
Di apartemen Cindy,
Demi menjaga perasaan keluarga masing-masing, terpaksa Tobias dan Kezia berbohong. Sama halnya dengan Nabilah dan Matias, mereka terpaksa melakoni suatu sandiwara, yang bahkan mengalahkan pesona sinetron yang dulu pernah menjadi primadona untuk kalangan ibu-ibu komplek yang suka berbelanja di pasar (Tersanjung, maksudnya).
Tobias dan Kezia asyik bermain game Cacing yang ter-install di komputer Tobias yang penuh dengan aneka game. Saking banyaknya game, Cindy sering mengeluh tiap menggunakan komputer. Keluh Cindy, "Buang-buangin aja kalo udah gak kepake lagi game-nya,"
"Kayaknya cocok yah mereka berdua," cerocos Cindy. "Gak sia-sia lu, Ta, ngenalin Kezia ke Tobias. Tobias jadi ceria gitu wajahnya."
"Emang biasanya dia gak ceria, Cin?" tanya Thalia serasa tak percaya.
"Ceria sih, tapi yang ini beda aja. Tobias kayak nemuin tuan putrinya."
Tak hanya Thalia, Lucy serta suami Cindy juga ikut tertawa. Suasana malam itu jadi pecah sepecah-pecahnya seperti suasana konser musik band terkenal yang akan memasuki tahap encore. Sementara, Kezia dan Tobias hanya cengar-cengir. Rencana mereka berhasil. Ada kalanya menyenangkan hati orang terdekat itu memang tak salah, walau itu harus mengorbankan kebahagiaan diri kita sendiri.
"Zia," seru Thalia. "Kamu masih lama kan mainnya sama Tobias? Kakak sama yang lainnya mau tidur dulu. Biar makin akrab, kaian bisa nonton film. Suaranya kenceng, Zia. Beda sama yang di rumah kita."
__ADS_1
Cindy terkekeh-kekeh. "Iya, daripada main game mulu. Sekali-kali nonton drama. Kezia, kamu udah pernah nonton Autumn in My Heart, belum? Kakak ada, nih. Mungkin kalo ada betinanya, Tobias baru mau nonton koreya-koreyaan."
Thalia tertawa lebar lagi.
Kezia setengah menekuk bibir. Tobias jadi memerah kedua pipinya.
❤❤❤❤❤
Di kamar Matias,
Sembari menunggu, Matias mengingat kejadian saat dirinya bersama Nabilah di Rainbow Caffee tersebut. Salahkah dengan rencana pacar pura-pura tersebut? Bukankah ini sama saja dengan selingkuh? Berzinah juga, kan? Ya Tuhan, mendadak Matias merasa menjadi orang paling berdosa sedunia.
"Hi, Brother," Ternyata online. Di layar komputer, sudah terpampang wajah Tobias yang sedikit bule. "Udah lama nunggu?"
"Sori yah, Yas. Aku nunggu yang lainnya pada tidur dulu. Terus, kemarin aku udah kecapean nemenin Kak Thalia shopping." ujar Kezia yang duduk di samping Tobias.
Matias terkekeh. Namun, saat melihat Tobias dan Kezia duduk berdampingan seperti itu, ada perasaan aneh berkecamuk di dada Matias. Perasaan aneh itu seketika membuat perasaan terdahulu tersebut sirna. Matias sontak merasa dirinya tak salah untuk melakoni sandiwara pacaran dengan Nabilah.
__ADS_1
"Ah, gapapa, Ke." kata Matias sok tersenyum. "Yang penting bisa melihat senyum kamu, aku udah bahagia."
"Uhuk-uhuk," Malah Tobias yang terbatuk-batuk.
Kezia tertawa. Matias ikutan tertawa, baru Tobias menyusul. Beberapa menit kemudian, Tobias menyingkir dari layar untuk lebih menghargai ruang privasi ke sepasang kekasih tersebut. Tobias memilih untuk bermain game melalui ponselnya. Mungkin laki-laki itu ingin push rank.
"Yas,"
"Apaan, Ke?"
"Aku boleh nanya gak?"
Kezia tampak takut-takut awalnya. Namun, daripada tak dikatakan yang bisa berujung pertengkaran dan mungkin bikin runyam situasi, lebih baik dibicarakan.
"Nabilah itu siapa?"
Dug! Jantung Matias kencang sekali berdetak. Ah berengsek, ini pasti dari Tobias. Kenapa pula teman SMP-nya itu menceritakan mengenai Nabilah ke Kezia. Ember emang lo Tobias, rutuk Matias dalam hati. Sekarang apa dirinya harus memberitahukan rencana itu ke Kezia?
__ADS_1