
Kezia membuka mata dengan susah payah. Ia memicingkan mata. Sudah jam lima lewat sekian. Rasanya mau tidur lagi. Tapi dirinya harus tetap profesional. Apalagi Beby galaknya setengah ******. Ah, semoga saja Beby dan lainnya tidak mengungkit-ungkit kejadian tempo lalu.
"Hoahmm..." Kezia menguap. Seperti kebiasaannya sejak kecil, jika menguap, ia pasti spontan menutup mulut dengan tangan. Mommy yang mengajarkannya.
Kezia belum membuka pintu, namun berisik sekali suara di luar. Perempuan itu hampir lupa, kakak nomor duanya itu masih tinggal serumah dengannya. Tadinya, sejak kematian Daddy yang sudah setahun lebih tersebut, Kezia ingin tinggal sendiri saja. Dia bisa mengurus rumah mewah itu sendirian saja.
"Kak Thalia kapan sih minggat? Padahal udah bagus keluarganya tinggal di rumah lamanya." Kezia mendumel.
Dengan berat hati, Kezia membuka pintu. Kezia merindukan masa-masa di mana rumah mewah itu hanya ditempati oleh dirinya sendirian saja. Kalau ada masalah seperti masalahnya dengan Nabilah itu kan, seperti kebiasaan-kebiasaan sebelumnya, mudah bagi Kezia untuk menenangkan diri. Kalau kepalanya tengah penat, ia biasanya memasang lagu dengan volume maksimal. Tenang saja, posisi radionya terletak lumayak terpojok, dan suaranya cukup teredam dengan baik.
"Eh, Kezia," ujar Andre, suami Thalia. Andre mengumbar senyuman pagi paling indah ke adik iparnya tersebut. "Baru bangun?"
"Kak Thalia gak dibantuin, Bang?"
"Ada si Martin yang bantuin kakak kamu itu."
__ADS_1
Aduh, Kezia lupa sepupu jauhnya itu masih tinggal di rumahnya juga. Entah kenapa banyak sekali yang Kezia lupakan. Kezia seperti terkena serangan amnesia mendadak. Ini lupa betulan, bukan pura-pura lupa.
Dan, bicara tentang Martin, hubungan Kezia dengan Martin tak sebaik dulu lagi. Itu sejak Martin nekat menyatakan perasaannya ke Kezia tanpa tedeng aling-aling. Tak butuh waktu sehari, jawaban "Tidak" keluar dari mulut Kezia. Martin patah hati yang paling sakit.
Kezia bukan orang yang begitu religius. Ia selalu ingat akan beberapa nasehat moralitas dari sang Mommy. Terlepas dari hubungan antar sepupu itu sudah termasuk incest (tidak bagus juga dari segi medis, karena kelak anaknya bakal cacat), Kezia memang tak memiliki perasaan spesial untuk Martin. Kezia murni menganggap Martin itu sebagai abang yang baik, yang terbaik dari segala yang baik. Yah, hubungan Martin-Kezia hanya bisa berada dalam brother-sister zon
"Ya udah, kamu mandi dulu, Kezia. Kamar mandi kosong, tuh. Abang mau nyelesein sepuluh kali lagi." Tiap pagi, Andre memang hobi nge-gym. Dan, sepeda statis ini merupakan alat gym yang paling disukai oleh Andre. Sepeda biasa, sih, Andre juga senang mengendarai, terutama sepeda fixie.
Ada-ada saja Andre itu. Menurut Kezia, Andre itu maniak gym. Kebiasaan nge-gym Andre itulah salah satu yang menyebabkan Andre suka bertengkar mulut dengan Thalia.
Aduh, ada Martin yang duduk di ruang tengah yang berada di lantai satu. Televisinya menyala. Acaranya news. Martin spontan menoleh ke arah Kezia. Ini kesempatan untuk Martin.
"Pagi, Celine," sapa Martin. "Ngana mau mandi kah?"
__ADS_1
Kezia tak menjawab, hanya tersenyum dan mengangguk.
Martin langsung bangkit berdiri dan bergerak lebih dekat ke arah Kezia. "Celine, kita rasa ngana agak menjauh dari kita. Kalau ngana pe salah kata atau perbuatan, yah kita minta maaf. Maaf kita pe salah, Celine. Kita tak boleh babadiang."
(babadiang : diam begitu saja)
Kezia berdeham, lalu batuk kecil.
"Apa maksud batuk itu, Celine? Celine sudah binci ka kita kah? Kita benar minta maaf, Celine. Maaf, yah, Celine."
"Iya." Terpaksa Kezia buka mulut. Kezia menjawab dengan ketus dengan senyum yang dipaksakan. Kapan si Botak ini kembali ke kampungnya di Sulawesi Utara sana?
"Celine, bagaimana kabar ngana pe hubungan deng Matias? Kita sangat simpati."
Sontak Kezia meradang. Ini maksudnya apa? Martin coba menyatakan lagi? Harus dengan cara apakah Kezia menolaknya?
__ADS_1