
Memang sudah menjadi kebiasaan Kezia, tiap pagi dirinya selalu sibuk dengan sepeda statis yang sangat kental dengan aroma almarhumah Mommy. Sepeda statis ini Mommy yang beli atas dasar permintaan Kezia. Dengan adanya sepeda statis tersebut, Kezia tak perlu repot-repot ke tempat gym--yang mahal sekali tarifnya. Sebulan saja bisa mencapai lima ratus ribu rupiah.
Kezia berpeluh keringat di atas sepeda statis tersebut. Sudah lima belas menit dia mengayuh. Kezia sungguh perempuan yang tak kenal menyerah. Tak sia-sia ia mengayuh. Kalorinya terbuang banyak. Akhir-akhir ini Kezia menyadari dirinya memang banyak makan. Berat badannya naik delapan kilogram. Aduh, Kezia gemas sendiri melihat pipi tembamnya yang seperti kue bakpao.
"Celine," sahut Martin tersenyum. Kezia langsung menekuk bibir. Perempuan itu mendengus. Kezia masih kesal dengan sepupu jauhnya yang berkepala botak dan nyaris seperti helm tersebut.
"Apa?" tukas Kezia.
"Ngana masih marah pa kita kah?"
Kezia hanya mendengus.
"Celine, kita sekali lagi minta maaf. Karna kita, ngana pe cinta jadi berantakan."
"Setang ngana itu. Ngana beking kita so emosi."
__ADS_1
"Maaf, Celine."
"Sekarang apa mau ngana?"
"Itu, Celine. Kita mau minta maaf. Maafkanlah kita, Celine. Tuhan jo maha pengampun, masa ngana nyanda mau mengampuni kita?"
Kezia masih asyik dengan sepeda statisnya. Ia membuang muka wajahnya ke arah yang berseberangan dengan Martin.
"Jadi ngana nyanda mau memaafkan?"
"Kiapa begitu? Ngana mau nyerah pa keadaan? Padahal kita pe niat mau bantu. Jang nyerah dulu. Perjuangkan jo."
"Ngana mendadak baik pa kita. Kita jadi curiga."
Martin tertawa. "Kita tre nyanda pe maksud tersembunyi. Hitung-hitung menebus rasa bersalah jo. Itu jo kita pe alasan."
__ADS_1
"Entahlah. Kita lagi bad mood."
"Perjuangkan jo. Perjuangkan. Cinta harus diperjuangkan. Semangat!"
Kezia mendadak tertawa melihat tingkah Martin yang mengepalkan tinju ke udara. Ia menghentikan aktivitas berolahraganya tersebut. Lalu ia mulai mengelap keringat dengan handuk kecil warna ungu muda yang merupakan pemberian Matias di month anniversary yang kedua.
"Kita mau mandi dulu. Terimakasih buat kata-katanya."
Sejujurnya Kezia masih mencintai Matias. Ia belum ingin hubungannya berakhir. Kezia hanya berbohong ke Martin. Karena perempuan tersebut curiga Martin berkata seperti itu karena disuruh Thalia untuk mengorek-orek informasi. Biar bagaimanapun Kezia bukan anak kecil juga--yang mudah percaya.
Tapi, kalau dilihat dari raut muka Martin, Martin sudah berbicara jujur. Mungkin Kezia harus coba membuka hati ke Martin. Kasihan juga Martin terus menerus ia salahkan. Mungkin juga Martin bisa membantu Kezia dalam membujuk Thalia.
Baiknya bagaimana sekarang? Kezia jadi bingung sebingung-bingungnya. Baik itu tentang permohonan maaf Martin maupun tentang niat Kezia move on dari Matias. Kezia masih mencintai Matias. Namun, bagaimana dengan perlakuan sinis Thalia? Akankah Kezia memaafkan begitu saja perbuatan Matias yang sudah tega menduakan Kezia?
Ternyata kamar mandi sudah terisi. Mungkin Andre yang tengah mandi di dalamnya. Mau tak mau Kezia menunggu. Dari arah dapur, tercium aroma yang cukup wangi. Ini aroma masakan kesukaan Kezia. Kezia jadi berpikir apa maksud semua ini. Tadi Martin yang mendadak begitu baik sekali. Sekarang Thalia pagi-pagi begini sudah memasak bistik sapi. Apa sih yang tengah direncanakan Thalia?
__ADS_1
Ini kira-kira pertanda bagus atau buruk, yah?