
Kezia terpana. Dirinya tak bisa berkata apa-apa lagi. Baru kali pertama ini bibirnya dikecup oleh seorang laki-laki. Rasanya luar biasa. Ah, luar biasa mungkin bukan kata yang tepat. Kezia bahkan sulit menggambarkan sensasi tersebut. Yang membingungkan Kezia, kenapa first kiss itu datang di saat hatinya tengah terluka. Apa maksud dari aksi Matias barusan?
Sementara untuk Matias sendiri, walau itu bukan kali pertama, ciuman itu tetap spesial. Ini bukan tentang ciumannya. Ini lebih ke arah 'untuk siapa ciuman itu diberikan'. Bagi Matias, Kezia itu perempuan yang kelewat istimewa. Kezia bukanlah obyek. Kezia adalah Kezia. Matias berharap Kezia yang akan terus menemani dirinya di kala suka maupun duka.
Dengan tangannya masih memegang tangan Kezia, Matias berlinang air mata. "Ke, sori. Yang tadi itu nggak kayak yang kamu bayangin. Aku beneren minta maaf, Ke. Maafin aku, Ke."
Ingin rasanya Matias memeluk Kezia, sayang ada Thalia yang langsung beringsut ke arah mereka berdua. Mata Thalia menatap galak, dan segera memisahkan kedua tangan yang masih saling menempel.
"Pergi lu jauh-jauh!" semprot Thalia. "Kalo cuman mau nyakitin hati adek gue lagi, buat apa? Dan, adek gue itu bukan *****, ngerti lu?"
"Tapi, Kak Thalia, yang tadi itu bukan yang kayak Kakak pikirin. Dan, Shancil itu cuman teman SD aku, Kak. Cuma teman. T-E-M-A-N!" ujar Matias dengan suara agak merintih.
__ADS_1
Untuk beberapa orang pengunjung mal, Matias terlihat seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan mainan. Untuk kali pertama, Kezia mendapati Matias sangat melankolis seperti ini. Perempuan itu bingung harus bagaimana. Memaafkan Matias-kah? Kezia tak tega melihat Matias yang merengek-rengek seperti ini. Mungkin Matias benar. Perempuan tadi bukan siapa-siapa Matias, selain hanya teman lama.
Eh, tapi tunggu. Kezia, kamu harus ingat satu hal. Teman sih teman. Masa iya harus sampai belai-belai rambut. Kamu jangan bodoh, Kezia. Dalam mencintai seseorang pun, kita perlu menggunakan otak.
Kezia menggigit bibir bawahnya. Ia bingung sekali. Namun, perasaanlah yang kembali menang. Perlahan demi perlahan Kezia mendekati Matias. Akan tetapi, sayangnya Thalia membuyarkan rencana Kezia tersebut.
Thalia menarik tangan Kezia. "Udah, Zia, kita pulang aja. Nggak usah dengerin laki-laki berandalan ini. Sekali berandalan, tetap berandalan. Tinggalin aja dia. Cari cowok yang lain. Kalo kamu mau, Kakak bantu cariin."
Tak jauh dari tempat mereka bertiga berdiri--yang menjadi bahan perhatian pengunjung-pengunjung mal, melintas taksi di depan pintu masuk mal. Tangan Thalia makin menarik kuat Kezia.
"Kebetulan taksi lewat," seru Thalia. "Ayo, Zia, kita pulang aja."
__ADS_1
Kezia akhirnya meninggalkan Matias yang masih berdiri dan tersedu-sedan. Dalam hati, Kezia mengucapkan sesuatu dengan lirih. Maaf, yah, Matias, hubungan kita sampai di sini saja. Mungkin Kak Thalia benar. Berikan juga aku waktu untuk merenung. Jangan cari aku, karena aku tak mau menemui kamu--setidaknya untuk sementara waktu.
Betapa sakit hati Matias melihat Kezia yang memunggunginya. Pada saat itu, Shanelle mendekati Matias. Teman masa kecilnya itu menyentuh pelan bahu Matias. Shanelle lalu memberikan senyuman terbaiknya.
"Matias, sori. Gue beneren minta maaf. Gue bahkan gak terlalu kenal sama Kezia. Gue juga bahkan gak tahu Kezia yang mana." ucap Shanelle begitu pelannya.
"Tapi kayaknya yang judes itu kakaknya Kezia, yah. Jangan bilang ke gue, hubungan lu sama Kezia itu gak direstui keluarganya!?"
Matias ogah menjawabnya langsung. Dia hanya berkata, "Shan,..... anterin gue pulang aja. Gue males lama-lama di mal."
*****
__ADS_1
Terimakasih yang sudah mengikuti RAINY COUPLE hingga sejauh ini! Jangan lupa like, vote, dan share nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.