
Apes memang Matias. Andai dia tahu bakal seperti ini kejadiannya, ia tak akan menerima ajakan Shanelle yang menawarkan diri untuk mengantar Matias hingga depan rumah Matias. Bagaimana tidak apes, ia kini menjadi bahan tontonan pengunjung Dunkin Donut. Ia berharap ada seseorang yang melempar kue tart ekstra besar ke arah wajahnya. Lebih apesnya lagi ternyata ada Kezia. Sore itu Kezia diminta tolong Thalia untuk menemani Thalia berbelanja.
"Tuh, Zia, Kakak nggak bohong, kan? Kakak punya alasan kuat kenapa Kakak nggak gitu suka kamu sama cowok berandalan ini." kata Thalia memanas-manasi Kezia. Dari dulu Thalia memang seperti itu. Bicara seenaknya yang seolah tak pernah kenal tempat.
"Kamu kok nggak ngabarin aku? Bahkan, pas ke Jepang pun, kamu baru kasih tahu aku telat. Udah di Jepang, kamu baru ngabarin." ucap Kezia. Baru kali ini Matias melihat wajah Kezia yang semarah itu. Ngeri.
Oh, ini yang namanya Kezia, gumam Shanelle dalam hati. Nggak buruk juga pilihan Matias.
Matias hanya terduduk, yang bahkan tak berani mengangkat wajahnya. Ia menggigit bibir bawahnya. Tuhan, segera percepat waktunya, ini nggak nyaman banget di posisi kayak gini, malu banget!
Thalia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ckck... udahlah, Zia, putusin aja. Lain kali kamu jangan pernah temuin laki-laki ini lagi. Dikasih hati, malah ngelunjak. Kakak udah baik-baik mau ngajakin dia makan malam, datangnya malah telat. Terus, dia malah pergi ke Jepang tanpa bilang-bilang. Balik ke Indonesia, udah sama perempuan lain. Oh iya, Nabilah ke mana? Kan, biasanya suka sama perempuan centil itu."
Nabilah? Telinga Shanelle berdiri. Ia seperti familier dengan nama tersebut. Apa dirinya kenal dengan Nabilah yang disebut oleh perempuan judes ini? Ia harap bukan Nabilah yang ia temui di Rainbow Caffee yang sudah berangkat ke Jepang.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan ini kakaknya Nabilah, yah? Masuk akal, sih. Laki-laki se***** kamu berani macarin kakak-adik sekaligus." damprat Thalia.
Matias masih tak berani mengangkat wajah. Mau menghindar dengan pura-pura ke toilet, namun Matias terlalu malu. Pengunjung Dunkin Donut lagi banyak-banyaknya.
"Yas..." desis Kezia yang sulit mengontrol air mata agar tak mengalir deras ke pipinya.
Oh, Matias tahu. Ini hanya prank. Matias coba melirik ke kanan dan ke kiri. Mungkin ada satu-dua orang yang tengah bersembunyi sambil merekam. Begitu tahu analisanya salah, Matias langsung keringat dingin. Apa ini mimpi? Ia segera mencubit kakinya untuk memastikan. Ternyata ini nyata. Entah kenapa realita selalu terasa menyakitkan.
"Ckckck..." Thalia berdecak-decak dan matanya luar biasa memancarkan kemarahan. "Diajak ngomong, malah kayak cacing kepanasan. Aku lagi ngomong sama kamu, yah, Calonnya Adik Aku. Orang ngomong, yah, mbok, diperhatikan."
"--kamu sebetulnya serius nggak sih sama Kezia?" tanya Thalia yang masih emosi.
"Kak Thalia," Kezia menarik tangan kakak nomor duanya itu agar segera menjauh dari keramaian di dalam DD tersebut. "pulang aja, Kak. Aku lagi pengen ke rumah sekarang ini. Mendadak males shopping lagi."
__ADS_1
"Apalagi Kakak, Zia. Makin lama Kakak makin eneg lihat wajah laki-laki ini. Udahlah, Zia, jangan pernah kamu temui lagi laki-laki ***** ini. Dari dulu Kakak lihat dia gak pantes buat kamu."
Seperti tergerak oleh sesuatu yang misterius, Matias sekonyong-konyong bangkit berdiri. Shanelle makin melongo. Perempuan teman masa kecil Matias itu tak menyangka saja dirinya akan melihat pertunjukan ala FTV remaja yang suka diputar di jam tiga sore di Dunkin Donut ini.
Matias mempercepat langkahnya untuk segera mengejar Kezia. Matias belum rela Kezia meninggalkan dirinya. Ah, tangan itu. Langsung saja Matias cepat-cepat meraih tangan Kezia.
"Ke, aku bisa jelasin,"
Kemudian, ada semacam dorongan misterius yang membuat ciuman itu terjadi. Bibir Matias akhirnya bertemu bibir Kezia. Itu mungkin first kiss untuk seorang Kezia. Akan tetapi, untuk seorang Matias, itu bukan first kiss. First kiss Matias justru untuk kakak dari perempuan yang masih termangu-mangu dan tak bisa bergerak tersebut.
"I don't want to lose you, Kezia. I'm so sorry." desah Matias yang mana kedua matanya jadi berkaca-kaca.
*****
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mengikuti RAINY COUPLE hingga sejauh ini! Jangan lupa like, vote, dan share nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.
Btw, gimana? Apa sebaiknya Matias sama Kezia putus aja?