Rainy Couple

Rainy Couple
Berharap CLBK - 3


__ADS_3

Di Rainbow Caffee,


HiVi - Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi?


Kini 'ku tak lagi dengannya


Sudah tak ada lagi rasa


Antara aku dengan dia


Siapkah kau bertahta di hatiku hai cinta


Karena ini saat yang tepat untuk singgah di hatiku


Namun siapkah kau 'tuk jatuh cinta lagi?


Alunan lagu dari HiVi itu menemani akhir pekan Matias dan Nabilah di Rainbow Caffee. Kafe itu masih berdiri. Masih tetap sama, walau ada beberapa perubahan. Juga, masih ada beberapa kata mutiara yang terpigura dengan baik. Satu alasan utama Matias suka mendatangi kafe itu adalah keberadaan kata-kata mutiara tersebut. Meskipun demikian, kafe ini menyajikan makanan dan minuman dengan cita rasa yang sangat luar biasa. Beby saja yang sudah memiliki kafe itu masih suka mampir ke kafe ini. Usut punya usut, Beby coba melakukan teori ATM (amati, tiru, modifikasi) secara langsung. Beberapa menu andalan Rainbow Caffee ditiru oleh Pan Lova kepunyaan Beby.


Matias menyeruput hot chocolate-nya yang sudah mulai mendingin. Nasi goreng itu sudah selesai ia tandaskan.


Sementara Nabilah masih coba menghabiskan mi pelangi-nya. Sluuurp,... Nabilah menyeruput mi pelangi tersebut. Perempuan itu agak terengah-engah menyeruput mi tersebut. Sebab, sebelum makan, seperti kebiasaannya, Nabilah mencampur mi pelangi itu dengan sambal yang lumayan banyak.


Matias tertawa.


Nabilah ikut tertawa di tengah-tengah untuk menghabisi mi pelangi-nya.


"Pelan-pelan, Nab," ujar Matias nyaris tertawa.


Nabilah berhenti mengunyah dulu. Ia mengambil segelas Moccachino. Minuman itu langsung ia tenggak. Lega sekali, walau masih terengah-engah saking pedasnya.


"Lagian, sambelnya banyak banget, sih," kata Matias nyengir.

__ADS_1


"Berisik aja lu," semprot Nabilah nyengir pula. "Oh iya, gue masih nggak habis pikir sama gosip soal lu itu."


Wajah Matias jadi bersemu merah. "Sebetulnya gue rada males ngomonginnya, Nab. Gue sendiri nggak yakin itu beneren kejadian. Tapi gue takut juga sampe dia beneren hamil."


Nabilah tertawa terbahak-bahak.


"Hehehe,... kalo sekali, nggak bakalan hamil, yah?" tanya Matias dengan polosnya.


"Hamil itu nggak semudah itu, Matias. Sekali berhubungan badan, nggak langsung bikin Shanelle hamil. Lagian kalo hamil juga, gue nggak yakin lu itu pelakunya. Shanelle itu--setahu gue--punya sisi yang kelam."


"Maksudnya?"


Nabilah mengangguk. "Yah, intinya, dia sama lu itu bedanya jauh banget. Kayak air sama api. Lu airnya, Shanelle itu apinya."


"Lu kayaknya kenal banget sama Shanelle."


"Nggak kenal-kenal banget, sih. Yah, sama kayak ke lu. Baru tahun ini gue bisa ngobrol lagi sama Shanelle. Sebelumnya, gue sama Shanelle itu sempet lost contact. Tapi, pas ketemuan sama dia--yang sebelum gue ke Jepang, gue tuh kerasa dia udah berubah banyak. Mau coba nanya, gak enak gue."


"Tapi, gue nggak nyangka lu bisa kenal Shanelle." ujar Nabilah yang kembali menyeruput mi pelangi-nya.


Pun, Matias kembali menyeruput hot chocolate-nya. "He-eh,"


"Udah, lu nggak usah takut. Shanelle nggak bakalan hamil. Hamil nggak semudah itu. Sekali berhubungan intim, nggak langsung bikin Shanelle hamil. Lagian, lu yakin ato nggak, udah ngelakuin?"


