
Mahen - Pura-Pura Lupa
Pernah aku jatuh hati
Padamu sepenuh hati
Hidup pun akan ku beri
Apapun kan ku lakui
Tapi tak pernah ku bermimpi
Kau tinggalkan aku pergi
Tanpa tahu rasa ini
Ingin rasa 'ku membenci
Tiba-tiba kamu datang
Saat kau telah dengan dia
Semakin hancur
Hatiku
Jangan datang lagi cinta
Bagaimana aku bisa lupa
Padahal kau tahu keadaannya
Kau bukanlah untukku
Jangan lagi rindu cinta
Ku tak mau ada yang terluka
Bahagiakan dia aku tak apa
Biar aku yang pura pura
Lupa
Oooh oooh oooh oooh...
Tiba-tiba kamu datang
Saat kau telah dengan dia
Semakin hancur
Hatiku
Jangan datang lagi cinta
Bagaimana aku bisa lupa
Padahal kau tahu keadaannya
Kau bukanlah untukku
Jangan lagi rindu cinta
Ku tak mau ada yang terluka
__ADS_1
Bahagiakan dia aku tak apa
Biar aku yang pura pura
Lupa
Jangan datang lagi cinta
Bagaimana aku bisa lupa
Padahal kau tahu keadaannya
Kau bukanlah untukku
Jangan lagi rindu cinta
Ku tak mau ada yang terluka
Bahagiakan dia aku tak apa
Biar aku yang pura pura
Lupa
Bahagiakan dia aku tak apa
Biar aku yang pura pura
Lupa
(Headset ala DJ seperti yang tengah dikenakan oleh Youtuber sekaligus gamer, MiawAug)
Begitu dimarahi ibunya habis-habisan, Matias kembali masuk ke dalam kamarnya dengan cengengesan. Namanya juga anak muda (apalagi usia Matias masih di bawah tiga puluh). Yah, itu, masih suka masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.
Yang tadi itu, apa Nabilah itu serius? Baru kali ini Matias ditembak perempuan. Biasanya kan inisiatif menembak itu datangnya dari pihak laki-laki. Tapi ini perempuan, dan perempuan itu perempuan yang dulu meninggalkannya begitu saja.
Matias belum memberikan jawaban. Ibunya sudah bangun dan memanggil-manggil namanya dengan suara keras. Ibarat karma, Matias membalaskan apa yang telah dilakukan oleh Nabilah dulu. Dulu Nabilah meninggalkan Matias tanpa kepastian. Ditinggal saat lagi sayang-sayangnya. Kini Matias membalas perlakuan Nabilah tersebut. Dirinya meninggalkan panggilan telepon Nabilah yang butuh jawaban segera: bisa atau tidak Matias menjadi pacar pura-pura?
"Shit!" rutuk Matias. Dia coba berpikir positif. Mungkin ponsel Nabilah tengah mati. Pesan itu belum terkirimkan juga. Beberapa kali ditelepon, Nabilah tak kunjung mengangkat.
"Eh, tapi kenapa gue malah heboh sendiri gini?" desis Matias. "Nabilah itu siapa gue sih? Dia dulu juga udah ninggalin gue tanpa kepastian. Sekarang kalau gue cuekin aja, itu hak gue. Masalah gue juga sama Kezia."
Ponsel Matias berdering. Ada e-mail masuk. Dari seseorang yang dicintai Matias yang sekarang tengah berada di Singapore. Dari Kezia.
👧 Matias, yang tadi itu aku minta maaf, yah. Aku gak tahu dia itu teman kamu. Dan bukannya sebelum berangkat ke Singapore, ini udah jadi bahan pembicaraan kita, yah? Sori banget, yah. Gak ada maksud nyalahgunain kepercayaan kamu.
Matias lumayan terenyak. Dia bingung apakah harus dijawab atau tidak. Aduh, dari bahasa Kezia, mendadak Matias merasa bersalah. Justru Matias yang coba menduakan Kezia. Tiba-tiba saja dirinya terbuai dengan masa lalu. Ditembak oleh Nabilah, Matias merasa separuh dunia sudah digenggamnya. Isi doanya sudah dijawab Tuhan.
Tangerang, 10 Agustus 2009
Mengapa seperti ini?
