
"Kalo inget cerita kalian berdua, dan gue percaya-percaya aja sih, apa nggak sebaiknya lu ngejarak dari Matias, Nabilah? Gue nggak tahu juga apa yang sebenarnya terjadi, tapi yang gue lihat, kayaknya gue tahu siapa sebenarnya yang lebih dicintai Matias."
Belum lepas hari kata-kata Raysa itu begitu menusuk hati Nabilah, malam ini Nabilah dikagetkan oleh satu berita. Datangnya dari Indonesia, negeri yang menjadi homeland-nya tersebut. Lewat Nabit, Mamak mengabari Nabilah bahwa Bapak sudah berpulang ke Yang Maha Kuasa. Mendengar berita tersebut, spontan saja mata Nabilah langsung meneteskan air mata.
Apa salah Nabilah? Beginikah permainan takdir tengah mempermainkannya? Belum ada setahun, belum lepas dari ingatan, Nabilah masih terngiang-ngiang bagaimana Kezia meninju perutnya hingga harus masuk ICU. Lalu, lewat satu-dua temannya, Nabilah jadi tahu tentang kabar Nabit menyuruh beberapa orang temannya untuk menghajar Matias (yang mana Nabilah tak bisa memarahi Nabit juga). Sekarang, di Tokyo ini, Nabilah terbawa-bawa perasaan amat aneh, yang berujung dengan kata-kata menohok Raysa tersebut. Terakhir, Bapak meninggal.
Begitu webcam dimatikan, Nabilah sekonyong-konyong meraung-raung. Bapak adalah orang di rumah yang sangat memahami Nabilah. Rasa-rasanya Nabilah masih tak bisa menerima kepergian Bapak akibat serangan jantung yang dialami Bapak. Kenapa harus sekarang Bapak pergi? Toh, Nabit juga belum menikah. Nabilah tak ingin menjadi anak yatim secepat ini. Tuhan, kenapa Engkau tega, rintih Nabilah tak hati.
Tok, tok, tok.
Pintu apartemen Nabilah diketuk. Sudah jam segini, sepertinya Nabilah tahu siapa yang mengetuk. Pasti laki-laki itu. Lagipula, karena rekomendasi Nabilah, laki-laki itu mengambil ruang apartemen yang bersebelahan dengan kepunyaan Nabilah.
__ADS_1
Dengan tersaruk-saruk, Nabilah memaksakan diri untuk menghampiri pintu masuk. Ia langsung membuka kuncinya.
"Nab, lu kenapa? Dari arah gue, gue denger lu nangis. Ada apa?" ujar Matias, yang semenit kemudian langsung memegang pundak Nabilah. "Eh, lu beneren nangis? Ada apa, Nab?"
"Bokap gue pergi, Matias,....." jawab Nabilah yang tak kuasa menahan untuk jatuh ke dada Matias.
Tak perlu dijelaskan panjang lebar, Matias langsung mengetahui apa yang dimaksud dengan 'pergi'. Iya, ayah Nabilah pergi selamanya, yang tidak akan pernah kembali, yang mau seperti apa Nabilah memohon-mohon. Bagaimanapun kematian adalah suatu takdir ilahi, yang tak mungkin bisa dicegah apalagi dihentikan.
"Rencananya gitu. Nyokap nyuruh gue balik. Besok pagi rencananya nyokap bakal transfer ongkos pulang. Gue diminta langsung buru-buru pulang. Yah, semoga masih keburu."
"Gue boleh ikut?"
__ADS_1
"Balik ke Indonesia? Yah, janganlah, lusa kan hari bersejarah buat lu. Lu harus jalani itu."
"Lu mungkin butuh teman, Nab."
"Gue bisa sendiri. Gue nggak kenapa-napa."
Matias memutar bola mata. "Yah, udah, besok gue temenin lu buat urus kepulangan lu ke Jakarta. Atau, lu mau sekarang urus? Yang gue lihat, ada travel agent buka dua puluh empat jam. Mau gue anterin ke sana?"
Nabilah terjatuh lagi ke dada Matias. Ia makin terisak-isak. Spontan saja ia berkata, "Andai lu itu beneren cowok gue, Yas. Gue mungkin nggak bakal ngerasain semua hal ini."
Matias tak bisa berkata-kata apa-apa lagi. Ia menundukan kepala dan menggigit bibir bawahnya. Aduh, bagaimana ini, Matias bingung. Dia sudah berjanji ke diri sendiri untuk setia ke Kezia. Namun, sisi lain dari hatinya, masih mengharapkan Nabilah. Ada semacam sukacita saat Matias mendengar kata-kata spontan Nabilah tersebut.
__ADS_1