
Di Pan Lova Cafe,
Pekerjaan di kafe lagi banyak. Tiga hari lagi, melalui Kezia, pajak harus segera dibayarkan. Dan, Kezia merupakan salah satu tim yang mengurusi hal tersebut.
Walau saat kuliah dulu, Kezia sempat ikut kursus pajak brevet, prakteknya mengurus pajak itu susah sekali. Ini sudah kali ketiga Kezia salah hitung. Kezia jadi garuk-garuk kepala.
Kezia berpikir untuk menenangkan dir sebentar saja. Ia minum teh manisnya yang sudah mulai mendingin. Tarik-embus napas ia lakukan. Ah, mumpung Beby tak ada di tempat, Kezia memasang lagu. Dia main sembarang pilih lagu.
BBB - Putus Nyambung
Memangnya dunia ini punyamu
Apa memang hanya ada kamu
__ADS_1
Banyak yang bisa menggantikan
Putus satu tumbuh seribu
Astaga, Kezia baru menyadari kekeliruannya. Tapi, apakah ini bisa disebut kekeliruan? Kezia dari tadi hanya mengambil ponsel, dan menyetel aplikasi MP3 di ponselnya. Ia pilih lagu secara sembarang. Lagu inilah yang terpasang.
Kezia jadi terpekur sendirian. Teh manis yang sudah dingin tersebut, ia minum lagi. Hampir saja ia menangis, walau air mata sudah mulai menetes, meskipun itu hanya setetes. Lagu ini datang di waktu yang benar--walau bisa salah juga. Itu mengingatkannya dengan pergumulan yang tengah ia hadapi.
Sudah beberapa hari ini, Thalia terus menerus merongrong Kezia agar ia meninggalkan Matias. Penyebabnya satu. Apalagi kalau bukan insiden makan malam tersebut. Sepertinya Thalia masih sebal dengan tingkah laku calon ipar yang dipilihkan Kezia. Tak ada akhlak, tak bermoral, begitulah pikir Thalia. Sudah dibaik-baikin, eh Matias malah seperti itu. Melunjak betul laki-laki yang dulunya adik kelas Kezia di SMA itu.
Lalu, mungkin karena lagunya yang cukup energik, terutama di bagian refrain, Kezia sedikit tersenyum lebar. Ia begitu semangat menyanyikan refrain lagi tersebut. "...putus-nyambung, putus-nyambung, putus-nyambung. Kalau dekat, benci. Kalau jauh, kangen. Lihat saja nanti apa yang terjadi putus ataukah nyambung..."
__ADS_1
Hampir saja Kezia menggoyangkan badannya seperti gadis-gadis remaja yang hobi joget di aplikasi TikTok. Tapi, boleh juga jika Kezia langsung membuka TikTok. Perempuan itu melirik kiri-kanan. Ternyata masih agak sepi. Hanya ada dirinya dan Mega. Mega juga terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Ivy ikut Beby ke pengadilan tata usaha negara terkait pendirian Pan Lova Cafe. Sepertinya agak lama, karena Ivy bilang, mau sekalian berbelanja untuk kebutuhan kafe. Hmmm, mungkin tak ada salahnya tiktokan sebentar.
"Ehem..." Dari arah bilik Mega, terdengar suara dehaman. "Kak Kezia asyik bener, sih. Kayak orang habis putus aja. Hehe."
Kezia jadi merah mukanya. Ia hehe-kan balik. Jawabnya, "Mumet nih kepala aku, Meg. Udah tiga kali salah hitung mulu. Joget dikit, boleh dong."
"Yah, nggak salah, sih, Kak." Mega terkekeh-kekeh. "Eh, Kak Kezia main tiktok juga, nggak? Udah lihat belum dance Tari Piring Bucin? Lagi rame loh di TikTok. Tiktokan yuk, Kak. Mumpung lagi sepi."
Kezia balas terkekeh-kekeh. "Tapi aku gak gitu jago nge-dance, apalagi yang lagi viral di TikTok itu."
"Ah, tadi kuintip sebentar, Kak Kezia sempat joget-joget sendiri. Gak sekalian ikut audisi girlband aja, Kak?"
"Kamu muji ato ngeledek, sih? Mana pantes aku ikut audisi girlband. Udah tua aku, Meg. Aku masuk, bubar girlband-nya."
__ADS_1
"Haha... aku muji loh, Kak. Lagian Kak Kezia itu jauh lebih cantik dari aku. Kulitnya putih banget. Rambutnya apalagi. Ngiri banget aku sama Kak Kezia. Pasti pacarnya bangga banget bisa punya Kak Kezia."
Kezia terkekeh-kekeh. Dia berhenti sejenak. Tak ia respon kata-kata Mega tersebut. Sekonyong-konyong dirinya terbayangkan wajah Matias. Dirinya teringat pula insiden makan malam tersebut, juga setiap kata-kata Thalia yang memohon kepada Kezia agar meninggalkan Matias. Kezia sungguh bimbang. Haruskah dirinya meninggalkan Matias di saat Matias sudah minta maaf?