"Itu dia, Nab," ucap Matias yang sekonyong-konyong wajahnya berubah murung. "Gue sampe sekarang belum yakin apa gue beneren ngelakuin sama Shanelle. Tiap gue coba inget-inget lagi, kepala gue pusing banget. Yang gue inget, abis gue diusir dari rumah Kezia, gue mendadak pengen clubbing, terus gue minum, terus, terus, terus,... yah itu, bangun-bangun gue udah telanjang bulet di apartemennya."


Nabilah nyengir. "Iya, tadi lu udah ceritain. Dan, lu nggak usah khawatir nggak jelas dulu. Orangnya juga belum ada ngabarin apa-apa, kan, ke lu? Berarti dia belum sampe hamil."


"Gue harap, sih, gitu." Matias spontan menggigit bibir bawahnya.


"Terus, sekarang gimana? Lu sama Kezia, maksud gue? Beneren putus?" Nabilah mengalihkan topik ke arah yang lainnya, yang seharusnya ia hindari. Nabilah, Nabilah, kamu itu hobi bermain api.

__ADS_1


"Itu dia persoalan lainnya, Nab. Gue sebetulnya nggak pengen putus dari Kezia. Lu udah pernah gue ceritain, kan, gimana perjuangan gue buat Kezia?"


Nabilah hanya terdiam. Ia tak menjawab apa-apa, selain batinnya yang bergumam.


Matias, gue pengen lu lupain Kezia aja. Masih ada gue, kan. Emang lu udah lupa apa segala kenangan kita berdua pas SMP? Kata-kata gue waktu itu serius sebetulnya. Anggep, lah, gue lagi nembak lu. Dan, apa lu udah lupa soal puisi-puisi yang pernah lu kasih? Puisi-puisi itu bahkan masih gue simpen di dalam diary gue.


"Nab, "


"Eh, iya, kenapa?"


"Kok malah bengong? Hati-hati kesedak, Nab." Matias tertawa.


"Hehe,...betewe, gue masih inget, kok."


"Thank's, yah, Nab. Thank's udah mau gue ajakin ketemuan, thank's juga udah mau jadi temen curhat gue. Plong, deh. Nggak ada yang mengganjal."


"Iya, sama-sama, Matias. Lu nggak usah khawatirin soal Shanelle. Nggak bakal hamil kalo cuman sekali. Kalo hamil juga, cerdas dikit, lah. Mungkin bukan sama lu. Dan, soal Kezia, apa nggak sebaiknya lu coba move on dan cari cewek lain?"


Nabilah agak takut untuk mengucapkan tiga kata terakhir tersebut. Jantungnya langsung berdebar-debar. Kalau Matias menjawab ingin move on, apa Nabilah berani untuk menyatakan rasa terpendamnya selama ini ke Matias?


"Soal hati, nggak bisa dipaksa, Nab. Gue sampai sekarang masih sulit ngelupain Kezia. Bawaannya nggak pengen pisah. Gue ngajak lu ke sini aja, tujuan lainnya itu juga buat minta bantuan lu. Gimana caranya balikan sama Kezia, Nab?"


Giliran Nabilah yang muram. Kepala Nabilah perlahan-lahan tertunduk.


Tanpa Matias dan Nabilah sadari, obrolan mereka itu tengah dimata-matai oleh seseorang. Seseorang itu kenal dekat dengan Matias serta Kezia. Matias bahkan tak sadar seseorang itu duduk tak jauh dari dirinya. Suara Matias juga tak bisa dibilang pelan di tengah suasana kafe yang cukup ramai. Tak heran, orang itu bisa dengan seksama memperhatikan obrolan tersebut.


Akan tetapi, jangan salah. Sosok itu tak sengaja menguping. Saat sosok perempuan itu datang, Matias dan Nabilah tak menyadarinya. Dasar Ivy. Pantas saja Beby suka jantungan dibuat Ivy. Ivy memang seperti itu. Suka seperti jelangkung. Tiba-tiba muncul, tiba-tiba pergi.


Ah, Matias sungguh beruntung. Laki-laki itu masih memiliki secercah harapan untuk bisa kembali berpacaran dengan Kezia.


__ADS_1


Terima kasih yang sudah mengikuti RAINY COUPLE hingga sejauh ini! Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.


__ADS_2