Rainy Couple

Rainy Couple
Masa Lalu Matias - 1


__ADS_3

Matias terus saja mengetuk pintu apartemen Nabilah. Hasilnya, Matias selalu tahu, Nabilah belum kembali ke Tokyo. Sudah hampir dua minggu, Nabilah masih di Jakarta. Matias sepi karena itu. Tak ada teman mengobrol. Tak ada pula teman untuk gila-gilaan bareng.


Well, seharusnya tak ada Nabilah pun, Matias akan baik saja-saja. Untuk menghilangkan kebosanan, dia bisa saja mampir ke rumah Raysa, walau laki-laki itu tak terlalu mengenalnya. Atau Matias mampir saja ke Akihabara. Di sana banyak toko mainan apalagi yang berbau video games. Oh, jangan lupakan distrik Shibuya. Di sana banyak taman yang sangat indah. Pengamen-pengamen di sana, menurut Matias, unik-unik (Matias tak akan bosan menonton atraksi setiap pengamen). Hanya saja, tetap Matias sekonyong-konyong merasa yang aneh.


Perasaan aneh ini disebut apa, yah? Nabilah bukan siapa-siapa Matias, selain hanya teman. Tapi, Matias merasa kesepian saat Nabilah tak ada di sekitarnya. Ada-tidaknya Nabilah, seharusnya sama saja. Walaupun demikian, Matias tetap merasa ada yang kurang di saat Nabilah tak ada di sekitarnya.


Sembari menghisap es boba, Matias memandangi beberapa foto dirinya bersama Nabilah. Matias terpingkal-pingkal sendiri di bangku taman. Beberapa pengunjung memperhatikan Matias. Untung saja Matias tengah memegang ponsel. Mereka bisa saja menganggap Matias sedang melihat sesuatu yang lucu di ponselnya.

__ADS_1


"Nab, lu lagi ngapain? Kapan lu balik lagi ke Tokyo? Sementara gue senin besok sudah balik ke Jakarta. Gak ada niat apa nganterin kepulangan gue ke Jakarta? Jahat lu ah, jadi temen?" keluh Matias.


Kini Matias tertawa. Dari sedih karena kangen, dirinya jadi terpingkal-pingkal. Di depan matanya, ada pemandangan yang membuatnya terpingkal. Ada seorang pengamen yang mengenakan topi bowler yang malah jadi bahan tertawaan. Pasalnya, pengamen tersebut ditertawakan karena ulahnya sendiri. Beberapa kali si pengamen lupa lirik. Ketiga orang temannya jadi gemas. Salah satu temannya yang berposisi sebagai gitaris, menghampiri dirinya yang berposisi sebagai vokalis. Dia diomeli.


"Kamu ini," Si teman berdecak. "Kita mau tampil, kenapa malah lupa lirik? Lagu yang mau kita nyanyikan itu "Let It Be", kamu malah menyanyikan "Himawari no Yakusoku"."


(Slang dalam bahasa Jepang untuk kata maaf)

__ADS_1


Matias bangkit berdiri. Dia penasaran dengan apa yang terjadi. Langkah kakinya dipercepat. Satu-dua pengunjung ia tanyakan. Salah seorang berkata, grup musik itu memang lebih mirip grup komedi. Mereka memang lihai menunjukan mereka melakukan keteledoran. Sebelumnya pernah terjadi insiden salah alat musik. Si gitaris sok bermain gitar, padahal di depannya piano.


Matias tertawa terbahak-bahan mendengarkan cerita tersebut. Cara yang aneh untuk menghibur orang. Tanpa pikir panjang juga, Matias melemparkan uang ke dalam tempat yang sudah disediakan.


Mata Matias terus memandangi grup musik yang sangat teatrikal tersebut. Lambat laut dirinya terbawa suasana dan mengingat kejadian lucu yang sejenis saat dia masih pelajar SD. Kalau tak salah ingat, itu saat acara perpisahan sekolah. Dan, Matias dipaksa untuk tampil solo di panggung. Demi membuat Matias tampil solo di panggung, beberapa temannya mengiming-iminginya dengan kata 'Julia'.


Julia itu nama perempuan yang ditaksir Matias. Itu kakak kelas Matias yang sudah lulus SD. Ada seorang teman yang bilang, sebaiknya Matias menyanyi solo saja di depan panggung, lalu teman-temannya akan membantunya agar perasaannya tersampaikan ke Julia, yang berambut keriting dan bertahilalat di dekat mulut. Eh, yang ada, Matias terus menerus tergeragap di atas panggung. Sudah begitu, dia lupa lirik dan fals pula. Kepala sekolah jadi marah. Banyak penonton malah menertawakannya. Parahnya lagi, Matias tak melihat ada Julia di acara perpisahan. Usut punya usut, Julia sudah pindah duluan ke Surabaya. Sakitnya tuh di sini, begitula pikir Matias sambil mengenang masa lalunya.

__ADS_1


"Ya Tuhan, kenapa gue malah inget Kak Julia, yah? Kak Julia gimana juga kabarnya?"


__ADS_2