Jepang.
"Yah, sebetulnya aku emang tadi lagi sama Nabilah,..." Matias terpaksa jujur.
__ADS_1
"Tuh, kan, akhirnya lu ngaku juga,..." dengus Thalia. "Udahlah, lu pulang aja. Gue gak mau Kezia nikah sama tukang selingkuh kayak lu."
"Tapi aku sama Nabilah gak ngapa-ngapain. Aku cuman nemenin dia di Imigrasi. Bentar lagi dia mau ke Jepang. Dan, dia gak hapal jalan ke Imigrasi, makanya aku bantuin ke sana. Terus, di sana ternyata lama juga ngurusinnya. Belum lagi, hape aku low-batt. Gitu ceritanya, Kak, Bang, Kezia."
"Matias gak bohong, Kak, Bang," ucap Kezia memelas. "Emang sebelumnya dia pernah bilang temannya itu mau ke Jepang bentar lagi."
"Aduh, Kezia, Kakak gak tahu lagi deh, harus ngomong apa sama kamu. Beby bilang, kamu sampe ninju temennya yang namanya Nabilah itu. Dan, sekarang kamu main percaya gitu aja? Pake otak kamu, Zia!" desah Thalia amat sinis.
Aduh, kenapa sih gue harus punya teman dengan mulut ember kayak Beby, gerutu Kezia dalam hati.
"Jadi, sekarang gimana? Kita kasih masuk atau nggak Matias ini?" tanya Andre.
"Aku udah jujur barusan, dan aku beneren minta maaf. Kalian bisa kroscek ke Nabilah langsung." Matias langsung mengeluarkan ponsel yang ia letakan di saku kantung kemeja kotak-kotak.
Alamak, ponsel Matias mendadak tak bisa dinyalakan. Dirinya memang tidak mengisi penuh ponselnya. Wajar saja ponselnya sewaktu-waktu bisa mati.
"Ke, bisa pinjam charger atau powerbank gitu?" Matias meminta ijin.
"Gak usah. Udah, Zia, jangan kasih. Lu mending pulang aja. Ngapain juga gue harus kroscek langsung ke cewek yang namanya Nabilah, padahal jelas-jelas lu udah pernah ketahuan main gila sama Nabilah? Kezia cerita ke gue, lu diem-diem pernah ciuman bibir sama Nabilah yah? Sama Kezia aja, lu belum pernah ciuman. Tapi, sama cewek lain, malah pernah."
__ADS_1
"Ya Tuhan, ini apaan sih? Siapa yang ciuman? Aku nggak pernah ciuman bibir sama Nabilah. Ini maksud kamu apa sih, Ke?" Sekarang Matias yang malah meradang. "Sumpah, Ke, aku gak pernah ciuman bibir sama Nabilah."
Aduh, sekarang Kezia harus berbuat apa? Dia harus mengatakan apa? Sepertinya Matias memang sudah berbicara jujur dan sangat memiliki itikad baik dengan menepati janji walau telat.