
Apa benar Kezia benar-benar berpikiran untuk meninggalkan Matias? Tadi, saat makan malam, Thalia beberapa kali menyinggung nama Matias. Wajah Kezia mendadak jadi sewot. Untuk kali pertama, Kezia memarahi Thalia hanya agar Thalia tidak lagi menyebut-nyebut nama Matias.
Thalia yang memang kurang menyukai Matias, tentu saja sangat senang dengan kondisi adik kandungnya tersebut. Ia merasa doanya dijawab Tuhan. Semoga saja ini bisa berlangsung selamanya.
Sementara untuk Martin yang berkali-kali mendapatkan perlakuan sinis dari Kezia, ada secercah perasaan senang di hatinya. Sekonyong-konyong ia merasa harapannya melambung lagi. Kadang Martin merasa Kezia dingin padanya karena sepupu jauhnya itu masih berhubungan dengan Matias. Sekarang kan Kezia tengah cekcok dengan Matias. Kezia kelihatannya serius sekali dengan niat move on dari Matias. Di saat seperti itulah, asal Martin sabar, suatu saat nanti, cepat atau lambat, Kezia akan resmi menjadi pacarnya.
"Malam, Celine," sapa Martin yang melewati kamar Kezia. Kamar Martin sama-sama di lantai dua juga.
Kezia balas tersenyum, mengangguk.
Martin makin menjadi-jadi saja. Baru diberikan senyuman saja, harapannya sudah melambung-lambung ke angkasa. Benarlah kata seorang penulis buku, ada alasan kuat kenapa istilah 'jatuh cinta' bisa muncul. Sama seperti Martin, harapannya sudah melambung-lambung hingga lupa untuk mendarat ke bumi lagi, padahal yang bersangkutan belum berkata "ya".
Namun, bagi Martin, senyuman dan ucapan "selamat malam" dari Kezia itu saja, sukses sudah membuat Martin berpengharapan setinggi bintang di langit. Martin merasa Kezia memberikan sinyal-sinyal positif untuk hubungan yang lebih lanjut.
"Besok Celine berangkatkah?" tanya Martin nyengir.
__ADS_1
"Ya iyalah, Tin, besok kan hari senin," jawab Kezia terkekeh-kekeh.
Amboy, manis betul senyuman Kezia. Begitu Martin berada di dalam kamar, ia langsung mengepalkan kedua tangan. Lagu favoritnya ia nyanyikan.
"...katakan bahwa kau menginginkan diriku..."
Kita balik ke Kezia.
Malam ini Kezia menolak untuk mengobrol dengan Melisa. Kezia beralasan bahwa dirinya mau tidur lebih cepat. Ia juga butuh waktu sendiri. Melisa paham dan tak terlalu memaksa.
Kezia tertawa terkekeh-kekeh. Apa, sih? Suka-suka aku, dong, mau nangis atau ketawa di dalam kamar sendiri.
Sebelum merebahkan diri di atas tempat tidur, ia buka kandang Tiyas dan memeluk anjing Chihuahua tersebut. Kezia membelai-belai Tiyas, dan sudah pasti perempuan itu teringat dengan Matias. Entah bagaimana caranya seekor anjing Chihuahua selalu bisa mengingatkan Kezia dengan Matias, yang terutama teringat pada ulang tahun Kezia di tahun 2014 silam.
Saat itu, Daddy masih hidup. Untuk kali pertama Daddy mengijinkan Kezia untuk merayakan ulang tahun tanpa keluarganya. Kezia diberikan ijin untuk keluar di malam harinya demi merayakan ulang tahunnya bersama pacar. Tempatnya? Di Rainbow Caffee!
__ADS_1
Wah, ternyata Matias telat. Kalau ingat kejadian-kejadian sebelumnya, Kezia maklum. Di kafe itu, Kezia terlalu menyimpan banyak harapan. Di pikirannya, Matias pasti tengah menyiapkan suatu kejutan untuk dirinya. Kejutan macam apa yang akan diberikan Matias untuk Kezia? Kezia hanya bisa menunggu untuk sebuah ketidakpastian.
Well, perlu waktu dua jam bagi Kezia mendapatkan kejutan dari Matias. Kezia perlu membayar uang di atas Rp 50.000 untuk sepiring Cordon Bleu dan Iced Coffee Latte. Saat Kezia tengah senewen-senewennya, seorang pelayan membawakan sebuah kue ulang tahun. Bukan kue ulang tahun pada umumnya. Itu hanya sebuah kue bolu pandan yang diberikan lilin berukuran usia Kezia (Hayo, tebak usia Kezia berapa?). Lima menit kemudian Matias datang. Laki-laki itu langsung menyanyikan "Love You Like a Love Song".
Sebelum Kezia yang memotong bolu itu, Matias yang terlebih dulu memotongnya. Di sinilah Kezia malah menjadi semakin sewot. Bagaimana tidak sewot, Matias memotong dengan membabibuta kue bolu pandan tersebut. Bentuk kuenya jadi semakin tak karuan saja. Kezia membentak Matias. Matias mulai pucat pasi. Untungnya, kertas kecil itu segera muncul. Kertas kecil itu berisi sketsa wajah Kezia.
Kezia tertawa sendirian. Tiyas menggonggong beberapa kali.
Seraya mengelus-elus kepala Tiyas, Kezia berujar, "Niat banget dia, Tiyas, ngasih surprise ke aku. Dia sampe minta tolong Ci Fey buat bisa masukin kertas sketsa itu ke dalam bolu pandan."
*****
Terimakasih yang sudah mengikuti RAINY COUPLE hingga sejauh ini! Jangan lupa like, vote, dan share nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.
__ADS_1