Bibirku selalu saja kelu
Bagaikan bibir ini sudah dilem saja
Berkali-kali seperti itu
Padahal aku sering bertemu kamu
Nabilah...
Kamu itu...
__ADS_1
Apa yang aku harus bilang?
Sulit kuutarakan dengan kata dalam bahasa manapun
Kamu cantik, iya
Senyuman manis, iya
Kusuka lihat rambut panjangmu berderai-derai
Dada ini bergetar-getar dahsyat
Tuhan,
mengapa sulit menyatakan cinta?
Dia berada di dekatku melulu
Ingin rasanya kunyatakan
Namun sedikit pun tak bisa keluar
Mengapa seperti ini?
Satu kalimat
Tiga kata
Sulitnya minta ampun
Nabilah,
aku sungguh mencintaimu!
Sekonyong-konyong puisi tadi melintas di benak Matias. Puisi yang seharusnya diberikan Matias ke Nabilah. Saat itu Matias pikir, jika sulit menyatakan langsung, katakanlah itu melalui puisi (begitulah kelakar Bu Retno, guru Bahasa Indonesia saat Matias SMP). Puisi sudah dibuat. Menyampaikannya yang sulit. Bukan tak mau usaha, tapi itu dia, sekujur tubuh Matias sekonyong-konyong menjadi kaku tiap hendak menjalankan niatnya.
Padahal, saat itu, Nabilah sering berada di dekat Matias. Sering main playstation bareng. Sering belajar bareng. Sering nge-bakso bareng. Sering bareng-bareng lainnya. Tapi, tetap saja hanya menjadi wacana di dalam kepala Matias.
🔁🔁🔁🔁🔁
Jantung Matias berdebar-debar. Semangkok bakso itu dibiarkan begitu saja. Dirinya terus menatap Nabilah secara tak wajar. Cantiknya teman sekelasnya ini. Pokoknya ia harus bilang, walau bibir ini seperti sulit terbuka.
Nabilah, lihat ke sini, bentar aja lihat ke arah gue. Ada yang gue mau bilang sama lu. Tengok dulu ke arah gue barang lima detik, Nabilah, batin Matias meraung-raung kencang.
Apa ini namanya? Matias jadi kaget sendiri. Doanya terkabulkankah? Sontak Nabilah menengok ke arahnya. Gadis itu tersenyum manis ke arahnya. Amboi, cantiknya Nabilah itu. Pantas Nabilah menjadi idola di kelas tujuh.
"Abisin, Yas," ujar Nabilah yang tampak kepedasan. "Apa mau gue suapin?"
"Ng-ng-nggak usah, gu-gu-gue bisa sendiri," Matias segera menusuk salah satu baksonya dan mengunyahnya.
"Hahaha,..... biasa aja-lah. Lucu lu, yah?!" sahut Nabilah. "Eh, Yas, main ke rumah lu abis ini. Lanjutin lagi Harvest Moon-nya."
"Boleh. Eh, lu yang bayarin yah? Ntar gue ganti. Terus nanti ajarin gue dong. PR Matematika tadi susah banget. Gue gak nangkep-nangkep."
"Beres dah. Tapi nanti ajarin gue bahasa Jepang lagi, yah, Yas."
🔁🔁🔁🔁🔁
Kepala Matias memutar kejadian saat dirinya dan Nabilah tengah berada di kantin sekolah. Selalu seperti itu. Peluru cinta sudah siap ia gelontorkan, begitu Nabilah menengok, buyar sudah.
Sekarang pun sama. Bedanya dengan yang dulu, tak mungkin Matias utarakan. Matias sudah memiliki pacar. Sudah ada Kezia. Nabilah hanyalah masa lalu, walau bayangan demi bayangan masa lalu terus menyeruak di pikiran Matias.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Baru Matias pikirkan, orangnya sudah mengirimkan pesan.
👱 Sori, Yas. Mendadak low-bat. Gimana? Mau gak? Yang soal pacar pura-pura itu?
__ADS_1
Aduh, Matias harus balas apa? Kasihan Kezia. Atau begini saja, Matias terima saja dulu, nanti Kezia diberitahukan mengenai rencana pacaran pura-pura dengan Nabilah tersebut. Maukah Kezia menyetujuinya? Aduh, pusing sekali kepala Matias.