
"Guk... guk... guk..."
Begitu dilepas, Tiyas berkeliaran di dalam kamar Kezia. Kezia terpingkal. Kezia lalu iseng mengerjai Tiyas. Kedua kakinya dinaikan ke atas tempat tidur. Spontan Tiyas menyalak lebih keras.
Kezia menurunkan sebelah kaki. Tiyas lalu mengerubungi kaki Kezia tersebut. Perempuan itu merasa kegelian. Dia pun memilih turun ke bawah tempat tidur. Tiyas langsung dipeluknya. Sesekali Kezia menyentil hidung Tiyas. Tiyas balas dengan menjilat wajah Kezia.
Dari arah pintu kamar Kezia, Andre memperhatikan. Abang iparnya itu tersenyum lebar. Di belakang Andre, ada Martin.
"Eh, Bang Andre," ujar Kezia yang masih tersenyum.
"Senang banget yang abis adopsi binatang peliharaan." sindir Andre.
"Sapa anjing pe nama, Celine?" Martin ikut menyumbang suara.
Kali ini Kezia tak menggerutu ke Martin. Luar biasa sekali pengaruh Tiyas, Chihuahua tersebut. Anjing itu sanggup menghilangkan segala kesedihan Kezia. Tiyas juga sanggup meluluhkan kekesalan Kezia dengan Martin.
"Tiyas namanya, Tin."
Martin rada ngilu mendengarnya. Tiyas, kata Celine, apa dari Matias. Sebegitu cintanya Celine dengan Matias. Hebat sekali Matias tersebut. Martin benar-benar cemburu. Ingin rasanya Martin mendapatkan perlakuan yang sama seperti yang diterima Matias dari Celine.
"Tiyas dari Matias, yah, Kezia?" terka Andre. Andre lalu beringsut ke arah Kezia. Ia jongkok dan ikut mengelus-elus Tiyas.
__ADS_1
Aduh, Abang Andre, saki ngana pe hati, keluh Martin. Sudah pasti begitu, Abang.
Haha. Padahal itu hak Andre bertanya kepada Kezia. Siapa pula Martin untuk seorang Andre, selain saudara jauh Andre. Martin juga lebuh muda.
Kezia hanya mengangguk. Kedua pipinya bersemu merah. Kepalanya agak tertunduk.
"Kamu segitu cintanya sama Matias?"
"Mmmm..." Kepala Kezia masih agak tertunduk. Semburat merah jambu itu mewarnai kedua pipi Kezia.
"Jangan sampai kakakmu tahu soal asal-usul namanya. Kamu bilang aja, inspirasi namanya bukan dari cowok itu. Kamu tahu sendiri, dia masih sentimen sama cowok itu. Abang nggak mau terus menerus ada keributan di rumah ini."
"Nda nyanda ganti jo dia pe nama?" Tanpa berpikir panjang, Martin mengajukan usul untuk mengganti nama Tiyas. "Tiyas tlalu norak. Cari jo yang lebe lucu. Tin-Tin mungkin?"
Telinga Kezia berdiri lagi. "Apa sih? Nama Tiyas juga lucu, kok."
"Kamu ini, Martin. Itu anjingnya Kezia, Martin. Terserah Kezia mau memberikan nama seperti apa." bela Andre yang ikut memelototi Martin.
"Tuangala! Jo kita pe usul, Abang, Celine. Jang emosi begitu." kata Martin cengar-cengir. Martin coba menenangkan situasi.
"Usul ditolak!" tukas Kezia.
__ADS_1
"Siap, Tuan Putri!" Martin memasang pose tengah hormat.
"Dih, emang lu pangeran gue apa?" Kezia kembali sarkastik.
Yang sabar, Martin. Toh, Martin juga yang salah sebetulnya. Saran Martin itu sedikit keliru. Kenapa juga harus Tin-Tin? Tin-Tin yang dimaksud Martin itu Tin-Tin dari serial komik Tin-Tin tersebut? Atau, kependekan dari Martin? Bisa saja laki-laki yang logat Manado-nya masih kental itu.
"Guk... guk... guk..."
Kezia berlari mendekati Tio. Tio pun sama. Mereka berlari dalam ritme yang nyaris sama. Langkahnya pun sama. Seperti sudah sehati saja antara Kezia dan Siberian Husky yang masih kanak-kanak tersebut. Pada akhirnya, keduanya saling berpelukan dan mengelus-elus.
Kejadian tadi direkam sepenuhnya oleh Chris Kaunang. Ayah Kezia yang hobi mengenakan topi bowler itu memang sengaja merekam aktivitas bermain putri bungsunya dengan anjing peliharaannya tersebut. Bukan untuk diikutsertakan dalam sebuah kontes, namun sebagai sesuatu yang bisa menghilangkan ketegangan selepas bekerja. Selain itu, video itu bisa juga sebagai dokumentasi pribadi. Bisa jadi sebuah bukti bahwa keluarga Kaunang pernah memelihara anak Siberian Husky.
"Zia, mau lihat nggak videonya?" Chris mendekati putri bungsunya lebih dekat.
"Mau, mau. Mana? Mana?" ujar Kezia yang begitu histeris.
Chris memutar ulang video tersebut. Lalu, ia perlihatkan dengan hati-hati video itu ke Kezia kecil. Kezia kecil sangat menikmati sekali. Chris mengelus-elus rambut panjang Kezia uang dikuncir dua oleh istrinya.
Ah, itulah kenangan Kezia akan masa lalunya. Benar juga. Nama Tio dan Tiyas, keduanya hampir mirip. Sepintas mata Tiyas sedikit mirip dengan Tio. Dan, keduanya sama-sama berhasil membuat Kezia tersenyum lebar, sehingga perempuan itu sanggup melupakan kesedihan.
__ADS_1