
Di Rainbow Caffee,
Begitu yang lainnya satu persatunya sudah bergegas pergi, dan hanya meninggalkan mereka berdua saja, Beby beringsut ke arah Kezia yang sibuk dengan ponselnya. Tadi Beby juga baru keluar dari toilet.
"Key," ujar Beby mencolek punggung Kezia. Temannya yang lagi order satu ojek online tersebut langsung menoleh. "Yang tadi, dalem kafe, pas lagi rapat, gue minta maaf yah."
"Gapapa kok." kata Kezia tersenyum. "Kan lu ketuanya. Lu juga yang ngerancang semuanya dari awal. Lu layak kok negur gue barusan. Kebanyakan yang hadir juga lebih deket ke lu daripada gue. Lu pasti harus jaga wibawa lu kan."
"Makasih buat pengertiannya, Key. Gak sia-sia lu gue ajakin. Gue udah ngeduga lu bakal jadi rekan terbaik gue." Beby tersenyum lebar.
"Bisa aja lu." balas Kezia tersenyum.
"Oh iya, tadi siapa? Matias?"
Kezia menggeleng.
"Emang ada cowok lagi yang lagi deket sama lu selain Matias?"
"Jangan ngeledek, deh."
"Becanda, Key. Makanya, tadi siapa kalo bukan Matias. Iya-iya, gue percaya lu punya temen laki-laki lain selain Matias."
"Saudara jauh gue. Namanya Martin. Heran gue, dia dapetin nomor gue dari mana."
"Cie-cie,... yang dapet gebetan baru..."
"Apaan sih lu, Beb?"
__ADS_1
"Lu segitu cintanya sama Matias, yah?"
Kezia tak menjawab, hanya mesem-mesem tak jelas.
"Sampe merah gitu muka lo." Hampir saja Beby mau meledak tawanya. Untung Beby masih bisa mengendalikan diri.
Kezia sekonyong-konyong memajukan bibirnya. Pose paling jelek dari yang terjelek dikeluarkan Kezia, walau begitu perempuan itu masih tetap paling cantik (setidaknya untuk seorang Matias).
"Emang kelebihan Matias apaan sih? Gue kira, yang lebih ganteng dan lebih pinter tuh banyak. Anak-anak DKV yang jauh lebih baik dari Matias itu jauh lebih banyak kali, Key."
"Mmmm,..." Kezia memutar bola mata. "Gak tau yah, Beb. Gue cuma ngerasa separuh nyawa gue kayaknya ada di dia. Gue nyaman kalo bareng Matias juga. Rata-rata juga gue selalu bisa senyum lebar kalo ada Matias di dekat gue."
"...Suara hati memanggil namamu
Karena separuh aku
Dirimu 'ku ada di sini
Karena aku selalu
Di dekatmu saat engkau terjatuh..."
Beby iseng saja menyanyikan penggalan lagu "Separuh Aku" dari Noah.
"Brengsek lo, Beb!" rutuk Kezia. "Daripada lo gonta-ganti pacar kayak lagi gonta-ganti pembalut aja."
"Yee, sial lo, Key," umpat balik Beby.
__ADS_1
💜💜💜💜💜
Di deretan ruko, Matias tengah berlindung dari hujan dan petir. Tukang cendol barusan juga ikut berteduh. Lumayan banyak orang juga yang berteduh.
"Hatsyi!" Dari tadi Matias bersin melulu. Ada yang bilang, jika kita bersin sebanyak tiga kali, ada yang tengah membicarakan kita. Ah, mungkin Kezia, pikir Matias nyengir.
"Situ kayak orang lagi patah hati kalo saya lihat-lihat." desis Abang Cendol itu nyengir.
"Abang bisa aja. Emang kelihatan yah, Bang?" sembur Matias nyengir juga.
"Anak saya yang pertama, si Wawan, kayak kamu gitu wajahnya. Kusut kayak pakaian belum disetrika." jawab Abang Cendol terbahak.
Matias balas tertawa juga.
Sekonyong-konyong suara petir datang menggelegar. Satu-dua mobil mengeluarkan sirine yang lumayan kencang. Tiba-tiba ponsel seorang remaja SMA berbunyi. Ringtone-nya membuat Matias cengar-cengir. Itu kan 'Heavy Rotation' dari AKB48.
"Dangdutan, Dek?" kata Abang Cendol terkekeh. "Asyik banget jogetnya."
Matias malu sendiri. Dia memang suka begitu. Tanpa sadar badannya bergoyang sendiri kalau mendengar musik-musik yang menurutnya lumayan enak. Pernah Matias kepergok joget-joget tak jelas saat ada teman sekelasnya mendendangkan lagu "Jablai"-nya Titi Kamal.
Remaja SMA itu ikut tertawa. Beberapa orang yang tengah berteduh juga meledak dalam tawa. Aduh, makin malu Matias ini jadinya.
"Abang tahu lagu yang jadi ringtone saya?" tanya si remaja laki-laki tersebut.
Matias menggeleng. Tanpa sadar kepalanya menatap ke langit yang berawan. Dia menyiulkan satu buah lagu Jepang yang lainnya. Ini lagu Jepang klasik, yang berjudul "Kokoro no Tomo".
Bisik-bisik remaja lelaki itu mengghibahkan Matias ke temannya. Saat berhujan seperti ini, Matias jadi bahan omongan di deretan ruko tersebut.
__ADS_1
"Situ beneren kayak orang lagi patah hati." ujar Abang Cendol tertawa. Dan, sehabis itu, Abang Cendol tersebut langsung merangkul bahu Matias. "Saya buatin cendol paling enak buat situ, gimana? Gratis!"
Alamak, Matias terperanjat. Apa pula ini? Haruskah Matias menerima tawaran si Abang Cendol? Tapi, bagaimanakah dengan harga diri Matias sebagai seorang laki-laki yang katanya pria sejati?