Rainy Couple

Rainy Couple
Nabilah Kapok


__ADS_3

Di rumah sakit,


Nabit masih duduk di sebelah Nabilah yang masih terbaring lemah. Sesekali Nabit membaca "Thy Will Be Done" karangan Diego Christian. Sesekali Nabit beringsut ke arah Nabilah. Dengan hati-hati Nabit meremas pergelangan tangan adik semata wayangnya tersebut.


"Nab, Nab,... ampe segitunya lu yah. Apa bagusnya Matias itu? Masih kerenan juga abang lu ini." desis Nabit, yang mengira adiknya itu masih tertidur lelap.


"Matias gak buluk kayak lu, Bit." Ternyata Nabilah terbangun. Dengan pandangan samar-samar, Nabilah mengamati kondisi sekitar. "Bit, Bapak sama Mamak ke mana?"


"Bapak ada kerjaan. Kalo Mamak, cari makan dulu di kafeteria yang di bawah." ujar Nabit yang melepaskan pegangan tangannya. "Lu cepat sembuh kenapa, Nab?"


"Iya." sahut Nabilah masih melemah.


"Mamak juga bilang, lu gak usah lagi sama si Matias itu. Mungkin Matias bukan cowok baik-baik, Nab." Nabit segera meraih novel dengan warna dominan merah tersebut.


"Mamak yang bilang? Atau lu yang bilang, Bit?" Nabilah terkekeh-kekeh.

__ADS_1


"Terserah lu aja, Nab." Nabit mendesah. "Dari dulu, lu selalu gitu. Keras kepala. Bentar, gue keluar dulu. Ntar juga Mamak ke sini."


Nabit mengambil novel Diego Christian tersebut. Dia meninggalkan adiknya untuk sekadar berjalan-jalan di koridor rumah sakit. Dia lalu duduk di salah satu bangku. Novel itu ia taruh di salah satu bangku.


Kemudian Nabit mengambil ponsel yang berada di kantung celananya. Dia coba menghubungi seseorang. Seorang teman, yang suka menemaninya main bilyar.


"Halo, Jef," sahut Nabit dengan merendahkan nada suaranya. Bagaimanapun obrolan ini sangat rahasia dan agak berbahaya. "Gimana? Udah dikasih pelajaran anak itu?"


"Santai-lah, Bos. Dateng-dateng, udah ngegas aja. Basa-basi dikit kenapa." Jefri tertawa terbahak-bahak. "Soal itu, bereslah, Bro. Gue yakin, abis itu yang namanya Matias itu pasti kapok banget udah mainin perasaan Nabilah."


"Syukurlah. Eh, tapi gak sampe mati kan?"


"Operasinya berjalan sukses. Sekarang sih kayaknya dia udah mulai agak baikan."


"Bagus deh kalo gitu. Gue turut seneng dengerinnya."

__ADS_1


💜💜💜💜💜


Pandangan Nabilah terarah ke jendela. Untung tempat tidurnya tak jauh dari jendela. Riuh sekali suasana pagi kota Jakarta. Walau demikian, pemandangan langit Jakarta tetap indah. Perempuan itu tersenyum.


Perlahan-lahan Nabilah memalingkan wajahnya ke arah nakas. Ada satu buku. Sebuah novel yang ditulis oleh orang Jepang. Yang ini memang versi Jepang. Sebab, novelnya ditulis dalam bahasa Jepang. Novel yang lumayan legendaris. Siapa yang tak kenal dengan Totto-chan.


Novel itu Nabilah beli saat dirinya masih di Jepang. Novel itu pula yang membuatnya selalu terkenang dengan Matias selama di Hokkaido. Selama membaca novel tersebut, kadang Nabilah suka merasa dirinya itu Totto-chan.


Tergelak Nabilah. Oh tidak, sepertinya Nabilah tertawa bukan karena Totto-chan. Dia tertawa saat mengingat kejadian di Rainbow Caffee tersebut.


"Cewek itu bisa agresif juga," Nabilah tertawa sembari terpingkal. Dia lalu membiarkan dirinya hanyut dalam suatu lamunan.


Kadang Nabilah merasa bersalah juga. Rencana pacaran pura-pura itu berjalan terlalu sukses. Baik Nabilah maupun Matias, mereka berdua terlalu menghayati permainan sandiwara tersebut. Yang sampai akhirnya, Matias lebih sering menghabiskan waktu bersama Nabilah daripada Kezia, pacar Matias yang sebenarnya.


Sekarang, atau nanti setelah keluar dari rumah sakit, Nabilah pasti akan kesulitan berhubungan dengan Matias lagi. Apa ini sudah saatnya Nabilah meninggalkan Matias? Bukankah Nabilah juga yang salah? Dia yang main pergi begitu saja, sekalinya muncul kembali ke hadapan Matias, malah membawa ide pacar pura-pura tersebut.

__ADS_1


"Yang namanya Kezia itu pasti segitu sayangnya sama Matias. Ampe agresif gitu." Nabilah terkekeh-kekeh.


"Apa gue ngejauh aja dari Matias? Gue kayaknya kapok ngurusin masalah orang. Biarlah Matias sama Kezia nyelesein masalahnya sendiri. Kalo Matias itu jodoh gue, pasti balik lagi ke gue."


__ADS_2