
Matias serasa tak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya. Di benak Matias selama ini, Nabilah yang ia biasanya kenal lewat televisi dan majalah, ternyata tak jauh berbeda dengannya. Dia pikir, cara makan Nabilah itu anggun dan berkelas. Eh, nyatanya tak jauh berbeda dengan dirinya. Matias kaget, pangling, sekaligus merasa geli.
Ya Tuhan, apa aku nggak salah lihat nih, pikir Matias. Masa makan bakso sampai sebanyak tiga mangkok? Pesannya bakso yang ada tulang bakso juga. Selain itu, saus cabainya melimpah ruah di dalam mangkok bakso. Sudah begitu, kenapa mi kuningnya lebih banyak daripada baksonya? Kalau mau makan mi, pesan saja mi ayam daripada bakso. Terus, cara duduknya itu, ya ampun. Nggak takut apa Nabilah jika kedua pahanya jadi obyek tontonan?
"Apa sih?" tanya Nabilah yang mengisap-isap tulang bakso layaknya itu permen lolipop saja. Perempuan itu malah nyengir pula. Aneh.
"Nab,..." Matias masih tak berkedip. "Lu itu... aduh, gue bingung nyampeinnya gimana. Karena selama ini, di bayangan gue, lu itu nggak kayak gini."
Nabilah terbahak. "Haha... lu bukan orang pertama yang bilang itu ke gue. Orang kalau nggak gitu kenal gue, pasti kaget lihat dalemnya gue kayak gimana aslinya. Selow ajalah sama gue. Itu kan cuma di tivi. Gue orangnya sante kok. Sante kayak lagi di pante."
Matias malah belum sempat menghabiskan semangkok baksonya. Dia dari tadi sibuk memperhatikan bagaimana Nabilah menghabiskan semangkok baksonya, yang sambil berusaha memikirkan bagaimana caranya bisa mencium bibir Nabilah.
__ADS_1
Nabilah terkekeh-kekeh, lalu tangannya berusaha mengambil tisu yang lebih berada di dekat Matias. Matias membantu untuk mengambilkannya.
"Lu pikir, gue makan bakal kayak tuan putri gitu? Persis kayak di sinetron-sinetron yang rumahnya kayak istana itu? Yang makannya rapi? Gak sampe tiga mangkok? Yang nggak sambil ngupil?" Nabilah memberondongi Matias dengan beragam pertanyaan. Ini siapa sih yang jadi artis ciliknya? Nabilah atau Matias?
"Gue bukan tuan putri, apalagi seorang dewi, Matias." ujar Nabilah yang di satu sisi terlihat tegas, namun di sisi lain, terlihat main-main.
Matias hanya mengangguk-angguk sembari mulutnya membentuk huruf 'o'.
"Abisin gih bakso lu." Nabilah terkekeh-kekeh. Ia menepuk pundak Matias. "Jangan bilang lu jadi kenyang cuman gara-gara liat gue makan bakso aja? Matias, wajah gue bukan daging bakso yang bisa bikin perut lu kenyang."
"Hahaha... lucu deh lu, Matias. Ya udah, baksonya gue yang abisin yah." celetuk Nabilah lagi.
"Ambil aja." Sebagai gantinya, Matias lebih memilih untuk minum teh botol saja. "Sumpah, gue jadi nggak nafsuan makan."
__ADS_1
"Matias, lu tahu nggak? Lu itu berbeda dari cowok kebanyakan. Mau itu yang sekelas maupun kakak-kakak kelasnya, lu itu beda. Gue lihat-lihat, cuman lu yang anggep gue biasa aja. Lu gak norak, gak histeris juga. Gue nyaman di deket lu, Matias. Gue suka sama yang apa adanya kayak lu."
Matias sekonyong-konyong terbelalak. Ini maksudnya apa? Dirinya ditembakkah? Nabilah ini sedang menyatakan cintakah kepada dirinya?
💙💙💙💙💙
Di Kantor Imigrasi,
"Woy, Nab, bangun," Matias coba membangun-bangunkan Nabilah yang tertidur. Sebab, sebentar lagi giliran Nabilah. Nomor antrean Nabilah--yaitu nomor seratus dua puluh--sebentar lagi.
Nabilah spontan terbangun.
"Ngantuk, yah, Nab?" ujar Matias nyengir. "Semalam kayaknya lu begadang, yah? Bentar lagi nomor antrean lu."
__ADS_1
Nabilah mengangguk, lalu sedikit menekan kedua pelupuk matanya. Ia lalu menghela napas. Barusan dirinya memimpikan kembali saat-saat dia dan Matias masih seorang pelajar putih-biru. Yang barusan tadi, mimpi itu, itu terjadi dua minggu setelah MOS. Nabilah dan Matias makan bakso dulu sembari menunggu kedua teman lainnya (Darius dan Naomi maksudnya) datang.
Ya Tuhan, apa maksud mimpi gue barusan, keluh Nabilah. Gue pengin coba move on dari dia, kenapa malah mimpiin pengalaman bareng dia? Move on itu berat, yah?