
Pasokan oksigen yang ingin masuk ke paru-paru Rayya seakan tercekat di tenggorokan, saat dia melihat sosok yang sampai saat ini belum hilang dari dalam hatinya, walaupun sudah dia coba kubur berkali-kali.
Ramadhan pun yang menyadari kehadiran Rayya di hadapannya langsung tertegun hingga akhirnya mereka berdua saling menatap dengan lekat seolah mewakilkan perasaan mereka masing-masing walaupun tidak bisa diungkapkan lewat mulut mereka.
" Rayya?"
" K-kak Rama?" Rayya yang tersadar dari ketertegunannya langsung membalas sapaan Ramadhan walau dengan gugup. Entah ke mana sikap tegarnya yang selalu dia pasang setiap berhadapan dengan Ramadhan? Sepertinya saat ini dia kehilangan itu hingga membuat dia gugup.
" Kamu ada di sini?" Ramadhan seolah masih tidak mempercayai pandangan matanya.
" I-iya, Kak. A-aku menemani Mommy, permisi, Kak." Rayya buru-buru masuk ke dalam toilet wanita karena dia takut tidak bisa mengontrol dirinya yang saat itu merasakan debaran jantungnya yang tak karuan.
" Ya Allah, kenapa aku jadi grogi seperti ini?" Rayya berkaca dia depan cermin. " Jangan, jangan seperti ini! Aku nggak boleh lemah!" Rayya menghempas nafas kemudian menyelesaikan keperluannya di dalam toilet dan setelah itu keluar dari toilet.
" Rayya, Kakak ingin bicara dengan kamu."
Rayya terkesiap saat mendapati Ramadhan yang ternyata masih berdiri di tempat tadi mereka saling bertemu.
" K-kak Rama mau bicara apa?" tanya Rayya heran.
" Ikut, Kakak!" Ramadhan lalu menarik tangan Rayya membuat Rayya terperanjat karena saat ini tangan Ramadhan mencengkram lengannya.
" K-kak Rama mau bawa Rayya ke mana?" Rayya merasa heran karena Ramadhan membawanya ke arah pintu samping gedung itu dan menuju mobil Ramadhan lalu menyuruh Rayya masuk ke dalam mobil itu.
" Kak Rama mau apa? Kak Rama mau bertunangan dengan Kak Farah. Kenapa Kak Rama malah pergi?" Rayya benar-benar merasa khawatir karena Ramadhan justru menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan gedung yang dijadikan tempat untuk melaksanakan pesta pertunangan Ramadhan dan Farah.
" Kak, Kak Rama mau bawa Rayya ke mana? Mommy aku pasti cemas kalau aku pergi seperti ini, Kak." Seketika rasa cemas itu semakin menguat di hatinya. Dia takut Ramadhan akan melakukan sesuatu yang akan menjadi masalah. Di hari pertunangan Ramadhan, yang dia dengar tadi jika acara akan segera dimulai, Ramadhan malah pergi bersama dirinya. Dia tidak bisa bayangkan bagaimana situasi di gedung saat tahu Ramadhan menghilang dari sana. Dia juga tidak bisa membayangkan jika Daddy dan Mommy tahu jika saat ini dia justru bersama Ramadhan.
" Kak, tolong kembali ke gedung tadi. Kak Rama harus bertunangan dengan Kak Farah. Orang-orang di sana pasti akan kebingungan karena Kak Rama tidak ada di sana." Rayya membujuk Ramdhan yang nampak bergeming tetap konsentrasi dengan jalanan di depannya.
Sedangkan di gedung tempat diadakan acara pertunangan. Anindita dan Ricky nampak panik karena Ramadhan tidak juga ditemukan.
" Aduh, gimana ini, Pa? Rama ke mana? Kenapa dia menghilang begini?" Anindita nampak senewen saat diberitahu anak buah Ricky jika Ramadhan tidak diketahui keberadaannya.
" Anak itu selalu saja bikin masalah, selalu saja bikin malu keluarga!" geram Ricky.
" Om, Tante, Mas Rama di mana, ya? Kok belum juga kelihatan? Sudah dicari di setiap sudut ruangan juga tidak ada. Bagaimana ini Om, Tante? Tamu-tamu undangan sudah datang, wartawan juga sudah siap untuk meliput." Farah yang mendekati Ricky dan Anindita pun langsung terlihat gelisah. Farah sebenarnya khawatir jika Ramadhan akan berubah pikiran dan meninggalkannya di hari pertunangan mereka.
