
Setelah mengurus banyak hal yang cukup merepotkan dan menguras emosi, sampai juga Nabilah di Tangerang. Ternyata masih terkejar. Jenazah ayahnya belum disemayamkan. Masih dalam proses upacara penguburan.
Dengan gontai, Nabilah keluar dari taksi. Barang bawaannya juga tak banyak. Bukannya Nabilah memiliki rencana balik ke Tokyo, hanya saja Nabilah terdesak oleh kondisi. Ia jadi tak bisa berpikir jernih. Alhasil perempuan itu hanya membawa pakaian seadanya.
Nabilah melihat rumahnya cukup ramai. Sudah terpasang tenda di depan rumah. Ada beberapa karangan bunga juga. Ke mana mana mata Nabilah berkeliaran mencari, Nabilah masih belum menemukan Nabit. Ah, mungkin saja Nabit tengah berada di dalam rumah. Ibunya juga kurang lebih sama.
Yang menyambut kedatangannya malah Naomi dan beberapa teman SMP-nya. Khusus Naomi, Nabilah sangat merindukan perempuan yang dulu sering dijadikan tempat pelampiasan curhatnya. Sudah lama tak bertemu, eh sekali berjumpa malah di situasi seperti ini.
"Hai, Nabilah," sapa Naomi. "Masih inget gue nggak?"
"Eh, Matias ke mana? Nggak ikut bareng lu?" Darius main menyalip begitu saja.
Naomi melotot ke arah Darius. Darius malah terkekeh-kekeh.
Nabilah perlahan tertawa. Setelah beberapa jam sulit untuk tertawa--yang tersenyum pun apalagi, Nabilah bersyukur masih bisa tertawa.
__ADS_1
"Udahlah, lu berdua ngapain sih? Malah berantem di rumah orang. Lagi ada yang berduka juga." kata Suhandi. "Tahu waktu juga kenapa?"
Nabilah tersenyum. "Nggak apa-apa, kok. Oh iya, kalian siapa yang ngundang? Tahu dari mana bokap gue meninggal?"
Sebetulnya Nabilah tak perlu bertanya seperti itu. Pelakunya adalah orang yang sama dengan yang merencanakan pengeroyokan Matias.
"Abang lu, Bang Nabit. Awalnya Bang Nabit ngehubungin si Tobias. Dari Tobias, lalu berujung ke Amanda, dan kita semua ngerencanain buat sekalian aja reunian. Lu kan selalu jadi murid paling istimewa di SMP Mandala." jawab Darius nyengir lebar.
"Karena Nabilah artis?" ujar Naomi yang terdengar sebagai sebuah sindiran. Kali ini Nabilah tak tersinggung. Nabilah malah tertawa.
"Dia masih ada urusan di Tokyo." jawab Nabilah tersenyum.
"Oh iya, gue lupa komiknya itu mau dijadiin animasi, yah?!" kata Tobias.
"Yang Zack Time itu, yah? Gue baca pengumumannya di Webtoon." ucap Darius.
__ADS_1
"Ngobrolnya nanti aja. Biarin Nabilah masuk dulu ke dalam rumah." sahut Amanda. "Baru pulang dia, kalian semua malah nanyain dia kayak wartawan aja."
Meledaklah tawa teman-teman SMP Nabilah. Itu termasuk Nabilah sendiri. Senangnya hati Nabilah karena memiliki teman-teman yang seperti ini. Ini membuat hari-hari Nabilah semakin berwarna laksana pelangi sehabis hujan.
Nabilah lalu mulai masuk ke dalam rumah. Teman-teman SMP-nya menjadi pengiringnya. Salah satunya, yaitu Amanda , membantu membawakan barang-barang Nabilah ke dalam, walau itu hanya sebuah koper.
"Eh, Nabilah? Baru balik dari Jepang, yah?" ujar Cici Fey, yang Nabilah temui di teras rumahnya. Cici Fey dipanggil ke rumah terkait urusan makanan untuk disajikan ke para tamu.
"Iya, Ci." ujar Nabilah tersenyum, yang mana matanya terlihat sembap.
"Cici turut berduka, yah. Cici tahu kamu sejak kecil udah deket banget sama Bapak kamu. Pasti kamu kehilangan banget. Yang kuat yah, Nab."
"Makasih, Ci."
Lalu, semua tamu yang hadir--yang kebanyakan merupakan sanak saudara Nabilah--langsung memperhatikan Nabilah. Tak jauh dari pintu masuk rumahnya, Nabilah melihat ada sebuah peti mati. Tanpa pikir panjang, Nabilah langsung saja menangis terisak-isak di depan peti mati ayahnya.
__ADS_1