Rainy Couple

Rainy Couple
Darius Krystalino


__ADS_3

"Yess!" Matias mengepalkan tinju erat-erat. Kedua matanya sangat berbinar-binar sekali. Akhirnya chicken dinner juga. Masa dari tadi dia kalah melulu? Perasaan dia tidak se-noob itu sampai kalah sebanyak delapan kali. Beruntun pula.


Tiba-tiba chat dalam PUBG itu muncul di layar ponsel. Matias memicingkan mata. Sepertinya dia kenal dengan akun PUBG yang memberikan pesan tersebut. Bukan dari namanya, LightHunter. Itu jelas nama alias. Yang dimaksud, foto yang digunakan. Si LightHunter ini memasang foto asli. Bentuk kepalanya itu mengingatkan Matias dengan salah satu teman namanya yang sudah lama tidak berhubungan.


Matias mengernyitkan dahi. Apa ini mungkin benar-benar Darius, teman main game dan kabur terbaiknya? Matias pun tertawa sendiri dengan dugaannya. Dia membayangkan masa-masa saat dirinya berada bersama Darius.


Tanpa tedeng aling-aling, Matias membuka pesan tersebut. Matias sedikit berdegup. Benar tidak dugaannya?


"Nih Matias bukan yah?" Begitu isi pesan tersebut. Yang bersangkutan ternyata online. Itu terlihat dari lampu hijau yang menyala. Kalau offline, biasanya abu-abu.


Matias gerak cepat membalasnya. Tanpa pikir panjang, laki-laki itu membalas, "Iya, itu nama asli gue (di game tersebut, Matias menggunakan nama @Barong_Ghundulz). Nih, siapa yah? Kayak kenal. Darius, bukan?"


"Haha. Masih inget aja. Perasaan gue gak pernah nulis nama asli gue."


"Lu pake foto asli, Bro. Dan, gue jadi inget pernah punya teman dengan wajah kayak gitu."


"Ganteng?"


"Najis lu. Kuping caplang, jidat kayak apa aja. Haha."


"Haha. Bangke ah, mainannya fisik."

__ADS_1


"Haha. Sori deh."


"Gak nyangka gue bisa ketemu sama lu di PUBG. Dari dulu lu gak pernah berubah. Masih demen main game tembak-tembakan."


"Survival game."


"Sama aja. Toh, pake senpi juga."


"Haha. Masih suka ngeles aja lu. Gimana? Udah ada pacar? Ato masih jomlo?"


"Udah ada buntut gue. Anak dua. Kembar."


"Wuih, si Culun akhirnya nikah juga. Bini lu cakep kan?"


"Haha. Sori deh. Haha. Nabilah maksud lu?"


"Iya, Nabilah. Gimana kabar doi lu itu?"


"Udah masa lalu, Bro. Gak sama dia lagi."


"Gak sama dia lagi? Maksud lu? Lu sempet beneran jadian sama dia? Setahu gue, sebelum gue pindah, lu masih digantungin."

__ADS_1


"Eh, lanjut lewat WA aja gimana? Nih, nomor WA gue." Matias mencantumkan nomor Whatsap-nya. "Kangen gue denger suara lu yang kayak engkoh-engkoh Roxy."


"Haha. Sial!"


Tanpa pikir dua kali, Darius memberikan nomor ponselnya. Obrolan mereka pun berpindah ke video call.


Matias ngakak.


Darius rasa tersinggung. Dia terlihat sedang menggendong anaknya yang masih balita. Seorang bayi laki-laki yang tampak menggemaskan sampai Matias ingin menopangnya.


"Udahlah, jangan bully gue lagi. Ada anak, ini gue. Gak enak dilihat."


"Sori deh sori. Namanya siapa?"


"Doni yang ini. Adiknya, Dino. Lagi bareng Mama-nya, si Dino. Oh iya, yang tadi gimana? Maksudnya, lu udah berhasil dapetin Nabilah?"


Matias hanya mengumbar sebuah senyuman.


"Gimana? Yah, gue seneng banget dengernya. Temen gue happy, masa gue gak happy juga? Impian lu jadi kenyataan juga."


Matias tak berani bilang apa saja yang sudah menimpanya selama ini. Juga, bagian dia akhirnya berani untuk menyatakan perasaannya langsung ke Nabilah, yang lalu berujung dengan keributan tak jelas antara dirinya, pacar sebenarnya, dan gebetan lamanya. Semuanya cukup pahit untuk diingat kembali. Cukup dialami saja sekali. Tak perlu diulangi. Tapi, apa bisa Matias berkata, "Sayonara, Nabilah. Gue udah move on dari lu"?

__ADS_1


"Woy, gimana? Malah cengok gak jelas. Udah beneren jadian nih? Dia kan inceran lu sejak MOS, yang ampe lu dihukum sama Pak Nelson?"


"Ceritanya panjang, Bro." Matias menghela napas. Muram sekali wajah Matias, yang bagaikan tak memiliki masa depan saja.


__ADS_2