" Farah, kamu tenang dulu, kami sedang berusaha mencari keberadaan Ramadhan saat ini." Ricky mencoba menenangkan Farah yang terlihat khawatir.
" Farah takut Mas Rama kabur, Om." Farah mengungkapkan kecurigaannya.
" Tidak mungkin Rama kabur, Farah." Anindita mencoba berpikiran positif terhadap putranya.
" Iya lalu di mana Mas Rama sekarang, Tante? Teleponnya nggak juga diangkat, pesan pun nggak dibaca." Antara cemas dan kesal kini bercampur aduk di hati Farah.
" Kamu kembali dulu ke tempatmu, Farah. Om akan berusaha menemukan Rama." Ricky meminta Farah untuk kembali bersama kedua orang tuanya, membuat Farah pun mengikuti apa yang diperintahkan Ricky kepadanya.
Sementara Azzahra yang sejak tadi menunggu Rayya tak juga kembali dari toilet, membuatnya memutuskan untuk menyusul putrinya itu di toilet. Namun Azzahra tidak menemukan keberadaan putrinya itu di sana.
" Rayya kok nggak ada, ya? Ke mana dia?" Azzahra terlihat bingung karena putrinya tidak ada di toilet.
" Eh, Mbak, Mbak. Maaf mau tanya, selain di sini toiletnya ada di sebelah mana lagi, ya?" tanya Azzahra bertanya kenapa orang yang menggunakan seragam gedung itu yang dia temui setelah keluar dari toilet.
" Ada di sebelah kiri gedung, Bu. Tapi kebetulan di sana sedang ada kerusakan, sementara yang ini saja yang dipakai," sahut petugas itu.
" Oh begitu, ya? Ya sudah, terima kasih ya, Mbak." Azzahra tidak lupa mengucapkan terima kasih atas informasi yang diberikan oleh petugas tadi.
" Sama-sama, Bu." Petugas itu kemudian berjalan menjauh dari Azzahra.
" Rayya ke mana, sih?" Azzahra kemudian mencoba menghubungi ponsel Rayya, namun panggilannya tidak juga diangkat oleh putrinya itu.
" Terakhir lihat Mas Rama di mana tadi?"
__ADS_1
Suara seseorang terdengar saat Azzahra melangkahkan kaki menjauh dari ruang toilet.
" Tadi kalau tidak salah Mas Rama itu pergi ke arah toilet, tapi setelah itu saya nggak melihat lagi." Satu orang lainnya menyahuti perkataan orang yang pertama.
" Acara akan segera dimulai, tapi Mas Rama menghilang seperti ini."
Azzahra yang tidak sengaja mendengar percakapan dua orang itu langsung membulatkan matanya saat mendengar jika Ramadhan menghilang.
" Rama menghilang? Rayya juga nggak tahu ada di mana. Ya Allah, apa jangan-jangan ..." Azzahra langsung dilanda rasa cemas saat bayangan buruk akan terjadi terhadap putrinya.
Azzahra bergegas ke arah dalam gedung untuk menemui Anindita. Dia takut jika Rayya saat ini sedang bersama dengan Ramadhan.
" Mbak Anin, Mbak apa Rama menghilang?" tanya Azzahra dengan tersengal saat menjumpai Anindita.
" I-iya, Ra. Apa kamu melihat Rama, Ra?" Anindita menduga jika Azzahra mengetahui keberadaan Ramadhan.
" Nggak, Mbak Anin. Bukan begitu." Azzahra dengan cepat menyangkal dugaan Anindita " Aku nggak melihat Rama, Mbak. Tapi ...."
" Tapi apa, Ra?"
" Rayya juga menghilang, Mbak. Rayya tadi berpamitan ingin ke toilet, tapi sudah lebih dari lima belas menit dia nggak kembali juga. Tadi aku mencari ke toilet tapi dia nggak ada di sana. Aku telepon juga ponselnya nggak diangkat. Aku takut kalau ..." Azzahra tidak berani mengatakan kalimat selanjutnya.
" Rama kabur bersama Rayya?" Anindita menafsirkan kalimat yang akan diucapkan Azzahra selanjutnya.
" Aku harap hal itu nggak terjadi, Mbak." Saat ini tangan Azzahra dan Anindita saling menggenggam satu sama lain menampakkan jika mereka saling mencemaskan putra-putri mereka.
