
JKT48 - Kokoro no Placard
Lihat ke sini sebentar saja
Ayo sadarlah pada keberadaanku
Lihat ke sini lima detik pun
Lihatlah diriku yang di dekatmu
Tetapi sebenarnya
Walau mata bertemu
Sebentar dan tidak sempat
Mengucapkan apa pun
Papan penanda isi hati
Padahal jika kau melihat
Pasti akan mengerti
Perasaanku
Jika di sini aku tulis
"Aku suka pada dirimu"
Walau dada berdebar
Walaupun berkeringat
Bisa ungkapkan cinta
Give me a chance, sekali saja
Berdoa sendirian sambil menunggu
Give me a chance, kebetulan pun
Ayolah kau menengok ke arahku
Harus beranikan diri
Lalu mulai menyapa
Meski mudah diucapkan
Sulit 'tuk dilakukan
Papan penanda isi hati
Masukkan tangan dari mulut
Ganjalan hatiku ayo ambillah
Aku suka pada dirimu
Jikalau itu kusampaikan
__ADS_1
Walau tidak dijawab
Walau tampak kesulitan
Bisa jadi happy
Semua orang menyimpan
Kata-kata yang penting
Jauh di suatu tempat
Di dalam lubuk hati
Papan penanda isi hati
Padahal jika kau melihat
Pasti akan mengerti
Perasaanku
Jika di sini aku tulis
"Aku suka pada dirimu"
Walau dada berdebar
Walaupun berkeringat
Bisa ungkapkan cinta
Papan penanda isi hati
Apa yang kau pikirkan
Terus teranglah
Jika tak bisa diucapkan
Cukuplah dituliskan saja
Yang ingin disampaikan
Yang ingin diucapkan
Sadarilah tandaku
💛💛💛💛💛
Sambil menyiul-nyiulkan lagu "Kokoro no Placard", Nabilah berjalan menuju kolam ikan yang terletak di belakang rumahnya. Di dalam kolam itu tak hanya dihiasi oleh beberapa ikan hias, namun juga oleh seekor kura-kura yang sudah berusia.
Nabilah kurang tahu berapa pastinya usia kura-kura yang berwarna hijau kecerahan ini. Yang pasti, dulu kura-kura ini tak berukuran sebesar ini. Masih kecil, dan pemberian dari seorang laki-laki yang menurutnya, cukup teledor. Nabilah jadi tertawa, mengingat kejadian tersebut.
Kura-kura itu diberikan nama Miiko, yang sesuai dengan nama tokoh komik dari Jepang barusan. Ide nama tersebut datang dari laki-laki itu juga. Nabilah kebetulannya suka dengan nama tersebut. Lucu, katanya. Cocok sekali dengan kura-kura yang dulunya memang masih lucu kelihatannya.
Nabilah sekonyong-konyong mengangkat kura-kura yang sudah tak muda itu lagi. Dia meletakannya di atas pangkuannya. Dibelai-belainya cangkang Miiko. Perlahan-lahan dia mengangkat Miiko searah dengan bibirnya. Tenang saja, Miiko sudah tak seagresif dulu. Begitu Nabilah mencucungkan bibirnya, Miiko sepertinya tahu dan balas mencucungkan hidung pula. Nabilah dan Miiko saling berciuman.

"Miiko," kata Nabilah yang nyengir. "Akhirnya aku ketemu dia. Itu, loh, dia yang dulu hadiahin kamu ke aku. Setelah sekian lama menunggu, aku bisa ketemu dia juga. Senang banget aku tuh."
__ADS_1
Kedua kaki Nabilah heboh sendiri di atas lantai yang berubin. Dia menari bersama Miiko sambil menyanyikan lagu "Feeling Good like I Should". Tanpa disadari Nabilah, aksinya itu diperhatikan oleh Nabit, abang satu-satunya Nabilah.
"Ehem,....." deham Nabit yang berkulit agak gelap, tambun, namun tegap ala tentara. "Ngapain sih lu, Nab?"
Nabilah menghentikan aksi joget tak jelasnya bersama Miiko. Wajahnya memerah. Pelan-pelan ia meletakan Miiko ke pinggir kolam.
Nabit terbahak-bahak. Ia beringsut lebih dekat ke arah Nabilah. "Kenapa lu? Happy banget. Oh gue tahu, baru dapet pacar lu, yah. Akhirnya adek satu-satunya gue ini bisa punya cowok juga.Udah gak bisa dong, gue ngeledekin lu jelek lagi."
"Yeee... sialan lu, Bit!" semprot Nabilah, yang balik ke karakter utamanya: judes.
🔁🔁🔁🔁🔁🔁
Inilah kebiasaan Matias yang tak banyak diketahui oleh teman-temannya. Ternyata Matias senang barang gratisan. Dirinya suka berlama-lama di dekat gerbang sekolah lain--yang tak jauh dari mal WTC Matahari Serpong--demi mengikuti undian dari abang penjual mainan. Semacam judi kecil-kecilan, namun hadiahnya itu beranekaragam benda-benda menarik yang tengah digandrungi remaja-remaja seusianya.
