
"Pagi, Celine," sapa Martin mengumbar senyum terindah.
Sudah beberapa hari ini, Martin serasa tengah dipeluk oleh dewi fortuna. Biarlah hanya dianggap sebagai ban serep. Martin sangat bahagia dengan perhatian-perhatian Kezia kepada dirinya. Sebelum Kezia putus, Martin seringkali mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan. Nada-nada sinis sudah menjadi makanan sehari-hari Martin sejak tinggal di rumah Kezia.
Kezia tersenyum balik. Perempuan itu masih tetap mengayuh sepeda statisnya.
"Yang kita lihat, Celine itu sudah langsing. Nda perlu kurusin badan lagi." canda Martin.
"Masa sih? Tapi, ngana nda merasa bagitu." jawab Kezia nyengir. Tampak Kezia sangat keletihan.
Omong-omong, sebetulnya alasan Kezia tiap pagi berkutat dengan sepeda statis bukan karena ingin diet. Badan Kezia sudah bagus. Kezia juga tipe perempuan yang susah gemuk. Mau makan sebanyak apapun, bentuk tubuh Kezia tetap seperti itu. Alasan sebenarnya Kezia adalah ingin move on dari Matias.
__ADS_1
"Celine masih lama kah?" tanya Martin. "Kita mau mandi dulu. Boleh kita pakai dulu kamar mandinya?"
"Ngana so pake dulu jo. Kita masih mau work out dulu." jawab Kezia tersenyum di tengah keringat yang mengucur deras.
Martin tersenyum. Laki-laki botak itu kemudian berjalan melewati Kezia. Dari arah kejauhan, Martin berhenti sejenak. Ia menoleh balik ke arah Kezia. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Bibirnya menyunggingkan senyum seolah-olah Kezia melihat ia tersenyum. Inilah sosok Kezia yang sangat menyenangkan. Tak seperti dulu, yang mana Martin tidak menyukainya. Kezia yang ini sanggup menggetarkan seluruh jantungnya.
Martin boleh mesem-mesem di belakang Kezia. Mungkin laki-laki botak itu merasa sudah di atas angin. Selama Kezia sudah sering tersenyum kepada dirinya, tak apa. Cepat atau lambat pasti hati Kezia berhasil ia dapatkan. Selama ini masalahnya itu hanya mendapatkan hati Kezia. Jika hati Kezia sudah didapatkan, yang lainnya itu perkara mudah. Bukankah Thalia suka sekali menjodoh-jodohkan Kezia ke Martin?
Setelah Martin meninggalkan Kezia, yang tak Martin ketahui, Kezia berhenti sejenak dari aktivitas work out-nya. Kezia berjongkok sebentar, lalu meraih ponsel yang ia taruh di saku celananya. Lagi-lagi foto Matias yang Kezia perhatikan. Kezia menggigit bibirnya seperti berusaha menahan atau melampiaskan sesuatu. Air matanya menetes.
Kezia memandang ke sekelilingnya. Setelah dirasa aman, Kezia berdesis, "Matias, kenapa sih aku susah ngelupain kamu? Udah berapa hari kita putus, udah berapa hari juga aku ngindar kamu, aku masih suka susah ngusir bayangan kamu dari kepala aku."
__ADS_1
"KEZIA!!!" teriak Thalia dari lantai satu. "SINI, BANTU KAKAK BIKIN BIHUN GORENG!"
"IYA, KAK. AKU KE SANA!" jawab Kezia yang segera tersadar dari kesedihannya.
Langsung saja Kezia menutup tab foto Matias pada ponselnya. Dengan handuk kecil yang terselempang di lehernya, Kezia membersihkan setiap keringat yang membasahi sekujur tubuhnya. Kezia bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur. Ada dua hal yang sanggup menghindarkan Kezia dari acara tangis menangis. Kalau tidak work out, yah memasak. Kezia sangat menyukai dan jago memasak.
***
Halo, Guys. Sorry, aku baru update lagi. Dikarenakan aku lagi sibuk banget. Belum lagi aku punya beberapa cerita yang tengah kugarap. Terlebih aku akhir-akhir ini fokus menggarap BOY'S ANGEL (bisa dilihat di side bar yang ada di blog aku: www.immanuel-notes.com). Alhasil, "RAINY COUPLE" terbengkalai, deh. Maaf, yah.
Oh iya, aku berencana untuk mengakhiri "RAINY COUPLE". Ke depannya, aku bakal sering menggarap kisah cinta Matias-Kezia ini. Stay tuned, yah. Mohon vote dan like-nya, yah. 😄
__ADS_1