***
Ramadhan memarkirkan mobilnya di dekat taman kota. Dia tidak memilih untuk keluar dari mobilnya, dan mesin mobilnya pun dibiarkan untuk tetap menyala.
" Kak Rama kenapa membawa aku ke sini? Acara pertunangan Kakak akan segera dimulai sebaiknya kita kembali saja, Kak." Rayya meminta agar Ramadhan membawanya kembali ke gedung.
" Aku tidak perduli dengan pertunangan itu, Rayya!" tegas Ramadhan.
Tentu saja apa yang dikatakan oleh Ramadhan. membuat Rayya terperanjat. Bagaimana mungkin Ramadhan mengatakan tidak perduli dengan pertunangan itu, padahal dia sendiri yang mengadakan acara itu.
" Bukan aku yang menginginkan pertunangan itu."
Kembali perkataan Ramadhan membuat Rayya terbelalak.
" Kak Rama tidak menginginkan pertunangan itu? Lalu kenapa Kak Rama mau melaksanakan acara pertunangan jika Kak Rama tidak menginginkannya?"
" Aku frustasi, Rayya!" suara Ramadhan terdengar menyentak.
Rayya menarik nafas perlahan mendengar kalimat Ramadhan yang terdengar kencang di telinganya.
" Kak Rama frustasi karena tidak bisa mendapatkan Kak Kayla, kan?" Rayya menduga jika orang yang membuat Ramadhan frustasi adalah Kayla, wanita yang begitu dicintai Ramadhan sejak kecil, seperti dirinya yang menyukai Ramadhan sejak dia baru berusia delapan tahun.
Ramadhan langsung menolehkan ke arah Rayya saat wanita itu menyebut nama Kayla.
" Kamu masih nggak mengerti juga, Rayya. Kamulah yang membuat aku frustasi!"
Rayya kembali membelalakkan matanya saat Ramadhan mengatakan jika dialah yang membuat Ramadhan frustasi.
" M-maksud Kak Rama?"
" Kamu nggak kasih aku kesempatan, tapi kamu bisa memberi kesempatan pada pria lain. Aku serius dengan niat aku, Rayya! Kalau aku nggak serius, nggak mungkin aku rela capek-capek pulang pergi Jakarta-Roma! Nggak mungkin juga aku capek-capek langsung menyusul kamu ke Bogor!"
" Aku diminta kakek kamu untuk kembali ke Jakarta dan memberi waktu untuk kamu menenangkan diri kamu, tapi kamu malah bersenang-senang dengan pria lain!"
" Kamu selalu ketus jika bicara dengan aku tapi kamu bisa tersenyum bahkan tertawa saat bersama pria lain. Kamu pikir aku nggak kecewa dengan sikap kamu itu?!" Ramadhan seolah menyalahkan Rayya atas kekacauan yang terjadi dengan dirinya selama dua tahun ini, bahkan dia harus menjalani hubungan yang hambar dengan Farah.
Sementara Rayya langsung berurai air mata mendengar tuduhan Ramadhan yang mengatakan seolah-olah pria itulah yang paling menderita selama ini.
__ADS_1
" Kamu sudah membuat pikiran aku kacau selama ini, Rayya.!" Ramadhan bahkan memukul stir mobilnya untuk meluapkan rasa kesal.
" Aku mau pulang, tolong buka pintunya, Kak." Rayya yang merasa terluka mendengar kata-kata Ramadhan memilih untuk turun dan mencari taksi yang bisa mengantarnya pulang.
Ramadhan yang tersadar mendengar kata-kata Rayya yang diucapkan wanita itu dengan terisak seketika tersadar.
" Rayya, Rayya, A-aku minta maaf. A-aku nggak bermaksud menyakiti kamu." Ramadhan langsung menyampaikan permintaan maafnya.
" Tolong buka pintunya, Aku mau pulang!" Rayya sudah memegang handle pintu mobil Ramadhan.
" Rayya ...."
" Kalau Kak Rama menganggap Rayya lah yang bersalah dengan apa yang terjadi pada diri Kakak. Rayya minta maaf. Tolong buka pintunya, Kak." Rayya semakin tak kuasa untuk menghentikan tangisnya.