"Ya Tuhan, Matias," Nabilah geleng-geleng kepala. "Lu hobi ikut kayak ginian? Ckckck..."
"Lumayan, Nab. Kapan lagi coba, cuma bermodalkan duit sepuluh ribu, bisa dapetin PSP yang kalau di pasaran, harganya bisa ampe sejutaan. Lumayan buat gue hemat duit."
"Padahal keluarga lu kaya raya. Kalo mau sesuatu, tinggal bilang aja. Suruh transfer, beres kan?"
Matias tergelak. "Gue pengin coba usaha sendiri, Nabilah. Gak pengin bergantung ke mereka juga. Lagian mereka balik juga cuma berapa kali dalam setahun. Gue di rumah harus hemat-hemat."
Nabilah kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. Gemas sekali dengan teman laki-lakinya tersebut.
"Itu mah bukan kerja keras namanya. Itu cuma hoki-hokian aja, Matias. Boros juga."
"Alah, kata siapa. Gue mikir juga. Belajar mengasah intuisi gue sendiri. Lu masih ingat yang dibilang Pak Nelson soal Peluang. Nah, gue lagi ngikutin saran dia."
Nabilah tertawa. "Apa kata lu aja deh. Dan, gue mau lihat apakah ada hasilnya lu dengerin kata-kata Pak Nelson itu."
Matias langsung menyerahkan selembar uang sepuluh ribu rupiah ke abang penjual mainan tersebut. Begitu diijinkan, Matias berdiam diri dulu sebentar, menghela napas, dan bersiap diri. Ia mulai menyentuh benang-benang yang semrawutan tersebut.
"Cuman dapet lima giliran yak, Dek. Kalo gak dapet yang dipengenin, sepuluh ribu lagi." kata si abang tersenyum hambar.
Giliran pertama, Matias mendapatkan boneka Barbie.
"Buat lu aja, Nab. Bukan yang gue pengenin." kata Matias menyerahkan sekotak boneka Barbie. Nabilah langsung menerima dengan kagetnya. Di dalam benaknya, ia serasa diberikan kado Valentine (di kemudian hari boneka itu masih disimpan Nabilah).
Matias menarik lagi. Ah, sial, sekarang malah hanya mendapatkan sekotak oreo isi empat. Lagi-lagi Matias memberikannya ke Nabilah. "Nih, kalo lu laper, makan nih oreo,"
Nabilah cengar-cengir sendiri. Ini maksudnya apa? Apa jangan-jangan Matias sengaja?
Si abang tertawa dan bicara sendiri tanpa diminta. "Dia emang gitu. Kalo gak dapet, pasti suka dikasihin ke orang."
Nabilah kecewa karena terlalu percaya diri. Dia kira Matias sengaja melakukannya. Ternyata dua benda tadi bukan kejutan Matias untuk Nabilah. Namun, tetap saja, sisi lain Nabilah merasa Matias mem-PHP-kan dirinya.
Kali ini giliran ketiga. *****! Ternyata tak ada hadiah di ujungnya. Zonk ini namanya.
Giliran keempat, Matias mendapatkan kaset game terbaru dari game favoritnya, Call of Duty. Lumayanlah. Setidaknya tak sia-sia penarikan undian kali ini.
Di kesempatan terakhir, Matias mendapatkan seekor anak kura-kura yang lucu nan menggemaskan. Anak kura-kura ini begitu agresif. Berkali-kali jari Matias digigit. Nabilah juga menderita hal yang sama. Sampai akhirnya, abang tersebut meletakan anak kura-kura itu ke dalam kotak yang sudah dipersiapkan.
"Buat lu aja, Nab," Matias menyerahkan kotak kura-kura itu ke Nabilah.
Lalu, sembari jalan menuju rumah Matias--karena sudah janji untuk main game bareng, Matias dan Nabilah menikmati oreo tersebut. Lumayan untuk mengganjal perut.
"Makasih, Matias. Lu baik banget udah kasih tiga kado, padahal gue nggak ulang tahun. Tapi, buat yang terakhir, lu emang gak suka kura-kura?"
"Suka sih, tapi gue gak punya tempatnya di rumah. Lagian, lu kan bukannya ada kolam di belakang rumah? Tarok di sana aja."
Nabilah terkekeh-kekeh. "Masih inget aja lu, ah. Be-te-we, kita kasih nama siapa kura-kura ini."
__ADS_1
"Terserah lu aja. Mau lu kasih nama dari tokoh komik favorit lu, Hi Miiko!, juga gapapa."
Nabilah nyengir dan memutar bola mata. "Miiko yah? Nama yang boleh juga. Hei, mulai sekarang nama kamu Miiko kayak kamu yang lucu banget."