
Ternyata Melisa memang diijinkan tinggal di rumah oleh Thalia, yang tanpa seijin Kezia. Awalnya Melisa tinggal di kota Menado, Sulawesi Utara. Mendadak bank di mana Melisa bekerja, memutasikan dirinya ke Jakarta. Yah, daripada capek-capek mencari tempat hunian, atas rekomendasi Lucy, Melisa dibiarkan saja tinggal di rumah Kezia dan kedua kakaknya yang cukup banyak dan memiliki kamar yang tak sedikit jumlahnya.
Melisa tinggal di kamar yang berada di sebelah kamar Kezia. Dulunya kamar ini merupakan kamar Thalia sebelum Thalia menikah. Lalu, kamar ini sekian tahun tak dihuni.
Sekarang, malam ini, setelah makan malam yang cukup riuh, Melisa mampir dulu ke kamar Kezia. Biasalah, namanya juga perempuan, apalagi kalau bukan untuk mengobrol yang pasti menyerempet ke menggosip.
"Kezia, tadi aku minta maaf yah. Yang pas di meja makan itu." kata Melisa yang berbarengan dengan Kezia duduk di lantai.
Sementara Kezia duduk sembari memangku Tiyas yang malam ini begitu rewelnya.
"Nggak apa-apa." ucap Kezia tersenyum.
Melisa ikut mengelus-elus Tiyas. "Kamu dari dulu nggak pernah berubah. Masih suka sama anjing. Terus, dekorasi kamar ini juga nggak mengalami banyak perubahan."
"Aku kaget, loh, Mel. Bahasa Indonesia kamu makin lancar. Dulu kan kamu terbata-bata ngomong Indonesia, dan suka nyelip kosakata bahasa Manado. Yah, walau masih kedengaran logat Manado-nya."
Melisa terkekeh-kekeh. "Kang seperti kata peribahasa, alah biasa karena biasa."
"Balik lagi Manado-nya kan. Bahasa Indonesia ajalah ngomongnya."
__ADS_1
Melisa terkekeh-kekeh. "Oh iya, Kezia, kamu sama Martin gimana? Dulu, masih ingat kan, yang waktu kita main rumah-rumahan itu. Kamu sering jadi istri, Martin jadi suaminya. Terus, anak-anak komplek sering ngeledekin kalian itu suami istri. Kalian cocok, loh, yang aku lihat."
"Apa, sih?" Kezia nyengir. "Selain karena aku sama dia yang ada hubungan sepupu, aku nggak ada perasaan apa-apa ke dia. Bagiku, Martin itu baik, lucu, pendengar yang baik, dan seorang abang yang baik."
Melisa tertawa. "Oh, begitu yah. Hehe. Yah, karena udah nemu yang ganteng kayak Matias, sih, yah. Martin dipinggirin, deh."
"Apaan, sih? Ngaco ngana batutur!" Mata Kezia melotot.
"Sori, Zia. Kita se becanda jo."
"Hufft..." Kezia menarik napas dan menyembuhkannya.
"Bukannya mau ikut campur, sepertinya kamu belum ikhlas putus dari Matias."
"Cerita aja ke aku."
Selang dua-menit kemudian, setelah bermain-main sebentar dengan Tiyas, Kezia mulai bercerita panjang lebar tentang hubungannya dengan Matias. Tanpa disadari Melisa dan Kezia, ada seseorang di balik dinding yang tengah menguping obrolan mereka berdua. Laki-laki itu menelan air liurnya dan matanya berkaca-kaca. Apa ini yang dinamakan dengan sakit yang tak berdarah?
"Celine, kote kita sadar ngana tre anggap kita abang jo." desis Martin sepelan mungkin.
__ADS_1
❤~❤~❤
Kita mundur dulu ke beberapa tahun sebelumnya. Itu saat Kezia masih kelas 1 SD. Banyak saudaranya datang berkunjung dan menginap. Maklum saja, namanya juga libur Natal dan Tahun Baru. Dari antara yang datang itu, ada Melisa dan Martin.
Kezia, Melisa, dan Martin tengah bermain rumah-rumahan seperti biasanya di halaman belakang rumah Kezia yang cukup luas. Tak hanya itu, Kezia juga mengajak dua orang teman akrabnya untuk ikut bergabung.
"Bosen ah," seru Lidya yang menekuk bibirnya. "Sekali-kali aku dong yang jadi istrinya. Masa Kezia mulu?"
"Ya udah, Lidya aja yang jadi istrinya. Aku jadi pembantunya aja." kata Kezia mengalah.
Martin yang sejak kecil sudah berambut jarang, terlihat kecewa. Ekspresi Martin itu terbaca oleh Melisa. Melisa menimpuk Martin dengan boneka bayi.
"Ngana kiapa? Wajah ngana tre kusut. Jang kwa menekuk bagitu, nda bae." ujar Melisa nyengir.
Pandangan Kezia, Lidya, dan Sheila tertuju ke arah Melisa dan Martin. Sheila langsung berceletuk, "Martin suka sama Kezia, yah?"
Entah ada angin apa sebetulnya, Kezia malah berkata seraya tersenyum, "Aku juga suka sama kamu, Martin."
Enam kata itulah yang terus terngiang-ngiang di pikiran Martin hingga dewasa nanti. Tak hanya Martin yang salah mengartikan. Kedua teman Kezia juga salah paham. Gosip lalu cepat menyebar bahwa Kezia dan Martin saling suka dan mereka berdua berpacaran.
__ADS_1
*****
Terimakasih yang sudah mengikuti RAINY COUPLE hingga sejauh ini! Jangan lupa like, vote, dan share nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.