
Setelah sempat mengobrol dengan Ranty--yang sempat pula tukar-tukaran nomor ponsel, tibalah saatnya Nabilah untuk memutuskan. Mendadak kepala Nabilah tercetuskan sebuah ide. Mungkin Cici Fey benar. Tak sepantasnya Nabilah mencampakkan Miiko. Dia boleh saja hendak meninggalkan Matias. Namun, bukankah akan sangat gegabah jika membuang Miiko?
Nabilah kembali ke taman belakang. Dia hendak membawa pulang Miiko. Cici Fey menyetujui. Menurut Cici Fey, keberadaan Miiko justru sangat dibutuhkan Nabilah. Selain itu, Cici Fey melihat Nabilah memang membutuhkan sesuatu (atau seseorang?) untuk memberikan Nabilah suntikan semangat. Yah, pokoknya Miiko sepertinya sangat berarti dan tak seharusnya dibuang, yang hanya karena kura-kura itu pemberian Matias, seorang laki-laki yang hendak dilupakannya.
"Miiko, kita pulang," Nabilah mencolek sedikit kepala Miiko.
Sontak Nabilah bergidik. Dia menelan ludah dan menggigit bibir bawahnya. Pikiran negatif muncul seketika. Jangan bilang Miiko...
Sekali lagi Nabilah coba membangunkan Miiko. Cangkang Miiko digoyang-goyangkan Nabilah. Berkali-kali Nabilah menggoyang-goyangkan cangkang Miiko. Miiko tak kunjung bangun. Air mata mulai menetes dari kedua mata Nabilah.
"Miiko kenapa, Nabilah?" Cici Fey sigap merangkul Nabilah.
__ADS_1
Pembantu yang lebih tua tersebut mendekati Miiko, lalu menyentuh kura-kura tua tersebut. Pembantu itu berseru, "Innalilahi..."
"Miiko meninggal, Ci," Mulut Nabilah agak tercekat. Suaranya perlahan mulai serak.
Cici Fey memeluk erat Nabilah. "Sabar, Nab. Kamu yang tabah. Belum lama kamu baru aja kehilangan Bapak kamu, eh peliharaan kamu malah ikut pergi. Cici kayaknya ngerti yang kamu rasain."
Dalam pelukan Cici Fey, Nabilah meraung-raung. Cici Fey sibuk menenangkan Nabilah dengan cara mengelus-elus punggung Nabilah. Tak jarang Cici Fey memberikan kata-kata yang sangat motivatif, yang mengalahkan Mario Teguh sekalipun.
"Ini kura-kuranya diapain, Ci?" tanya si pembantu.
Yang masih meringkuk dalam pelukan Cici Fey, Nabilah mengangguk.
__ADS_1
"Boleh Cici anter kamu pulang?" Cici menawarkan diri untuk mengantar Nabilah pulang. "Cici gak tega ngeliat kamu pulang sendirian sambil bawa Miiko pulang ke rumah kamu. Eh, tapi kamu kuat nggak? Cici nganterin kamu pake motor soalnya. Ato mau Cici pesenin taksi online aja?"
"Terserah Cici aja." jawab Nabilah pendek yang masih terisak.
"Yang tegar yah, Mbak Nabilah. Gusti Allah nggak pernah memberikan cobaan yang lebih besar dari yang kita bisa tanggung." ujar si pembantu yang ikut memeluk Nabilah.
Nabilah mendekati pelan-pelan Miiko dan memeluk erat kura-kura tua tersebut. Dia terus menerus menyebut-nyebut nama Miiko. Tapi, apa daya, Miiko sudah tak merespon lagi. Miiko sudah tak memiliki tenaga untuk berbuat apa-apa lagi.
"Ini, Cici lagi pesenin kamu taksi online," Cici Fey menunjukan layar ponselnya ke Nabilah. "Cici pikir-pikir, kamu pulang naik taksi online aja. Nanti Cici temenin, kok. Oh yah, Mbok, Mbok aja yang jemput si kembar, yah. Mungkin mereka berdua lagi nunggu di sekolah. Buruan, Mbok, kasihan mereka udah nunggu lama."
Ponsel Cici Fey bergetar.
__ADS_1
"Baru diomongin, udah nelepon kan mereka," Cici Fey mengangkat telepon. "Sayang, Mama lagi ada urusan bentar, nih. Nanti kamu dijemput sama Mbok Dar, yah."
Panggilan berakhir. Cici Fey lalu secepat kilat menyerahkan uang ke Mbok Dar. "Ini, nanti Mbok Dar jemput mereka berdua pake taksi aja."