
Begitu taksi tiba, Kezia adalah orang pertama yang keluar dari taksi. Thalia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, yang sembari sedikit berbicara yang bukan-bukan ke supir taksi. Kata Thalia, "Maklum, Pak. Adek saya baru aja putus dari pacarnya."
Si supir taksi langsung saja mendendangkan sebuah lagu yang diciptakan oleh Meggy Zakaria alias Meggy Z. "...jatuh bangun aku mengejarmu, namun dirimu tak mau mengerti. Kubawakan segenggam cinta, namun kau meminta diriku, membawakan bulan ke pangkuanmu..."
Thalia tak kuasa menahan diri untuk tak tertawa terbahak-bahak.
Kezia bergegas menghampiri kakak nomor duanya tersebut. Matanya melotot. Ia langsung menyikut Thalia.
Thalia meringis. "Adududuh.... sakit, Kezia. Nanti Kakak bakal kena sakit usus buntu lagi."
Wajah Kezia memerah. Ia tahu Thalia lagi-lagi hanya sedang menggodainya. Thalia sengaja mengungkit kejadian Kezia meninju perut Nabilah. Karena tinjuan Kezia, Nabilah jadi sakit usus buntu hingga harus dirawat di ruang ICU.
Thalia langsung merangkul bahu adik satu-satunya tersebut. Ia nyengir dan berkata, "Bercanda, Zia. Kakak cuman bercanda. Makanya Kakak bilangin, bisa yah. Dan, lain kali kamu jangan pernah temui laki-laki yang namanya Matias itu. Dimainin cowok itu nggak enak, kan."
Kezia hanya ber-mmm, lalu membuang muka ke arah yang berlawanan dengan Thalia. Selanjutnya ia mempercepat langkahnya ke arah pagar rumahnya yang kali ini dicat kuning keemasan. Thalia kembali menggeleng-gelengkan kepala, yang melihat kelakuan adik kandungnya. Dasar Kezia, kapan sih kamu dewasa, batin Thalia nyengir.
__ADS_1
Baru saja Kezia membuka pagar dengan kunci duplikat kepunyaannya, pintu depan rumahnya sudah dibukakan oleh seorang. Bukan oleh suami Thalia, bukan juga oleh Martin. Ada seorang perempuan berambut pendek dan berpipi tembam yang membukakan pintu. Kezia jadi terbengong-bengong.
"Ada tamu, yah, Zia?" tanya Thalia yang sudah menyusul Kezia.
"Iya, Kak,"
"Eh, tapi kayaknya Kakak kenal, deh. Kamu masih ingat nggak?"
Kezia menggeleng.
Kezia memicing-micingkan kedua matanya untuk coba mengingat-ingat siapakah perempuan yang berada di hadapan matanya. Eh, ternyata si perempuan memiliki alis di antara kedua bola mata.
"Lah, lupa ngana ka kita kah?" tanya si perempuan dengan posisi kedua bola mata jatuh, yang akhirnya posisi bibirnya ikut jatuh.
Kezia akhirnya ingat. Hanya satu orang dan satu perempuan yang bermimik seperti ini. "Melisa?"
__ADS_1
"Iya, Zia. Dia Melisa yang tiap Natal suka main ke rumah. Yang nama keduanya kayak nama Kakak. Anaknya Tanta Bella, Zia. Dulu kamu sama Martin suka main rumah-rumahan bareng dia, kan?"
Melisa adalah anak sulung dari Tanta Isabella Kaunang. Isabella sendiri merupakan adik bungsu dari ayahnya Kezia, Chris Kaunang. Sejak Kezia masih TK, Melisa yang paling dekat dengan Kezia. Melisa dan Kezia dulu suka sekali main rumah-rumahan dan akting-aktingan. Mereka berdua suka sekali menirukan akting dari pemain-pemain telenovela atau sinetron.
"Ah, Kak Thalia. Namaku kan Melisa Tabita Kaunang. Kalau Kakak kan..." Melisa berusaha memutar bola matanya. "...Kakak nama lengkapnya Talitha Chrissandra Kaunang, kan?"
Thalia terkekeh-kekeh. "Cuma beda satu huruf doang. Perhitungan amat kamu ini."
Melisa balas terkekeh-kekeh, lalu menatap Kezia. Dasar Melisa yang matanya cukup tajam, ia bisa melihat kedua mata Kezia bengkak. "Mata ngana kiapa?"
Eh, malah Thalia yang menjawab, "Putus dia sama cowoknya, Melisa. Kita susah kase tau ngana pe sodara. Cowoknya se bukan cowok bae-bae."
Melisa sontak memeluk Kezia. Ia membelai-belai rambut panjang Kezia yang dulu sering membuat Melisa iri. Dulu Kezia dan Melisa suka bersaing panjang-panjangan rambut.
*****
__ADS_1
Terimakasih yang sudah mengikuti RAINY COUPLE hingga sejauh ini! Jangan lupa like, vote, dan share nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.