
Sekonyong-konyong salah satu pembantu Cici Fey beringsut ke arah Cici Fey dan Nabilah yang tengah asyik mengelus-elus tempurung Miiko.
"Misi, Ci," sahut si pembantu yang kelihatannya lebih tua daripada Cici Fey. "maaf ganggu. Saya cuma mau kasih tahu, itu di depan rumah, ada tamu. Ngakunya namanya Ranty, Ci."
Cici Fey tersenyum, mengangguk-anggukan kepala. Dia kembali memandangi Nabilah. "Bentar yah, Nabilah, Cici ke depan dulu. Si Ranty udah dateng. Oh yah, Mbok, itu pesanan Ranty, tolong disiapin yah. Itu emang Si Ranty, Mbok."
"Owalah, saya kira siapa. Saya kira orang ngaku-ngaku. Kan sekarang banyak, Mbok, gitu. Orang suka ngaku-ngaku jadi seleb." kata si pembantu terkekeh-kekeh sendirian.
Baik Nabilah maupun Cici Fey, keduanya tertawa mendapati kelakuan si pembantu yang sudah sepuh sepertinya. Sehabis itu, tanpa tedeng aling-aling, Cici Fey segera bangkit berdiri dan bergegas menuju pagar rumah. Si pembantu mengikuti Cici Fey dan juga mengikuti setiap instruksi Cici Fey tersebut.
Sementara Nabilah, perempuan itu masih saja asyik sendiri dengan kura-kira peliharaannya yang ia titipkan ke Cici Fey. Dalam hati, Nabilah bergumam. Apa mungkin sebaiknya ia bawa pulang saja Miiko? Walau itu pemberian dari laki-laki yang dirinya hendak lupakan, bagaimanapun Miiko tetap Miiko. Miiko merupakan sahabat terbaiknya dalam hal curhat. Miiko tampak kegirangan saat Nabilah masih terus mengelus-ngelus tempurungnya, yang bahkan hingga kepala Miiko. Beberapa kali kura-kura tua itu bersuara yang sebetulnya cukup mengganggu. Namun, bagi Nabilah, suara Miiko itu ibarat salah satu simfoni Beethoven.
Rossa - Pudar
Mestinya kau cari pengganti diriku saja
__ADS_1
Karena kita sudah tak saling bicara
Pastikan cerita tentang kita yang telah lalu
Hanya ada dalam ingatan hatimu
Maafkan aku jika kau kecewa
Bintangmu bukanlah untuk diriku
Kutahu kau semakin terluka
Sontak Nabilah terkaget-kaget sendiri. Gendang telinganya menangkap sebuah lagu yang semasa SD dulu, amat ia sukai. Iramanya memang enak didengar. Easy listening. Akan tetapi, jika didengarkan saat kita tengah mengalami problematika cinta, hasilnya justru akan berbeda. Itulah yang dirasakan oleh Nabilah. Hatinya terasa ngilu dan tercabik-cabik mendengarkannya.
Miiko langsung Nabilah kembalikan ke kolam. Ada suatu dorongan dari dalam diri Nabilah untuk mendekati sumber suara. Ternyata sumber suaranya berasal dari arah dapur Cici Fey. Tepatnya lagi, dari arah ponsel Ranty. Nabilah jadi senewen. Ada yang namanya headset, kan. Kenapa tak menggunakan headset?
__ADS_1
"Eh, Ci, ada tamu yah, Ci?" tanya Ranty yang menunjuk ke arah Nabilah. Ranty spontan mematikan suara dari MP3-nya.
"Oh yah, Ran, kenalin, ini teman Cici. Namanya Nabilah. Kamu nggak familiar apa, sama wajahnya?" Cici Fey memperkenalkan Nabilah ke Ranty.
Ranty memutar bola mata. Bibirnya sedikit mencucung. "Kayak kenal, yah? Lagian, bodi dan wajahnya lumayan juga. Emang pernah masuk tivi juga?"
Malah salah satu pembantunya yang membalas. Kali ini yang lebih muda dan berukuran tubuh lebih mini. "Temannya Cici Fey ini dulunya artis cilik. Dulu suka tampil di sinetron "Mahkota Hati". Namanya Nabilah Angela Siregar."
"Oh, si Angel," Ternyata Ranty mengenali Nabilah sebagai Angel. "Angel yang dulu pernah jadi presenter acara tamiya itu kan? Yang juga pernah menang acara kuis, yang hadiahnya sepuluh juta itu?"
Nabilah mengangguk-angguk. Dia mendekati Ranty lebih dekat, dan menyodorkan jabat tangan. "Iya, itu gue dulu. Cerita lama, sih. By the way, lu Ranty yang main di sinetron "Pangeran Kumbang dan Putri Melati", kan? Nyokap gue suka nonton sinetronnya dan sering banget muji acting lu. Gue sih nggak hobi nonton sinetron. Tapi, gue suka aja dipaksa nyokap buat nontoninnya. Bahkan nyokap suka minta gue balik ikut syuting lagi. Gue aja yang udah ogah. Enakan gini."
Ranty terbahak-bahak. "Yah, lu ada benernya sih. Enakan jadi kayak lu. Ga dikejer-kejer deadline. Oh iya, mata lu bengkak, tuh. Lu abis nangis? Kayak orang abis patah hati. Eh, maaf, yah."
"Ehem," Cici Fey memotong pembicaraan. Perempuan itu segera menyerahkan plastik yang berisi bolu pesanan Ranty. "Iya, Ran, Nabilah lagi ada masalah sama cowok. Kompleks, Ran. Coba kalian saling ngobrol aja. Kamu kan, setahu Cici, hobi gonta-ganti cowok. Siapa tahu Nabilah dapet solusi dari kamu."
__ADS_1
"Ah, Cici bisa aja," Ranty segera meraih kantong plastik tersebut. Pipi Ranty jadi bersemu merah.