Rainy Couple

Rainy Couple
Apa Harus Putus Dulu?


__ADS_3

Di lantai tiga Pan Lova,


"Telat mulu lo, Key," gerutu Beby. Walau rada kesal, masih ada semburat kebahagiaan di wajah Beby.


"Sori, Beb," Kezia agak membungkukan badan pertanda dirinya sangat menyesal atas keterlambatannya. Walau usaha kafe itu kepunyaan sahabatnya, tetap saja yang namanya telat tak bisa ditolerir.


"Kalo lu bukan sahabat gue, gue udah pecat lu, Key." gertak sambal Beby.


"Yah, jangan, dong. Gue beneren minta maaf. Tapi, tadi gue udah usahain bangunnya pagian. Macet parah, Beb." kata Kezia dengan wajah memelas.


Beby berpijakan pada kedua bahu Kezia. Mata Beby menatap lekat-lekat Kezia. "Lu begadang lagi? Mata lu bengkak, Key. Lu masih mikirin kejadian itu?"


Kezia mengangguk pelan.


"Ya udahlah, Key. Itu juga bukan salah lu. Nggak usah sok merasa jadi pelaku. Menurut gue nih, lu itu korban. Kok bisa Matias sebejat itu?"


"Udahlah, gue males bahasnya, Beb."

__ADS_1


Beby nyengir. "Gitu, dong. Lu senyum, kantor adem. Oh iya, bentar, gue mau kasih undangan. Dua minggu lagi gue married, Key."


Beby secepat kilat bergegas menuju mejanyam Ia mengambil undangan berwarna coklat muda dengan tali hijau tua. Kezia berjalan mengikutinya. Beby segera menyerahkan undangan itu ke tangan Kezia.


"Wah, lu kok gak bilang-bilang gue, Beb? Be-te-we, selamat, yah. Udah mantep, nih. Yakin gak kepikiran cari cowok yang lain lagi?"


Beby terbahak-bahak. "******** lo! Kali ini Juan udah jadi pilihan yang terbaik."


"Yang sekarang ini namanya Juan? Perasaan yang gue tahu, nama cowok lu itu Edo. Edo dikemanain, Beb?"


"Tau tuh. Kabur kali ke Alaska. Cowok nggak jelas si Edo itu. Diajakin serius, malah lebih mentingin kompetisi game-nya. Gak banget dah!"


"Key, gue mau ngomong sesuatu, tapi jangan marah yah,"


Kezia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan Beby. Namun, Kezia memilih diam. Pura-pura tak tahu seringkali menjadi solusi terbaik, walau bisa menyakitkan.


"Apa lu seharusnya ninggalin aja si Matias?"

__ADS_1


Tuh, kan, pasti Beby akan mengungkit kejadian itu lagi. Tentang perselingkuhan antara Matias dan Nabilah.


"Ini dari kepala gue, Key. Kakak lu gak pernah ngehubungin gue juga. Yah, walau ini karena obrolan gue sama Ivy, sih. Tapi, percaya deh, ini murni buah pemikiran gue."


Kezia masih mematung.


"Menurut gue, mungkin Matias bukan jodoh lu, Key. Lu jarang banget kelihatan yang bener-bener bahagia pas bareng Matias. Ribut mulu. Dan, sekarang dia sendiri malah ada masalah sama kakak lu. Udah gitu, bukan coba diselesein, eh malah CLBK gak jelas."


Kezia masih berdiam diri. Dirinya agak menundukan kepala.


"Apa lu gak sebaiknya cari cowok lain aja? Matias biarin aja sama Nabilah. Mereka cocok kok kalo yang gue lihat. Jodohnya Matias itu di Nabilah, bukan di lu, Key."


"Gimana?" tanya Beby yang dari tadi melihat Kezia terus menerus diam. Wajah Kezia agak muram. Senyum menjauh dari wajah seorang Kezia Celine Kaunang.


"Gue gak tahu, Beb. Bingung juga. Tapi sih, gue pengin kasih Matias kesempatan sekali lagi. Lagian, dari awal, rencana pacar pura-pura itu buat baikin Kak Thalia, biar nunjukin Matias bukan cowok ********. Apa istilahnya sekarang?"


"Pakboi?"

__ADS_1


"Iya, itu."


"Yah, tapi si ******** itu malah beneren selingkuh. Dari awal, kalo gak salah inget, gue pernah ingetin lu tentang bahayanya rencana pacar pura-pura tersebut. Yang ada, malah selingkuh betulan, kan."


__ADS_2