" Rayya ..." Ramadhan seolah tidak perduli dengan apa yang dia lakukan hingga kini dia menarik lengan Rayya sehingga tubuh Rayya tertarik ke arahnya dan Ramadhan pun akhirnya memeluk tubuh Rayya. " Maafkan aku, Rayya. Akulah yang bodoh, akulah yang tidak punya perasaan hingga kamu jadi seperti ini." Ramadhan memeluk erat tubuh Rayya.
Rayya yang merasakan tubuhnya kini berada dalam pelukan tubuh Ramadhan langsung tersentak kaget. Diapun langsung mendorong tubuh Ramadhan agar melepaskan pelukannya.
" Astaghfirullahal adzim!! Kak Rama ini apa-apaan? Kita ini bukan mahram!!" geram Rayya yang terlihat sangat marah dengan tindakan Ramadhan yang dianggapnya keterlaluan apalagi dilakukan kepada dia yang dikenal sangat taat dalam beragama.
" Maaf, Rayya. Kakak tidak bermaksud seperti itu."
" Kak Rama kembalilah ke acara pertunangan Kakak! Aku mau pulang!" Rayya menyeka air mata yang terus mengalir terus di pipinya.
" Aku nggak akan melanjutkan pertunangan itu!"
" Kak Rama jangan berbuat nekat! Kak Rama itu laki-laki, jangan jadi pengecut!"
" Aku akan mengatakan pada Farah jika aku akan membatalkan acara pertunangan ini karena aku masih belum bisa mencintainya. Dan aku akan melakukan klarifikasi di hadapan media, jika bukan Farah wanita yang aku inginkan."
Rayya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Ramadhan.
" Kak Rama benar-benar laki-laki yang tidak berperasaan! Ternyata aku salah mengagumi Kak Rama selama ini! Cepat buka pintunya atau aku akan telepon Daddy dan aku akan mengatakan jika Kak Rama menculik aku?!" ancam Rayya.
" Apa kau dan pria Italia itu sudah melangkah ke hubungan yang serius?"
" Tidak ada hubungannya dengan Kak Luigi! Sikap Kak Rama lah yang sudah membuat aku kecewa!"
" Aku mencintaimu, Rayya. Aku menginginkan kamu menjadi milikku. Apa kamu pikir hal itu adalah hal yang salah?!" Suara Ramadhan terdegar sangat memilukan.
" Semua sudah terlambat, Kak! Kak Rama sudah memilih bertunangan dengan Kak Farah dan aku juga tidak ingin mengecewakan Kak Luigi yang selama ini sangat mencintai aku dengan sungguh-sungguh."
" Apa kita benar-benar sudah tidak bisa bersama, Rayya? Aku yakin kamu masih mencintaiku. Matamu tidak bisa membohongi perasaanmu, Rayya."
Rayya menggelengkan kepala.
" Aku sudah menutup rapat-rapat lembaran cinta aku terhadap Kak Rama sejak dua tahun lalu. Dan aku tidak akan membukanya kembali." Dengan suara tercekat Rayya mencoba menampik perasaannya.
***
Ricky, Anindita, Azzahra dan Farah saat ini sedang menatap layar monitor untuk melihat hasil rekaman CCTV tentang apa yang terjadi di depan toilet. Mereka melihat Ramadhan yang masuk ke dalam toilet, sekitar lima menit kemudian terlihat wanita yang adalah Rayya pun berjalan ke arah toilet. Setelah itu terlihat jika Ramadhan dan Rayya saling terperanjat dengan pertemuan mereka. Tak lama Rayya pun masuk ke dalam toilet namun ternyata Ramadhan tidak bergerak dari sana. Ramadhan terlihat seperti sedang menunggu Rayya. Dan benar saja, setelah Rayya keluar dari toilet, terlihat Ramadhan langsung menarik tangan Rayya ke arah pintu samping gedung tersebut.
" Astagfirullahal adzim, Rama ...."
" Ya Allah, Rayya ...."
Anindita dan Azzahra nampak syok dengan apa yang mereka lihat di rekaman CCTV itu. Sedangkan Farah langsung mengepalkan tangannya karena merasa kesal dengan tindakan yang dilakukan oleh Ramadhan dengan kabur dari acara pertunangan, apalagi saat dia tahu Rayya lah yang menyebabkan calon tunangannya itu kabur. Sementara Ricky langsung mengeratkan giginya hingga rahangnya mengeras karena kembali perbuatan Ramadhan telah membuat malu nama keluarganya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ....
Happy Reading❤️